drh. Chaidir, MM | Madah Poedjangga | SESUNGGUHNYA aku harus menjaga jarak personal dengan pemilik media, dimana aku bertahun-tahun jadi penulis tetap untuk sebuah rubrik kolom seperti yang ada di tangan pembaca hari ini. Hal itu semata hanya untuk menjaga objektivitas, tak lebih dan tak kurang. Tapi dinding sastra Madah Poedjangga mega
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Madah Poedjangga

Oleh : drh.chaidir, MM

SESUNGGUHNYA aku harus menjaga jarak personal dengan pemilik media, dimana aku bertahun-tahun jadi penulis tetap untuk sebuah rubrik kolom seperti yang ada di tangan pembaca hari ini. Hal itu semata hanya untuk menjaga objektivitas, tak lebih dan tak kurang. Tapi dinding sastra Madah Poedjangga megah yang dipublikasikan Sabtu (17/10) dua malam lalu di halaman Graha Pena, Pekanbaru, memahat pesan yang sangat jelas: Rida K Liamsi, pemilik bisnis media itu, harus kuakui tak pernah kehabisan gagasan cemerlang mengangkat teras batang terendam marwah kesusastraan.
Barangkali ada yang memandang, dinding Madah Poedjangga itu hanyalah sebuah artefak kebudayaan Melayu dari sekian banyak artefak yang berserakan di negeri pujangga Laut Sakti Rantau Bertuah ini. Tapi di tengah kalbu kesusastraan yang nyaris berdebu, ketika satu semi satu atribut kesusastraan seakan tak berdaya dan tak bermaya dihimpit kekuatan-kekuatan pragmatis politik dan ekonomi yang tak berbelas kasihan, dinding Madah Poedjangga itu hadir menggugah jiwa.
Ada sesuatu yang terasa bangkit bergelora dalam sanubari. Dinding Madah Poedjangga yang dibangun dengan penuh impian itu, bukan sembarang dinding, apatah lagi dinding ini dibuat atas prakarsa pribadi yang tumbuh dari lubuk hati sebagai tanda cinta. Tak ada sentuhan birokrasi yang sering membuat para sastrawan tak memberi sepenuh hati. Peresmian dinding Madah Poedjangga yang dihadiri pula oleh "Presiden Penyair Indonesia" Sutardji Calzoum Bachri, memberi kesan tersendiri.
Nun di sana di Selat Karimata, kita membaca bagaimana bangganya masyarakat Belitung memiliki Museum Kata yang mendunia, yang digagas oleh sastrawan Andrea Hirata. Museum tersebut telah membangkitkan marwah anak-anak negeri untuk berkarya di bidang literasi. Dalam skala berbeda, dinding Madah Poedjangga telah pula membuka mata hati kita, bahwa daerah ini sesungguhnya memiliki kebanggaan intelektual, tak melulu hanya kebanggaan terhadap hasil tambang dan sumber daya alam lainnya, yang justru sering membuat malu.
Rida K Liamsi tak habis-habisnya memberi simbol bagi eksistensi daerah ini sebagai daerah pujangga. Tak terbilang agenda kesusastraan di daerah ini yang lahir dari gagasan biriliannya. Ridalah yang membuat negeri pujangga ini tetap berkelas dan tetap berada dalam orbit. Kelapangan kehidupan sosial tak membuat sanubarinya majal, sebaliknya memudahkannya menyediakan dan memfasilitasi berbagai panggung bagi sastrawan-sastrawan di daerah yang tak pernah tahu bagaimana harus mengemas karya-karya emasnya kecuali melalui cara-cara konvensional. Rida telah membuat banyak panggung yang membuat daerah ini tetap mampu menegakkan kepala, tak hanya tenggelam dalam romantisme masa silam.
Rida tahu bagaimana mendekorasi gedung jangkung Graha Pena miliknya dengan keramahan tak biasa ketika secara tak terduga menghadirkan sebuah laman tempat sastrawan anak negeri bermain merangkai metafora dan memberi makna pada kata-kata. Dinding Madah Poedjangga ini agaknya akan segera menahbiskan diri menjadi landmark sastra seperti dulu ketika halaman Cemara Tujuh, di kampus UGM, Bulaksumur Yogyakarta terkenal sebagai tempat bergengsi sastrawan terbilang baca puisi. Dinding sastra Madah Poedjangga diharap menjadi kutub sastra tidak hanya di Negeri Pujangga ini saja tapi juga di nusantara dan di negeri semenanjung. Cerita tentang dinding sastra Madah Poedjangga ini telah bendang ke langit dan pasti akan jadi buah bibir, apalagi perhelatan Anugerah Sagang pun akan diselenggarakan di tempat ini. Syabas Pak Rida.

kolom - Riau Pos 19 Oktober 2015
Tulisan ini sudah di baca 259 kali
sejak tanggal 19-10-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat