drh. Chaidir, MM | Kehilangan Muka | KABUT asap menyelimuti kabut asap menelanjangi. Letih mengeluh dan memberungut berkepanjangan, masyarakat korban kabut asap memperolok-olok keadaan di media sosial dengan menyebut kabut asap tahun 2015 sebagai kabut asap yang serba
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kehilangan Muka

Oleh : drh.chaidir, MM

KABUT asap menyelimuti kabut asap menelanjangi. Letih mengeluh dan memberungut berkepanjangan, masyarakat korban kabut asap memperolok-olok keadaan di media sosial dengan menyebut kabut asap tahun 2015 sebagai kabut asap yang serba "ter". Terlama peristiwanya, terhebat kebakarannya, terparah akibatnya, terbanyak korbannya terluas penyebarannya, terbesar kerugiannya, dan terlambat penanggulangannya. Ada pula yang menambah, terkonyol komentarnya, terlebai pencitraannya. Terlalu.
Tapi jujur, kabut asap tahun ini telah menelanjangi kita, membuat banyak pihak kehilangan muka. Rasanya, presiden dan rakyat sama-sama kehilangan muka. Kehilangan SIM atau KTP bisa dilaporkan ke Polsek setempat, dan kemudian segera dibuatkan duplikatnya. Tapi kehilangan muka mau lapor kemana.
Kabut asap kali ini mengirim banyak pesan. Pesan pertama, ternyata belum ada cara lain yang lebih mangkus untuk mengatasinya kecuali hujan lebat, itu pun harus seperti makan obat, tiga kali sehari selama empat hari berturut-turut. Hujan lebat satu kali saja ternyata tak memadai. Pesan kedua, manusia ternyata boleh optimis tapi tak boleh sombong. Dalam musibah kabut asap tahun lalu, petinggi negeri kita menjamin, tahun 2015 tak ada lagi asap. Kenyataannya meleset.
Pesan ketiga, membuat kita malu kita semua, kita ternyata tak mau (atau tak mampu) belajar sehingga kita ternyata tak lebih hebat dari keledai. Asap telah membuat kita terlihat lambat dan bodoh. Konyolnya, asap ternyata berhasil memancing para petinggi kita untuk memanfaatkannya sebagai pencitraan. Asap membuat banyak orang asbun, menyebut kabut asap belum berbahaya, padahal alat monitor ISPU telah memberi sinyal akurat, berbahaya. Asap juga berhasil mempertontonkan rasa empati para petinggi ternyata sangat tipis. Asap juga memperlihatkan banyak yang menangguk di air keruh. Kabut asap ternyata juga mempermalukan anggota DPR dan DPD kita dari dapil yang bersangkutan, membuat mereka salah tingkah karena tak tahu harus bicara apa atau berbuat apa. Kabut asap ini tak tahu adat, tega-teganya menelanjangi kita semua, sehingga kelihatan belangnya.
Pesan keempat, asap ternyata (untuk kesekian kalinya) bisa membuat malu bangsa. Dan ini membuat kebakaran jenggot para petinggi, membuat mereka seperti cacing kepanasan, sehingga berada dalam kondisi psikologis guilty feeling, perasaan berdosa. Dan itu membuat mereka menjadi reaktif dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang tak perlu. Kadang di sini kita merasa kasihan.
Pesan kelima, kita ternyata pelupa. Setiap tahun ketika kabut asap menyerang, hampir semua orang patut-patut dari pusat sampai ke daerah selalu bicara keras, "tangkap pembakar lahan", "penjarakan pembakar lahan", "hukum berat mereka para pembakar lahan", "cabut izin perusahaan pembakar lahan". Para pembakar lahan ternyata juga pelupa.
Pesan keenam, dan ini agak serius, asap telah menelanjangi kita bersama bahwa kita ternyata adalah masyarakat omdo. Kepedulian kita ternyata sangat rendah. Semua bergantung pada upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan institusi lainnya seperti TNI dan Polri. Sikap manja ini adalah sebagai akibat dari dampak program yang cenderung menina-bobokkan, tidak membangun kemandirian, sehingga masyarakat terbiasa menunggu uluran tangan pemerintah. seperti misalnya program bansos, BLT, rumah gratis, pelayanan serba gratis berupa kartu Indonesia sehat, kartu Indonesia cerdas, kartu bebas ini itu dan sebagainya. Kartu bebas asap, jangan, itu cemooh. Tapi KBO (Kartu Bebas Oksigen), mungkin layak.

kolom - Riau Pos 12 Oktober 2015
Tulisan ini sudah di baca 267 kali
sejak tanggal 12-10-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat