drh. Chaidir, MM | Dirgahayu TNI
 | HARI ini, 5 Oktober, TNI yang kita banggakan merayakan HUT ke-70. Dan tema yang dipilih adalah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dirgahayu TNI

Oleh : drh.chaidir, MM

HARI ini, 5 Oktober, TNI yang kita banggakan merayakan HUT ke-70. Dan tema yang dipilih adalah "Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat, Profesional, Siap Mewujudkan Indonesia Yang berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian." Sebuah tema yang singkat namun sarat dengan pesan. Bila dicermati kata demi kata, tema tersebut tegas menyatakan, pertama, TNI dan rakyat merupakan satu kesatuan tak terpisahkan; kedua, bersama rakyatlah TNI merasa kuat dan hebat; dan ketiga agar tidak malu-maluin rakyat sebagai pemilik sah, TNI bertekad untuk menjadi tentara yang professional, sejalan dengan perkembangan zaman.
Di atas segalanya itu, dengan segala risiko, TNI bersama rakyat siap sedia mewujudkan bangsa Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Tujuan itu jelas sebuah impian kini dan masa depan. Sebuah impian dahsyat yang harus diwujudkan dengan segala upaya setahap demi setahap. Tak ada yang bisa menyangkal, secara politik, bangsa Indonesia sudah berdaulat sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tapi secara ekonomi, bangsa kita belum berdaulat. Indikasinya jelas, seperti dalil Pareto, 80% rakyat Indonesia hanya menguasai 20% kekayaan ekonomi kita; 80% dari kekayaan itu justru dikuasai oleh sekitar 20% rakyat yang tergabung dalam konglomerasi baik nasional maupun multinasional.
Demokrasi ekonomi belum membuat rakyat kita mandiri. Justru kekuatan-kekuatan ekonomi dunia telah masuk ke dapur kita sehingga sumber daya alam kita yang tak terbarukan seperti minyak bumi, gas alam, emas, nikel, timah, dan sebagainya yang melimpah ruah, hanya sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan oleh rakyat kita, sebagian besar diangkut ke luar negeri ke negara asing pemodal. Nilai mata uang kita, rupiah pun terpuruk karena diukur dengan dolar Amerika.
Terwujudnya bangsa Indonesia yang berkepribadian, adalah masalah lain yang perlu menjadi renungan kita bersama. Perubahan cepat dunia yang terjadi telah menyebabkan masyarakat kehilangan nilai-nilai. Budaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, budaya instan, telah membentuk masyarakat anomi, seperti disebut sosiolog Prancis Emile Durkheim; sebuah masyarakat yang kehilangan pegangan nilai-nilai. Kenyataan yang dihadapi rupanya tak sesuai dengan nilai-nilai tradisi yang dianut.
Kita salut dengan transformasi internal yang dilakukan TNI. Dalam mengemban tugas yang demikian berat, TNI kelihatannya ingin mengubah mindset kesatuannya membentuk tentara yang hebat (great), tak lagi sekedar bagus (good). Ini agaknya sejalan dengan perubahan paradigma kepemimpinan level 5-nya Jim Collins seperti ditulis dalam bukunya "Good To Great."
Tantangan tersbesar yang dihadapi oleh TNI dewasa ini agaknya bukan lagi perang konvensional Operasi Militer untuk Perang seperti menghadapi agresi kekuatan bersenjata negara lain terhadap kedaulatan Negara kita, melainkan perang asimetris yang lebih bersifat pelan-pelan karena tidak mencakup perang bersenjata. Perang itu adalah perang dalam dimensi ekonomi, sosial, dan budaya, yang dalam perspektif TNI disebut Operasi Militer Selain Perang. Termasuklah di sini, seperti diamanatkan UU no 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, antara membantu tugas pemerintahan di daerah dalam menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan.
Ke depan, tanpa mengurangi kewaspadaan kita terhadap agresi bersenjata, tugas tentara berupa Operasi Militer selain Perang, terutama dalam penanggulangan bencana alam, mungkin akan lebih banyak. Dan TNI tentu harus bahu membahu dengan rakyat yang mencintainya. Rakyat terlatih agaknya segera perlu diwujudkan. Dirgahayu TNI.

kolom - Riau Pos 5 Oktober 2015
Tulisan ini sudah di baca 266 kali
sejak tanggal 05-10-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat