drh. Chaidir, MM | Kapsul Waktu | GERANGAN apakah makhluk yang bernama
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kapsul Waktu

Oleh : drh.chaidir, MM

GERANGAN apakah makhluk yang bernama "Kapsul Waktu" ini? Bila dalam hati sidang pembaca bertanya demikian, berarti kita senasib sepenanggungan. Ketika saya diminta untuk menjadi salah seorang narasumber dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Panitia Daerah Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Riau, pertanyaan tersebut adalah yang pertama muncul dalam pikiran saya.
Singkat cerita, kapsul waktu itu berwujud sebuah tabung yang terbuat dari aluminium, bukan gelatine seperti kapsul obat umumnya. Kapsul itu diisi dengan selembar kertas yang bertulis tujuh butir impian masyarakat setiap provinsi tujuh puluh tahun ke depan. Kapsul Waktu setiap provinsi dikumpulkan oleh Panitia Nasional secara marathon dalam suatu ekspedisi berawal dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, dan seterusnya sampai Papua. Ekspedisi sudah dimulai oleh Presiden Jokowi di Kilometer Nol Indonesia di Pulau We, Sabang bulan Maret 2015 lalu.
Singkat cerita lagi, 34 kapsul dari 34 provinsi ditambah dengan satu kapsul impian presiden ke-7 Republik Indonesia (tentulah Presiden Jokowi), akan ditempatkan dalam sebuah monumen khusus yang dibangun untuk itu di Merauke, Papua. Monumen yang berisi 35 kapsul waktu tersebut dibuka kelak tahun 2085 oleh anak cucu kita. Tahun 2085 adalah 70 tahun kemudian dihitung dari 70 tahun peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun 2015.
Sangat kecil kemungkinan (atau bahkan impossible) bagi personil-personil yang bertungkus lumus menyiapkan kapsul waktu tersebut bisa menyaksikan pembukaan monumen kapsul waktu di Merauke pada tahun 2085. Sebab, bila anggota tim perumus impian masing-masing provinsi tersebut saat ini rata-rata berusia 40-an tahun, maka pada tahun 2085 akan berusia 110-an tahun. Bila kita berasumsi setiap presiden Indonesia berbakti selama dua periode (10 tahun), maka monumen kapsul waktu tersebut akan dibuka oleh presiden ke-7 setelah Presiden Jokowi.
Pemerintahan Presiden Jokowi kelihatannya ingin membangun sebuah gerakan serentak bangsa Indonesia dalam tagline "AYO KERJA". Alasannya sederhana. Indonesia yang kaya raya dengan sumber daya alam tak akan bisa menyejahterakan bila rakyatnya hanya berpangku tangan. Merasa nyaman bekerja dengan cara-cara lama, miskin inovasi, tak akan bisa meraih impian masa depan negeri yang masyarakatnya sejahtera, aman dan makmur.
Untuk apa Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 itu? Jawabannya memang bisa pendek bisa panjang, bisa skeptis bisa optimis. Tergantung dari sudut mana memandangnya. Tanggapan mantan Gubernur Riau Saleh Djasit dalam diskusi publik tersebut agaknya cukup mewakili. Bila Kapsul Waktu 2085 itu semata hanya diposisikan sebagai sebuah impian, maka untuk mewujudkannya cukup dengan meniup lampu aladin, sim salabim abrakadabra, jadi. Maknanya, itu hanyalah sebuah pepesan kosong, tak ada arti apa-apa.
Tapi bila impian itu adalah sesuatu yang hendak diwujudkan, maka impian itu harus diposisikan sebagai visi jangka panjang masyarakat. Dan karena visi maka harus diuraikan dan diwujudkan secara bertahap, tahun demi tahun atau periode-demi periode. Secara spesifik mantan Gubri Saleh Djasit menyebut, Kapsul Waktu 2085 Riau itu barangkali berwujud Visi Riau 2020 yang diperbaharui menjadi, "Terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu yang agamis sejahtera lahir batin di Indonesia." Rasanya tidak berlebihan bila kita memimpikan Riau sebagai sebuah negeri yang baldatun toyyibatun warabbun ghafur, sebuah negeri yang subur, makmur, adil dan aman.

kolom - Riau Pos 28 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 268 kali
sejak tanggal 28-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat