drh. Chaidir, MM | Bareskrim Mengayun Langkah | BARESKRIM turunkan 70 Penyidik. POLRI bekerja keras untuk menindak para pembakar lahan (Riau Pos, Ahad 20/9).  Penyidik tersebut dikerahkan untuk mengusut 132 kasus yang saat ini ditangani Bareskrim dan sejumlah Polda.  Mereka diminta terjun langsung ke hutan-hutan dan lahan yang terbakar untuk menc
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bareskrim Mengayun Langkah

Oleh : drh.chaidir, MM

BARESKRIM turunkan 70 Penyidik. POLRI bekerja keras untuk menindak para pembakar lahan (Riau Pos, Ahad 20/9). Penyidik tersebut dikerahkan untuk mengusut 132 kasus yang saat ini ditangani Bareskrim dan sejumlah Polda. Mereka diminta terjun langsung ke hutan-hutan dan lahan yang terbakar untuk mencari bukti.
Banyak yang menyambut baik langkah Bareskrim POLRI ini. Sebab, berulangnya setiap tahun kabut asap yang menyengsarakan ini, khususnya di Riau, dipahami oleh masyarakat akibat lemahnya penegakan hukum. Di hutan-hutan belantara Riau itu seperti berlaku hukum rimba, siapa kuat dia menang. Para pelaku dan sponsornya tak takut hukum sama sekali. Setiap tahun mereka membabat hutan secara membabi-buta seperti daerah itu tak bertuan.
Tapi kali ini para penebang pohon dan perambah liar, dan juga pembakar lahan itu kelihatannya akan kena batunya. Presiden Jokowi beserta seluruh perangkatnya, termasuk alat negara, tentu tidak main-main. Mereka mempertaruhkan kredibilitasnya. Penebangan liar, perambahan liar, dan pembakaran hutan dan lahan, mestinya bukanlah kejahatan ekstra canggih yang sangat sulit disiasati. Kejahatan itu sebenarnya kriminal biasa.
Hanya saja, untuk diingat bersama, kejahatan penebangan liar, perambahan liar dan pembakaran itu, persis seperti kabut asap yang menyesakkan nafas penduduk; terlihat, gentayangan di udara membatasi jarak pandang, terbau menyengat hidung, terasa perih di mata, tapi tak terpegang dan tak terusir. Kalau bisa digantang tentulah tak terkira jumlahnya.
Riau pernah memiliki seorang Kapolda yang garang, Brigjen Pol Sutjiptadi namanya (bertugas di Riau akhir 2006 – Mei 2008, lebih kurang satu tahun enam bulan). Ketika dia sedang menjabat, pemain illegal logging di daerah ini tiarap sejadi-jadinya sampai rata dengan tanah. Sutjiptadi berani mengambil langkah tidak populer, memberantas illegal logging tak pandang bulu. Sebagai Kapolda di daerah dengan tingkat pembalakan hutan terstruktur dan luar biasa dahsyatnya, ia bertanggungjawab melindungi hutan dan kerugian besar masyarakat dan negara. "Saya ditugaskan ke sini lillahi ta’ala untuk selamatkan hutan Riau. Sedih hati saya melihat hutan Riau luluh lantak seperti sekarang ini. Akibat dari pembalakan liar, masyarakat yang harus menanggungnya." Ujar Sutjiptadi dalam satu kesempatan.
Sutjiptadi tidak basa-basi. Pada 2007, Polda Riau bergerak cepat; memeriksa puluhan saksi, menyita dan mengamankan 133 eksavator (alat berat), menetapkan sekitar 200 tersangka, Menangkap 90 truk dan menyita 2 juta meter kubik kayu log tanpa dokumen resmi. Jumlah kasus yang terekpos di media ketika itu mencapai 123 kasus (nusantaranews.wordpress.com; www.google.co.id).
Dengan keberaniannya, Sutjiptadi mendapat dukungan luas dari kalangan LSM, tokoh masyarakat Riau, politisi dan praktisi hukum di Riau. Sebaliknya di kalangan mafia illegal logging), Sutjiptadi dianggap momok yang menakutkan. Tapi yang takut tidak hanya mafia illegal logging, asap pun kelihatannya takut dan menghilang di tahun 2007.
Era Kapolda Sutjiptadi yang bergemuruh dalam pemberantasan illegal logging sudah lama berlalu. Beberapa kasus illegal logging dihentikan penyidikannya (SP3) karena tidak cukup bukti. Sekarang, masyarakat Riau pencinta udara tanpa asap senang hati dengan kedatangan penyidik dari Bareskrim. Selamat datang. Hati-hati melangkah, sebab di rawa-rawa hutan gambut Riau itu ada lipan, kala jengking, ular berbisa bahkan buaya. Semoga sukses.

kolom - Riau Pos 21 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 494 kali
sejak tanggal 21-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat