drh. Chaidir, MM | Sepandai-pandai Tupai Melompat | LUPAKAN sejenak isu Bank Century. Lupakan juga sementara semua kasus KKN atau dugaan KKN Kepala Daerah atau mantan Kepala Daerah. Isu itu kecil, tak ada apa-apanya. Apalagi kemudian isu-kontra-isu, demo-kontra-demo, opini-kontra-opini menjadi modus dan menghabiskan energi kita. Pokok masalahnya buka
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sepandai-pandai Tupai Melompat

Oleh : drh.chaidir, MM

LUPAKAN sejenak isu Bank Century. Lupakan juga sementara semua kasus KKN atau dugaan KKN Kepala Daerah atau mantan Kepala Daerah. Isu itu kecil, tak ada apa-apanya. Apalagi kemudian isu-kontra-isu, demo-kontra-demo, opini-kontra-opini menjadi modus dan menghabiskan energi kita. Pokok masalahnya bukan bahkan semakin terang benderang, tapi semakin kabur, sayup-sayup, lamat-lamat.

Menyerah? Tidak. Masalahnya, media massa kita sekarang punya mainan baru yang lebih heboh dan mendemamkan. Cobalah pasang mata dan telinga menyaksikan dongeng Gayus "Ali Baba" Tambunan. Kalaulah benar apa yang disinyalir oleh Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III DPR-RI, bahwa permasalahan pajak melibatkan sindikat mafia yang mengakibatkan kebocoran pajak mencapai ratusan triliun rupiah, dengan Gayus Tambunan sebagai salah seorang pemeran utamanya, tentu ini sebuah kisah yang fantastis.

Kita tidak lagi berada di zaman Ali Baba yang demikian mudah menemukan harta karun di sebuah gua dan kemudian menjadi kaya raya. Kita hidup di zaman modern yang serba canggih. Tak mungkin lagi ada harta karun yang tak terdeteksi. Mana ada lagi gua yang luput dari ekspedisi manusia? Jangankan harta yang berada di permukaan bumi, kekayaan tambang yang berada di perut bumi pun tak ada yang luput dari alat penginderaan jarak jauh. Pengarang Jules Verne agaknya ikut membantu membangkitkan imajinasi manusia terhadap kekayaan di perut bumi ini.

Teknologi telekomunikasi juga berkembang sangat cepat. Sebuah produk telekomunikasi yang canggih hari ini, segera menjadi kuno beberapa hari kemudian. Kita membaca di media massa, betapa teknologi penyadapan juga berkembang amat pesat. Rekaman pembicaraan melalui telepon genggam diperdengarkan vulgar. Benar kata orang, kita ibarat hidup dalam sebuah rumah yang berdinding kaca tembus pandang, sehingga apapun yang kita lakukan dengan mudah dapat dilihat dari luar, tak ada yang bisa disembunyikan. Berbohong? Ada mesin pendeteksi kebohongan. Dan mesin tak bisa berbohong, kata kelompok musik Project Pop. Oleh karena itu heran, ada saja yang masih berani main-main. Syaraf takutnya mungkin sudah putus.

Tapi begitulah manusia. Secanggih-canggih mesin lebih canggih lagi otak manusia. Sudah menjadi pemeo, maling selalu lebih pintar. Kalau tak lebih pintar, tak kan ada lagi orang yang kemalingan. Untuk menghibur diri kita hanya bisa mengatakan "sepandai-pandai tupai melompat, sekali jatuh jua." Peribahasa inilah agaknya yang mengena pada Gayus Tambunan. Kita tentu tidak mengenyampingkan kerja keras aparat penegak hukum dalam membongkar kasus manipulasi pajak ini, tapi faktor kebetulan juga tak bisa dipungkiri. Beberapa key person secara kebetulan tersandung masalah sehingga gerbang gunung es permasalahan mulai terkuak sedikit-demi-sedikit.

Kita mungkin terkejut membaca headline harian Riau Pos, 3 April 2010, yang memberitakan 149 perusahaan besar disinyalir terkait praktik "hanky-panky". Praktik yang tak jujur ini menyangkut perhitungan pajak yang penuh tipu daya, sarat konspirasi rendahan yang tak patut. Tipu lawan, tipu kawan. Beberapa sumber menyebutkan dari 149 perusahaan tersebut Gayus bisa meraup hampir 200 milyar rupiah.

Urut dada, ambil iktibar. Bangsa kita sedang diuji.

kolom - Riau Pos 5 April 2010
Tulisan ini sudah di baca 1343 kali
sejak tanggal 05-04-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat