drh. Chaidir, MM | Jurus Rajawali  Ngepret | TAK ada hubungan apa-apa antara
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jurus Rajawali Ngepret

Oleh : drh.chaidir, MM

TAK ada hubungan apa-apa antara "Jurus Rajawali Ngepret" yang dipopulerkan oleh Menko Kemaritiman Rizal Ramli dengan "Kepret Dance" yang dipopulerkan oleh personel sebuah "boy band" Korea, Super Junior (SuJu) Band, pada Video Klip Mr. Simple dalam album terbarunya. Kepret Dance, begitu disebut, adalah sebuah gerakan goyang "mengepret", mengibas-ngibaskan tangan seperti memercikkan air.
Jurus Rajawali Ngepret made in Rizal Ramli, beda. Maknanya bisa lebih dari sekedar sebuah gerakan memercikkan air dengan tangan (Kepret menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti memercik). Sebab dalam berbagai pemberitaan media cetak konvensional dan media online, Jurus Rajawali Ngepret bisa diinterpretasikan secara lentur, sebagai tamparan, atau memukul, atau menempeleng; secara bebas bisa bermakna, "sikat", "libas", "bantai", "gampar" dan lain sebagainya yang bermakna sejenis dengan ungkapan tersebut. Rizal Ramli menyebut, "Ini jurus rajawali ngepret namanya. Ha-ha-ha..." katanya sebagaimana dikutip berbagai media. Ungkapan itu kemudian digunakan oleh Menko Rizal Ramli untuk memberi nama terhadap gebrakan tak pandang bulu yang dilakukannya.
Lebih jauh Jurus Rajawali Ngepret diartikannya untuk memberikan shock therapy. Dia menilai dibutuhkan cara yang out of the box untuk membenahi Indonesia. "Rajawali kan kukunya tajam. Dia biasa terbang di dunia bebas. Dia bawa angin dari luar yang lebih kuat. Ia bawa ke dalam, lalu ia kepret," kata Rizal (Tempo.Co). Rajawali memang burung perkasa yang terbang sendirian suka menantang badai. Dia menggunakan energi badai untuk terbang semakin tinggi. Tapi tidak pernah ada catatan, burung rajawali bisa terbang rendah lalu mengepret.
Tapi itu tak masalah, Rizal Ramli mungkin ingin membentuk pencitraan sebagai burung rajawali yang gagah perkasa itu. Sebab sekali ia masuk ke rimba belantara elit kekuasaan, yang tidak dapat tidak, sarat dengan kepentingan, dia harus mengepakkan sayap sekuat tenaga, atau kalau tidak dia akan terbenam dalam zona nyaman kekuasaan yang memabukkan. Pekerjaan-pekerjaan besar yang menjadi PR pemimpin bangsa untuk menghadirkan kesejahteraan yang dijanjikan memerlukan tidak hanya sekedar komitmen tapi lebih dari itu, yakni sebuah komitmen yang hebat (great commitment).
Revolusi mental sebagai tagline yang dipasang oleh pemerintahan Presiden Jokowi, sesungguhnya adalah sebuah harga mati terhadap pentingnya sebuah gerakan transformasi mental, mengubah mindset (pola pikir) elit pemerintahan. Dalam masyarakat kita yang paternalistik, keteladanan dalam perubahan mindset yang ditunjukkan oleh para pemimpin akan diikuti oleh seluruh jajaran di bawah.
Presiden Jokowi ingin mengubah kebiasaan business as usual (bekerja seperti yang sudah-sudah, apa adanya) dari seluruh perangkatnya ke sebuah budaya baru berpikir dan bekerja secara istimewa penuh dengan gagasan inovasi. Membongkar zona nyaman di lingkaran birokrasi yang berkelindan dengan lingkaran korporasi dengan membiarkan tumbuhnya zona nyaman baru, jelas mengkhianati perjuangan menyejahterakan rakyat. Gagasan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung misalnya, jelas mengada-ada. Gagasan itu memberi kesan hanya untuk kepentingan kelompok, bukan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat. Mafia yang membelit sehingga pelabuhan menyebabkan ekonomi biaya tinggi, mafia bisnis perminyakan dan energi, bisnis korporasi lainnya, kelihatannya memang harus dikepret dengan jurus Rajawali Ngepret Rizal Ramli. Presiden Jokowi kelihatannya sepaham.

kolom - Riau Pos 14 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 341 kali
sejak tanggal 14-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat