drh. Chaidir, MM | Festival Asap Dunia | INGIN merasakan sensasi bernafas dalam asap? Berkunjunglah ke Riau. Bila belum sempat tahun ini, jangan ragu, masih bisa tahun depan. Bila tahun depan juga belum berpeluang, tunggu tahun depannya lagi. Pokoknya selama hutan gambut dan hutan alam di Riau masih ada, musim kabut asap pasti menjadi agen
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Festival Asap Dunia

Oleh : drh.chaidir, MM

INGIN merasakan sensasi bernafas dalam asap? Berkunjunglah ke Riau. Bila belum sempat tahun ini, jangan ragu, masih bisa tahun depan. Bila tahun depan juga belum berpeluang, tunggu tahun depannya lagi. Pokoknya selama hutan gambut dan hutan alam di Riau masih ada, musim kabut asap pasti menjadi agenda tetap.
Dalam pergulatan dari waktu ke waktu melawan asap ini, penulis teringat seorang teman warga negara Singapura, John Seah namanya. Orangnya humoris dan sangat pragmatis. Menghadapi musuh, anda harus punya taktik, katanya pada suatu hari yang sudah sangat jauh, ketika penulis masih bermastautin di Batam, di era 1980-an. "If you canít beat them, joint them", katanya ringan. Maksudnya kira-kira, bila anda tidak bisa mengalahkan musuh anda, gabung saja dengan mereka.
Musuh yang bernama asap, nyatanya tak pernah bisa ditundukkan. Hari ini biang asap itu, api namanya, berhasil disikat habis, dipadamkan dengan menggunakan senjata water cannon, water bomb, dan hujan buatan. Puluhan helikopter dan ratusan serdadu dikerahkan. Presiden pun pernah ikut turun gunung. Api dan teman-temannya tak berkutik, ketakutan, apalagi semua petinggi berteriak talu bertalu, "tangkap pembakar lahan", "hukum berat mereka", "kejar perambah itu", "penjarakan biang pembakar", "cabut izinnya", dan berbagai ancaman lain. Pada awalnya pihak yang terhujat ketakutan, tapi lama-lama mereka kebal. Jurus pemerintah dari tahun ke tahun itu-itu saja, mudah ditebak, tak pernah sungguh-sungguh memotong tali aki perambah atau pembakar. Petak-umpet dan kucing-kucingan pun dimainkan. Selesaikah masalahnya? Tidak. Seakan mengejek, titik-titik api muncul lagi dan muncul lagi. Kalau esok hari belum, tunggu kemarau tahun depan.
Kata orang bijak, masalah bisa diubah jadi peluang. Musibah erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta pada 2006 dan 2010 lalu misalnya, kini kawasan itu menjadi objek wisata yang banyak digemari oleh turis lokal dan manca negara, terutama wisata yang memacu adrenalin, dengan menggunakan jeep terbuka turun naik menggerayangi lereng Merapi. Mengasikkan dan mendebarkan. Kini puluhan bahkan ratusan jeep terbuka disewakan untuk wisata petualangan tersebut.
Tapi wisata asap? Pernah dengar festival nyamuk? Orang bule kosmopolitan super modern yang hidup dari satu metropolitan ke metropolitan lain, dari satu kemewahan ke kemewahan lain, kadang suka aneh-aneh. Mereka bosan dengan kemapanan. Bayangkan, mereka ini mau-maunya mendatangi suatu tempat di pelosok hutan Amerika Latin sana hanya untuk suatu petualangan edan: sekedar mencoba bagaimana rasanya dikerubungi dan digigit nyamuk. Konyol kan?
Kabut asap sudah menjadi agenda tetap setiap tahun. Jadi, promosikan sajalah sebagai wisata kreatif. Misalnya festival asap dunia. Sekali setahun orang-orang bule super modern itu diundang ke Riau untuk menikmati petualangan, bagaimana rasanya hidup dalam kota yang penuh asap, jalan-jalan sore dengan menggunakan masker penutup hidung dengan mata perih. Atau pada saat kedatangan melalui udara, merasakan ketegangan karena pesawat yang ditumpangi harus berputar-putar terlebih dulu menunggu landasan kelihatan baru bisa mendarat. Atau ikut menyemprot api langsung di hutan-hutan gambut yang terbakar, laksana seorang "Rambo". Heboh kan? Apalagi kalau maskernya didesain seperti masker anti senjata kimia pasukan Amerika Serikat seperti yang kita tonton di televisi itu. Bayangkan bila anak-anak sekolah menggunakan masker seperti itu, maka Pekanbaru dan kota-kota lain di Riau akan terlihat seperti kota luar angkasa, kota planet antah berantah. Heboh.

kolom - Riau Pos 7 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 349 kali
sejak tanggal 07-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat