drh. Chaidir, MM | Virus Chao Pho | PEMIMPIN zaman kuno memiliki ciri sebagai berikut: orang yang paling kuat dan besar badannya, orang yang paling cerdik, dan orang yang paling berani. Orang tersebut tentulah orang yang paling berani berperang atau berkelahi, dan tak terkalahkan, baik antar sesama manusia maupun melawan binatang buas
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Virus Chao Pho

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMIMPIN zaman kuno memiliki ciri sebagai berikut: orang yang paling kuat dan besar badannya, orang yang paling cerdik, dan orang yang paling berani. Orang tersebut tentulah orang yang paling berani berperang atau berkelahi, dan tak terkalahkan, baik antar sesama manusia maupun melawan binatang buas.
Tapi sekarang kita tak lagi hidup di zaman kuda makan besi atau di zaman nenek makan keluang. Zaman sudah berganti zaman berzaman. Kita hidup di era modern, sebuah masyarakat pembelajaran (learning community) yang secara sederhana ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi informasi. Maka pemimpin yang akan kita pilih dalam pilkada serentak pada 9 Desember 2015 nanti, tidak lagi pemimpin seperti di zaman kuno itu. Secara ideal kita tentu ingin memilih seorang pemimpin yang memiliki ciri: good competency (kompetensi yang baik), best character (perangai terbaik) dan great commitment (komitmen yang hebat). Ketiga ciri inilah yang menjadi garansi bagi kesejahteraan rakyat.
Apakah dari seluruh kandidat yang diumumkan KPU Daerah ada yang memiliki ciri demikian? Tentu ada. Sebab, setiap kandidat sesungguhnya memiliki sifat baik dan buruk dalam dirinya. Tapi bila pemilih merasa tidak ada yang ideal demikian, pilihlah yang paling mendekati ciri-ciri tersebut, habis perkara.
Sesederhana itukah? Tidak. Thailand memberi pelajaran dengan munculnya fenomena politik "Chao Pho" di negeri Gajah Putih tersebut. Istilah chao pho berarti "Bapak Pelindung". Sebuah realitas dalam kehidupan politik di Thailand, terutama pasca demokratisasi tahun 1973, sangat menarik untuk dicermati. Chao pho alias Bapak Pelindung adalah mereka-mereka yang disebut bos lokal dan local strongmen (orang kuat lokal). Para chao pho dapat dikenali melalui sifat monopolistik mereka dalam hampir semua kegiatan ekonomi di daerah mulai dari pertambangan, transportasi, kehutanan, pertanian, penggilingan, saham bank, dan sebagainya. Selain itu chao pho juga terlibat aktif dalam usaha illegal seperti perdagangan narkotika, pejudian dan penyelundupan. Bapak Pelindung ini juga dikenal sebagai broker ekonomi dan politik.
Para Chao Pho bukanlah pejabat formal di daerah, mereka adalah pemain di luar sistem pemerintahan, tapi memiliki pengaruh luas dan pengikut militan. Karena pengaruh dan kekuatan ekonominya, tidak jarang kroninya minta dicarikan ‘suara’ dalam setiap pemilu nasional maupun lokal. Bila kekuasaan formal diperoleh, para chao pho tinggal memungut upeti dari sang pejabat atau sang politisi. Dalam kasus Thailand beberapa chao pho kelas kakap maju bersaing dan terpilih untuk menduduki kursi parlemen.
Para chao pho selalu memiliki siasat bahkan dapat menghalalkan segala cara untuk memastikan agar para pejabat dan politisi lokal bergantung pada bantuan sokongannya (baik untuk merebut kekuasaan maupun untuk mempertahankannya), dengan demikian kebijakan resmi pembangunan dan perekonomian di daerah tetap menguntungkan bisnis dan pengaruh para chao pho ini. Saling ketergantungan antara chao pho dengan pejabat dan politisi lokal secara langsung ataupun tidak langsung berhasil membatasi kapasitas lembaga dan aparatur negara sehingga memperlemah posisi pemerintahan di daerah.
Praktik chao pho itu memang di Thailand. Tapi para pakar ilmu pemerintahan kita khawatir virus chao pho itu telah menular ke Indonesia dan akan merusak pilkada serentak kita. Alamak.


kolom - Korqan Riau Pos 31 Agustua 2015
Tulisan ini sudah di baca 376 kali
sejak tanggal 31-08-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat