drh. Chaidir, MM | Begitu ya Begitu... | BEBERAPA idiom populer di era gegap gempita penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pada 1980-an, dianggap telah basi. Tetapi jujur, tidaklah semua idiom yang divonis basi itu kontra produktif di era reformasi atau di era masyarakat modern learning community (masyarakat pembelaja
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Begitu ya Begitu...

Oleh : drh.chaidir, MM

BEBERAPA idiom populer di era gegap gempita penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pada 1980-an, dianggap telah basi. Tetapi jujur, tidaklah semua idiom yang divonis basi itu kontra produktif di era reformasi atau di era masyarakat modern learning community (masyarakat pembelajaran) seperti sekarang.

Contohnya, pengendalian diri. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia baru bermakna bila hidup bersama manusia lainnya. Manusia hidup bermasyarakat. Masyarakatnya bisa berupa kelompok, atau sebuah negara. Namun apapun bentuk pengelompokannya, selalu ada aturan main dan kode etik, bisa tertulis bisa tak tertulis. Masing-masing anggota kelompok harus mengendalikan dirinya dengan menjunjung tinggi aturan main dan kode etik tersebut. Anggota kelompok tidak boleh egois apalagi mempertontonkan egonya, seberapa hebat pun dia.

Logikanya sederhana. Ada orang lain dalam kelompok yang harus dipertenggangkan. Dalam masyarakat majemuk yang berhimpun sebagai suatu bangsa dalam sebuah negara, kemajemukan itu disadari secara penuh. Dan disadari pula harus ada "pengikat" kemajemukan itu. "Pengikat" itu bagi bangsa Indonesia adalah dasar dan iedologi negara: Pancasila.

Pancasila itulah yang dalam logika pemerintahan era Presiden Soeharto perlu dihayati dan diamalkan. Kelima sila itu merupakan satu kesatuan utuh yang tak bisa dipisah-pisahkan. Salah satu kata kunci dalam pengamalannya adalah pengendalian diri. Dan salah satu wujud pengendalian diri itu dalam idiom Jawa yang populer adalah, "ngono yo ngono ning ojo ngono". Maksudnya, "begitu ya begitu tapi jangan begitu". Lebih jauh, saudara boleh begitu, tapi sebaiknya jangan begitu. Dalam hal tertentu, seseorang tidak dilarang berkata atau berbuat sesuatu tapi sebaiknya jangan berbuat demikian. Tidak ada sanksi hukum, tapi bila hal itu tidak pantas maka sanksi moral akan lebih berat.

Apakah "ngono yo ngono ning ojo ngono" itu hanya berlaku untuk etnis Jawa? Tentu tidak. Perilaku masyarakat kita sekarang yang sudah bercampur bak adonan emulsi, ada orang sumatera yang lebih jawa daripada orang jawa atau sebaliknya, ada orang jawa yang lebih sumatera daripada orang sumatera. Sama halnya dengan logika, ada orang sipil yang sikapnya lebih militer daripada militer atau sebaliknya, ada anggota militer yang sikapnya lebih sipil daripada orang sipil.

Baru sehari menjabat sebagai Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman, menggantikan Indroyono Soesilo, Rizal Ramli langsung melakukan "gebrakan" yang mengejutkan. Dia meminta rencana PT Garuda Indonesia membeli 30 unit pesawat Airbus A350 supaya dibatalkan. Dia juga minta rencana pemerintah membangun pembangkit listrik 35 ribu megawatt dikaji ulang. Bahkan Rizal Ramli mengkritik teman-temannya sesama menteri kabinet Jokowi sebagai KW-3 (kualitasnya tentulah peringkat kelima setelah produk original, KW Super, KW-1 dan KW-2). Alangkah rendah kualitasnya. Bukankah ini sekaligus menohok Presiden Jokowi sebagai pihak yang memiliki hak prerogative dalam penyusunan kabinet? Rizal Ramli pun tanpa basa-basi menantang Wapres JK untuk berdebat di depan publik mengenai rencana pembangunan pembangkit tenaga listrik itu.

Barangkali kritik yang disampaikan Menko Rizal Ramli mengandung kebenaran substansial, tapi tetap saja cara dan pemilihan kata-katanya sulit dipahami. Ngono yo ngono ning ojo ngono.

kolom - Riau Pos 24 Agustua 2015
Tulisan ini sudah di baca 323 kali
sejak tanggal 24-08-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat