drh. Chaidir, MM | Caleg dan Burung Merpati | Dibuka pelan-pelan, dielus, kemudian coblos. Salah satu kontestan pemilu di masa Orde Baru menambahkan, toleh kiri toleh kanan, coblos di tengah. Ungkapan asosiatif esek-esek seperti itu sering digunakan saat kampanye pemilu-pemilu sebelumnya. Sekarang tidak lagi. Coblos diganti contreng. Saya yakin
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Caleg dan Burung Merpati

Oleh : drh.chaidir, MM

Dibuka pelan-pelan, dielus, kemudian coblos. Salah satu kontestan pemilu di masa Orde Baru menambahkan, toleh kiri toleh kanan, coblos di tengah. Ungkapan asosiatif esek-esek seperti itu sering digunakan saat kampanye pemilu-pemilu sebelumnya. Sekarang tidak lagi. Coblos diganti contreng. Saya yakin, kalau diadakan angket misalnya, pilih cara coblos atau contreng, pasti coblos yang menang. Tapi ya sudahlah, meminjam Gus Dur, gitu aja koq dipikirin.

Semakin dekat hari pencontrengan semakin terdengar gemuruh deburan jantung para caleg. Andai deburan jantung itu bisa diakumulasi jadi gemuruh air terjun, ia akan mampu menggerakkan turbin menghasilkan energi listrik yang sangat dibutuhkan. Andai deburan itu jadi guruh, ia akan memekakkan, menerjang awan jadi hujan penyubur tanaman. Andai deburan itu menyentuh lapisan bumi maka negeri kita akan bergetar laksana digoyang gempa tektonik.

Betapa tidak? Ada ribuan caleg harap-harap cemas menungu contrengan. Pilihan sangat banyak. Kalau boleh, semua teman-teman yang jadi caleg atau semua caleg yang telah memberi buah tangan, dicontrengi supaya adil. Tapi itu tidak mungkin. Dalam satu kartu suara hanya boleh dipilih satu parpol atau satu caleg. Maka pemenangnya tidak banyak, hanya dalam hitungan puluhan dari ribuan. Di lingkungan saya di Pandau (Pekanbaru coret) misalnya, tercatat tidak kurang dari 54 orang caleg, baik caleg pusat, provinsi, kabupaten, maupun calon Anggota DPD. Semua tentu berdebar-debar, berdebur-debur bertalu-talu. Ooii..orang kampung sanak famili, tolonglah...

Sebelum 9 April, semuanya masih berstatus sama: jadi caleg. Tapi setelah 9 April, cerita jadi lain. Ada caleg jadi ada caleg tidak jadi. Ada caleg yang duduk, ada caleg yang terduduk. Itu sebuah realitas yang harus dihadapi. Konsekuensi pilihan hanya ada terpilih atau tidak terpilih. Tapi ada berita buruk ada berita baik bagi caleg.

Berita buruknya: tidak terpilih! Berita baiknya, dalam perspektif transendental, caleg yang tak terpilih terhindar dari beban berat memikul amanah. Oleh karena itulah, yang bukan Anggota dewan, konon, akan lebih dulu masuk surga dibanding Anggota Dewan. Sebab, kelak di padang Mahsyar seorang Anggota Dewan akan ditanya macam-macam, apa yang diperbuat atau tidak diperbuat selama lima tahun. Namun bukan berarti Anggota Dewan divonis banyak dosa, hitung-hitungannya memang akan lebih lama dibanding yang bukan Anggota Dewan. Tak percaya? Tanyalah kiri-kanan.

Beginilah hidup di alam demokrasi, bila rakyat suka, mereka akan pilih. Kalau hati sudah terpaut tak ada baliho tak jadi masalah. Sebaliknya bila sang caleg tak mengena di hati, seribu baliho tak berarti.
Esensi pemilu, kawan, adalah meminta mandat dari rakyat yang punya kedaulatan, maka yang diberi mandat harus merasa berhutang pada rakyat. Jangan lagi terjadi, saat rakyat bicara tentang keadilan misalnya, yang dimaksudkan tidak sama dengan yang dimaksud oleh politisi atau petinggi ketika mereka bicara tentang keadilan. Tapi kita optimis. Ungkapan Rousseau filsuf besar Eropa abad ke-18 benar, Secara alami manusia itu baik, mencintai keadilan dan ketertiban. Maka, yang tak terpilih, la tahzan. Caleg terpilih ingat, merpati saja tak pernah ingkar janji. Apalagi caleg bukan burung (ya iyalah). Caleg adalah makhluk mulia yang dibekali akal budi. Selamat menyontreng!!

kolom - Riau Pos 6 April 2009
Tulisan ini sudah di baca 1571 kali
sejak tanggal 06-04-2008

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat