drh. Chaidir, MM | Merdeka Bung | TUJUH puluh tahun bagi sebuah bangsa yang merdeka bukanlah rentang  waktu yang pendek untuk sebuah pertanggung jawaban. Sudahkah kesejahteraan umum bangsa kita sesuai dengan harapan para pendiri bangsa? Sudahkah kita mencapai kecerdasan bangsa  seperti disebut dalam konstitusi?  Sudahkah kita ikut m
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Merdeka Bung

Oleh : drh.chaidir, MM

TUJUH puluh tahun bagi sebuah bangsa yang merdeka bukanlah rentang waktu yang pendek untuk sebuah pertanggung jawaban. Sudahkah kesejahteraan umum bangsa kita sesuai dengan harapan para pendiri bangsa? Sudahkah kita mencapai kecerdasan bangsa seperti disebut dalam konstitusi? Sudahkah kita ikut melaksanakan ketertiban dunia dalam skema berpikir kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial? Singkat kata, sudahkah bangsa kita merasakan kesejahteraan dalam keadilan, atau merasakan keadilan dalam kesejahteraan?

Mengeja pelan-pelan Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang tak lebih satu halaman kertas kuarto, dan hanya terdiri dari empat alinea, menimbulkan kesan, betapa kata demi kata kalimat demi kalimat yang tersusun, yang merupakan hasil kontestasi buah pikiran para pendiri bangsa kita itu, mengandung makna yang sangat dalam.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Suasana kejiwaan pada waktu itu, tentu yang dimaksud dengan penjajahan adalah kolonisasi. Bangsa-bangsa barat yang melakukan kolonisasi adalah kolonial. Dan perangai kolonial itu adalah kolonialisme dan imperialisme. Para kolonial menjalankan politik penjajahan untuk memperluas negaranya guna mendapatkan keuntungan yang lebih besar, baik dari segi kekuasaan maupun perdagangan. Para penjajah tak segan-segan menghisap habis kekayaan daerah jajahan.

Di zaman penjajahan Belanda dulu misalnya, penjajah memaksa penduduk pribumi menanam kopi, hasilnya berupa biji kopi diangkut ke Eropa, untuk orang pribumi yang mereka sebut Melayu cukup merebus daun kopi saja, maka Belanda pun mencemooh penduduk pribumi sebagai "Melayu Kopi Daun". Perlakuan yang tidak berperikemanusiaan itu menimbulkan perasaan kebencian kepada penjajah meluap-luap di dada para pahlawan kemerdekaan kita. Maka muncullah rangkaian kata dalam Pembukaan konstitusi kita, "penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

Tapi siapa sangka, alinea pertama Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 itu ternyata tak lapuk dek hujan tak lekang dek panas. Paham penjajah itu tak pernah mati. Hanya saja penjajahan di era modern sekarang, tak lagi berupa pendudukan fisik sebuah Negara oleh Negara lain yang lebih kuat, tapi berupa penjajahan ekonomi dan politik, bahkan juga kebudayaan. Negeri kita yang amat kaya, pada kenyataannya secara ekonomi dan politik sangat dipengaruhi oleh negara-negara adidaya. Sembako diimpor, industri dikuasai perusahaan multinasonal, ekonomi kita kalang kabut akibat fluktuasi nilai dollar Amerika. Secara politik pun kita terpaksa sangat toleran terhadap negara-negara besar yang menguasai ekonomi kita.

Dalam semangat HUT Proklamasi ini, ayo kita lakukan komunikasi intrapersonal, berdialog dengan hati nurani, menyelam ke kedalaman sanubari masing-masing. Buka-bukaan habis sampai tak sehelai benang pun tersisa, sampai tak ada sehelai ilalang pun tempat berlindung. Tumpahkan semua kesal dan sesal, bombardir tasik hati itu dengan segudang pertanyaan dan hujatan. Jawabannya bukan untuk sesiapa, bukan untuk dipublikasi, bahkan terucap di bibir sendiri pun tak perlu. Jawabannya cukup dalam hati.

Siapakah yang harus bertanggung jawab bila cita-cita kemerdekaan itu belum tercapai? Pemerintah? Bukankah kita yang pilih? Seperti apa pemimpin seperti itulah masyarakatnya. Kini sosok penjajah itu tak lagi jelas, jangan-jangan kita sendiri merupakan bagian dari penjajah baru itu. Peter Drucker agaknya benar, musuh tidak berada di luar sana. Merdeka Bung!

kolom - Riau Pos 17 Agustua 2015
Tulisan ini sudah di baca 319 kali
sejak tanggal 17-08-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat