drh. Chaidir, MM | Kado HUT Riau | MENARA Graha Pena Riau tak ada sangkut pautnya dengan penyertaan modal yang berasal dari APBD Riau, tapi berdirinya menara megah tersebut secara tak langsung mengangkat citra daerah dan membanggakan Riau. Chairman Riau Pos, Rida K Liamsi tak ragu menyebut, Graha Pena Riau ini adalah kado istimewa HU
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kado HUT Riau

Oleh : drh.chaidir, MM

MENARA Graha Pena Riau tak ada sangkut pautnya dengan penyertaan modal yang berasal dari APBD Riau, tapi berdirinya menara megah tersebut secara tak langsung mengangkat citra daerah dan membanggakan Riau. Chairman Riau Pos, Rida K Liamsi tak ragu menyebut, Graha Pena Riau ini adalah kado istimewa HUT ke-58 Provinsi Riau. "Graha Pena ini merupakan kado Riau Pos buat negeri ini, tempat di mana kami hidup, berusaha, tumbuh dan berkembang", ungkap Rida K Liamsi (Riau Pos 8/8/2015).

Untunglah ada menara Graha Pena Riau. Menara ini diresmikan persis sehari sebelum HUT Riau, sehingga bisa disebut sebagai kado. Bila tidak, maka HUT Riau tahun ini akan terasa ibarat sayur asam kurang garam, hambar.

Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman menyebut, "Secara bisnis tentu ada prospek ke depan, sehingga membangun gedung demikian. Graha Pena Riau juga sebagai bukti trust investasi di provinsi ini." Sebagai orang bisnis, Plt Gubri pasti menyadari, pembangunan gedung seperti itu yang dilakukan oleh swasta tentu akan menumbuhkan kepercayaan dari dunia swasta. Iklim investasi yang kondusif memang sangat diperlukan agar investasi swasta yang porsinya mencapai kurang lebih 80 persen per tahun, tidak memilih "wait and see". Tanpa investasi swasta dan pemerintah, maka kesejahteraan rakyat yang dijanjikan, hanyalah pesesan posong. Bayangkan bila The Peak Hotel & Apartement di Jl A Yani dan Menara BRK di Jl Sudirman diresmikan, tentu Pekanbaru khususnya dan Riau pada umumnya akan sungguh-sungguh menjadi magnet yang luar biasa bagi investasi.

Foto-foto megah menara Graha Pena Riau sangat "eye catching" (menarik mata) di tengah potret buram daerah ini. Melihat foto-foto tersebut, sejenak kita terpana, lupa terhadap masalah yang mendera. Kendati asap berkurang dalam beberapa hari terakhir ini karena hujan, tapi akar masalah asap sesungguhnya masih tetap gelap dan laten, tahun berganti tahun tak terjamah dan tak terjawab. Sehingga setiap tahun kita sibuk bangga bertempur memadamkan titik api dengan mengerahkan sumber daya yang tak sedikit.

Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit dari Rp 1.600 per kg beberapa bulan lalu menjadi tinggal Rp 600-700 sangat memukul petani sawit. Demikian pula harga karet alam yang berkisar Rp 4.000 per kg sangat jatuh dibanding Rp 12.000 tahun lalu. Bagi petani-petani di daerah lain yang tidak hidup dari perkebunan sawit dan karet, tak ada masalah. Tapi bagi masyarakat Riau? Petani kita hoyong mau pingsan, tak bisa lagi menjerit minta tolong karena tercekik. Minta tolong kepada siapa?

Maka isu tak sedap pun bergulir. Rumor yang berkembang di akar rumput, harga TBS dan karet alam jatuh karena pengusaha sawit dan karet (kolektor dan pabrik) harus memberikan sumbangan dana siluman untuk pilkada. Lihatlah, setiap kali pilkada, setiap kali pula harga sawit dan karet jatuh. Mana mau pengusaha menanggung sendiri dana siluman itu? Akhirnya dana itu dibebankan kepada petani. Rumor ini tentu tak bisa dibuktikan. Rumor tinggal rumor.

Rumor yang agak masuk akal adalah cerita tentang besarnya cukai ekspor untuk Crude Palm Oil (CPO minyak sawit mentah). Pemerintah memiliki target penerimaan yang besar dalam sektor pajak. Tapi pemerintah yang pro rakyat itu tidak menyadari, yang menanggung beban pajak itu adalah petani, rakyat kecil yang sebenarnya harus dilindungi.

Tuan, itu juga kado HUT Riau. Kalau rumor tersebut tak betul, jelaskanlah kepada petani, jangan diam seribu bahasa.

kolom - Riau Pos 10 Agustus 2015
Tulisan ini sudah di baca 335 kali
sejak tanggal 10-08-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat