drh. Chaidir, MM | Genderang Perang | MEMENANGKAN perang tanpa berperang atau dalam ungkapan Jawa sering dikenal
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Genderang Perang

Oleh : drh.chaidir, MM

MEMENANGKAN perang tanpa berperang atau dalam ungkapan Jawa sering dikenal "nglurug tanpa bala" alias memenangkan perang tanpa pasukan perang, kelihatannya mustahil. Tapi dalam strategi meraih kemenangan tak ada yang mustahil. Sepanjang strategi untuk meraih kemenangan itu tidak menghalalkan segala cara, tidak main curang, tak ada masalah.

Hari ini, genderang perang pilkada langsung serentak di seluruh Indonesia telah ditabuh berdentam-dentum. Provinsi Riau sendiri akan menyelenggarakan pilkada serentak di sembilan kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Bengkalis, Kota Dumai, Kabupaten Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti, Kuantan Singingi, Pelalawan, Rokan Hilir, Rokan Hulu, dan Kabupaten Siak.

Pasangan bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah mulai mendaftar di KPU Daerah masing-masing. Dan KPU Daerah pun telah menyatakan siap seribu persen. Beberapa KPU Daerah bahkan mengemas seremoni pendaftaran bakal calon tersebut dengan ornamen kebudayaan lokal. Tidak salah, asal tak memberi kesan diskriminasi apalagi berbau SARA, tentu sah-sah saja. Selanjutnya masyarakat akan menyaksikan adu strategi masing-masing pasangan kandidat untuk memenangkan kompetisi.

Strategi sesungguhnya mengandung unsur seni. Kita bisa menilai apakah suatu strategi merupakan strategi yang baik atau strategi yang buruk. Paling tidak ada tiga kriteria yang dapat digunakan untuk menilai sebuah strategi, yaitu moral, hasil dan sumber daya. Strategi yang baik adalah strategi yang bermoral, dalam pengertian sesuai dengan nilai-nilai etika moral, alias tidak main curang. Strategi yang baik juga tentunya strategi yang membawa hasil yang diinginkan. Sebaik apapun sebuah strategi, tidak ada gunanya bila tidak memberikan hasil yang diinginkan. Selain itu strategi yang baik haruslah menggunakan sumber daya sehemat mungkin. Meskipun misalnya, hasil yang diinginkan bisa diperoleh, tapi bila pengorbanan sumber daya terlalu besar, maka strategi tersebut merupakan strategi yang buruk.

Strategi memenangkan perang tanpa pasukan sepertinya mustahil tapi bukan mustahil. Tidak mudah diterapkan tapi bisa. Contoh saat Rusia diserang oleh Napoleon Bonaparte (1812). Napoleon mengerahkan 500.000 pasukan. Napoleon bersama pasukan besarnya merangsek masuk Rusia. Namun di luar dugaan, hingga masuk beratus-ratus kilometer ke pedalaman Rusia, Napoleon tidak mendapatkan pasukan Rusia. Kota dan desa yang mereka lalui kosong, tidak terdapat barang-barang atau makanan. Berbulan-bulan pasukan Napoleon melakukan perjalanan ke pedalaman Rusia, mereka akhirnya kehabisan bahan makanan dan kedinginan diserang salju.

Bahkan ketika pasukan Napoleon masuk Moskow pun mereka tidak menemukan orang-orang dan tentara Rusia, tidak ada perlawanan. Pasukan Napoleon kemudian makan semua bekal makanan yang ada, bahkan terpaksa menyembelih kuda-kuda mereka sendiri karena tidak ada yang dimakan. Pasukan Napoleon kemudian terserang penyakit dan wabah, akhirnya pasukan yang tersisa tinggal 15 ribu serdadu. Pasukan Napoleon bertekuk lutut.

Pemimpin Rusia Tsar Alexander memenangkan perang tanpa berperang karena sebelumnya mendapat informasi bahwa Napoleon akan menyerang dengan pasukan yang besar jumlahnya, Rusia diperkirakan tak akan mampu melawan bila berperang secara terbuka.

Penting dalam strategi memenangkan persaingan adalah mengendalikan emosi. Tetap cerdas dan santun. Adakah pasangan kandidat kita yang mencoba strategi Tsar Alexander?

kolom - Riau Pos 27 Juli 2015
Tulisan ini sudah di baca 371 kali
sejak tanggal 27-07-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat