drh. Chaidir, MM | Rahasia Politik Dinasti | PETA politik di daerah langsung berubah setelah Mahkamah Konstitusi  (MK) mengabulkan uji materi UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Betapa tidak. Putusan tersebut menganulir klausul yang melarang politik dinasti dalam pilkada. Maknanya: politik dinasti boleh. Orang yang memiliki
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rahasia Politik Dinasti

Oleh : drh.chaidir, MM

PETA politik di daerah langsung berubah setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Betapa tidak. Putusan tersebut menganulir klausul yang melarang politik dinasti dalam pilkada. Maknanya: politik dinasti boleh. Orang yang memiliki hubungan darah, ikatan perkawinan, dan/atau garis keturunan satu tingkat lurus keatas, ke bawah, ke samping dengan petahana (incumbent), yaitu ayah, ibu, mertua, paman, bibi, kakak, adik, ipar, anak, atau menantu boleh maju bertarung sebagai calon kepala daerah. Heboh.

Logika DPR ketika membentuk UU Nomor 8 Tahun 2015 yang melarang politik dinasti sesungguhnya sudah mengacu pada logika akal sehat. Politik dinasti alias politik kekerabatan itu merusak demokrasi, mematikan kaderisasi partai politik, menyuburkan praktik "jual-beli perahu", membegal merit system, lebih jauh menyuburkan kembali praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), virus yang dulu jadi musuh bersama.

Respon publik terbelah. Ada kelompok seperti cacing kepanasan, marah, masygul, sedih, galau, tak habis pikir kenapa politik yang jelas-jelas rusak itu dilegalkan? Ada pula kelompok yang tertawa gembira. Ada kelompok wait and see. Namun palu MK sudah diketok, keputusannya final dan mengikat. Tak ada lagi upaya konstitusional yang bisa dilakukan kecuali mengadu kepada Tuhan. Ini bukan kelakar. Ini serius. Komunikasi transcendental. Barangkali dengan komunikasi ini ditemukan jawaban.

Ketika Nabi Muhammad dan para sahabat beserta pengikut dalam rombongan besar akan memasuki Kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji, mereka dihadang oleh kekuatan besar masyarakat dan penguasa Makkah. Rombongan Nabi dilarang masuk Makkah. Nabi menjelaskan bahwa mereka sedang dalam perjalanan religius untuk berhaji. Penguasa Makkah tidak percaya, mereka menganggap ini siasat invasi kaum Muslim yang hendak menguasai Makkah. Sikap penguasa Makkah keras dan menyatakan tidak ada ibadah haji.

Perundingan pun dilakukan dan menghasilkan sebuah Perjanjian Hudaibiyah. Isinya: Pertama, kaum Muslim tidak boleh menunaikan ibadah haji tahun itu, namun boleh pada tahun berikutnya asalkan tidak membawa senjata dan tidak lebih dari tiga hari. Kedua, orang Makkah yang bergabung ikut Nabi ke Madinah harus kembali ke Makkah dan mereka tidak boleh kembali ke Madinah. Ketiga, diperbolehkan orang Arab dari luar Makkah untuk memilih ingin bergabung dengan Makkah atau Nabi Muhammad. Keempat, tidak ada pihak yang boleh menyerang pihak lain selama sepuluh tahun.

Perjanjian itu tidak menghargai kaum Muslim. Namun Nabi menerima perjanjian tersebut. Para sahabat protes keras. Tapi Nabi menjelaskan, pertama, pengikut Islam yang harus kembali ke Makkah pasti akan tetap loyal kepada Islam, untuk apa mereka berada di Madinah bila mereka tak loyal. Kedua, Nabi memandang 10 tahun masa damai merupakan keuntungan luar biasa, karena suasana damailah yang diperlukan untuk menyampaikan risalah Islam ke seluruh jazirah Arab. Ketiga, Nabi juga setuju ibadah haji ditangguhkan selama satu tahun sehingga tahun berikutnya kaum Muslim bisa aman ke Makkah menunaikan ibadah haji dengan damai dan mendapatkan penjelasan risalah Islam dari orang pertama. Siasat Nabi ternyata benar.

Selalu ada rahasia di balik peristiwa. Keputusan MK mengajarkan pada kita bahwa uji terakhir demokrasi itu adalah peningkatan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat, tak peduli politik dinasti atau bukan. Rakyat pasti semakin dewasa berpolitik. Kalau tetap saja memilih rezim korup politik dinasti seperti lalu-lalu, berarti kita keledai. Berat banget Bro.

kolom - Riau Pos 13 Juli 2015
Tulisan ini sudah di baca 307 kali
sejak tanggal 13-07-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat