drh. Chaidir, MM | Selamat Ujian | MUSIM ujian nasional tiba. Setiap tahun selalu saja menyisakan sebuah drama, drama kehidupan manusia. Ada Siswa yang telah menunjukkan prestasi terpuji, tiba-tiba saja tidak lulus. Ada pula soal ujian yang diduga bocor atau dibocorkan. Di lain musim diberitakan pula ada oknum jual beli kunci jawaban
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Selamat Ujian

Oleh : drh.chaidir, MM

MUSIM ujian nasional tiba. Setiap tahun selalu saja menyisakan sebuah drama, drama kehidupan manusia. Ada Siswa yang telah menunjukkan prestasi terpuji, tiba-tiba saja tidak lulus. Ada pula soal ujian yang diduga bocor atau dibocorkan. Di lain musim diberitakan pula ada oknum jual beli kunci jawaban. Di sisi lain ada pejabat yang kecewa karena target rata-rata kelulusan tak tercapai. Ada yang bersorak gembira karena target kelulusan terlampaui.

Drama tahunan itu membuat hati kecil kita bercuriga. Pertama, belum tentu seorang siswa yang tidak lulus ujian nasional disebabkan karena yang bersangkutan bodoh atau tidak memiliki potensi akademis. Atau, kedua, sebaliknya, belum tentu seorang yang lulus ujian nasional karena yang bersangkutan pintar. Ujian nasional akhirnya seperti gambling, dipengaruhi oleh empat "L": Licik, Licin, Lebai dan Lucky. Siapa yang jago adu akal bulus, siapa yang handal bermain kucing-kucingan, tak malu berlebih-lebihan, dan siapa yang dipayungi keberuntungan, mereka akan lulus.

Oleh karena itulah dalam pelaksanaan program seratus hari Menteri Pendidikan Nasional, beberapa bulan lalu, pro-kontra sistem ujian nasional mencuat tajam, perlukah atau tidak perlukah? Kecurigaan terhadap ujian nasional itu muncul karena ujian nasional dianggap tidak menjamin sebagai ukuran kemampuan atau kepintaran seorang siswa. Sistem ujian nasional belum sungguh-sungguh menjadi alat ukur. Padahal ujian harusnya menjadi ukuran apakah seorang anak didik memenuhi syarat minimal untuk disebut telah menyelesaikan satu jenjang pendidikan.

Pendidikan di bangku SMA memang merupakan etape yang paling menentukan. Memang dunia belum akan kiamat bila seseorang tidak lulus ujian nasional SMA, tetapi gerak langkah akan menjadi berat dan terbatas. Di Korea Selatan misalnya, yang sistem pendidikannya hampir sama dengan kita, jenjang SMA dianggap paling berat. SMA adalah tahap paling kritis untuk masa depan karir seseorang. Berkembang sukseskah atau stagnan sampai pada level tenaga skill menengah? Jenjang SMA menentukan. Oleh karena itu pendidikan di bangku SMA dilakukan dengan sangat spartan. Jam pelajaran resmi adalah pukul 09.00 s/d 16.00, tetapi kemudian tanpa pulang ke rumah, mereka melanjutkan lagi dengan jam belajar ekstra sampai pukul 22.00. Pada 1994 Pemerintah Korea memiliki kebijakan hanya 55 persen saja lulusan SMA yang boleh melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lainnya masuk ke jalur pengembangan skill. Oleh karena itu siswa SMA belajar mati-matian untuk masuk ke kelompok 55 persen itu.

Kita? Jujur, terlepas dari drama-demi-drama itu, sebagian besar lulusan terbaik memang, umumnya adalah anak-anak kita yang berprestasi dan memiliki talenta. Tapi kita masih sering terperangap dalam paradigma pencitraan, sehingga angka-angka persentase kelulusan menjadi dewa. Pada lingkup sekolah sebenarnya, mutu dapat diukur apakah para siswanya menunjukkan prestasi yang memuaskan dalam penguasaan materi pelajaran, dengan kata lain apakah mereka mampu mengerjakan soal ujian dengan baik? Kalau ukuran penguasaan materi pelajaran menjadi paradigma pendidikan kita, maka tidak perlu ada kecurigaan terhadap ujian nasional. Seribu ujian nasional akan ditelan oleh anak-anak kita.

Selamat menempuh ujian anak-anakku, semoga sukses.

kolom - Riau Pos 21 Maret 2010
Tulisan ini sudah di baca 1195 kali
sejak tanggal 21-03-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat