drh. Chaidir, MM | Mudik Lagi Mobnas Lagi | MUDIK telah menjadi tradisi lebaran. Entah sejak kapan, tak ada catatan, entah sampai kapan, tak ada ramalan. Setiap tahun tak pernah sepi dari korban tapi tak pernah menyurutkan animo. Setiap tahun jumlah pemudik bahkan semakin banyak.

Tradisi mudik lebaran adalah tradisi pulang kampung melepas
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mudik Lagi Mobnas Lagi

Oleh : drh.chaidir, MM

MUDIK telah menjadi tradisi lebaran. Entah sejak kapan, tak ada catatan, entah sampai kapan, tak ada ramalan. Setiap tahun tak pernah sepi dari korban tapi tak pernah menyurutkan animo. Setiap tahun jumlah pemudik bahkan semakin banyak.

Tradisi mudik lebaran adalah tradisi pulang kampung melepas kerinduan terhadap kampung halaman. Biasanya dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri. Momen ini terasa sangat istimewa karena merupakan kesempatan berkumpul dan bersilaturrahim bersama sanak famili dan handai taulan, saling bersalaman bermaaf-maafan, nyekar atau ziarah ke pekuburan dan berbagai kegiatan lainya. Ziarah makam ini, di Turki bahkan dilakukan besar-besaran.

Tradisi mudik memang bukan hanya milik orang Indonesia. Beberapa negara di belahan dunia lainnya juga ada yang melangsungkan momen pulang kampung pada hari raya atau perayaan-perayaan tertentu, seperti Malaysia, Bangladesh, India, Pakistan, Turki, Mesir, Nigeria, bahkan juga di Tiongkok.Tradisi mudik di Amerika Serikat biasanya dilakukan saat menjelang perayaan Thanksgiving, perayaan yang merupakan liburan populer di AS karena momen ini adalah kesempatan orang Amerika untuk mengunjungi sanak familinya di pedesaan. Waktunya pada setiap hari kamis keempat bulan November, di penghujung musim gugur. Sekali setahun.

Tradisi mudik lebaran di negeri kita sesungguhnya membawa kegembiraan dan kebahagiaan, baik bagi keluarga yang pulang kampung maupun bagi keluarga yang menanti di kampung halaman. Tapi dalam satu dekade ini tradisi itu sering diusik atau bahkan di-bully melalui pemberitaan tentang isu larangan penggunaan mobil dinas. Padahal sebagian besar pemudik tersebut adalah masyarakat umum yang tak ada urusan sama sekali dengan mobil dinas.

Mobil dinas hanya berkaitan dengan sebagian kecil pemudik yang merupakan PNS, tetapi setiap tahun selalu menjadi kontroversi. Tahun ini misalnya, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Yuddy Chrisnandi, menyita perhatian ketika sempat membuat kebijakan, PNS diperbolehkan menggunakan mobil dinas untuk mudik. Tapi kemudian kebijakan itu dibatalkan kembali setelah diveto oleh atasan sang Menteri.

Mobil dinas, tak bisa disangkal, adalah kendaraan operasional untuk menunjang pelaksanaan tugas seorang PNS atau pejabat negeri. Oleh karena itu dipahami, kendaraan tersebut hanya bisa digunakan untuk keperluan pelaksanaan tugas. Tapi mem-bully PNS dan para pejabat negeri setiap tahun dengan mobil dinasnya, rasa-rasanya juga terlalu berlebihan. Bayangkan, setiap tahun (dan telah berlangsung bertahun-tahun) semua petinggi negeri ramai-ramai mengancam PNS yang menggunakan mobil dinas untuk mudik. Semustinya, yang ramai diberitakan adalah perbaikan prasarana jalan dan sarana transportasi umum di setiap daerah. Daerah mana yang lebih aman dan nyaman bagi pemudik. Bukan dengan bully mem-bully.

Gagasan awal Menteri Yuddy Chrisnandi yang memperbolehkan mobil dinas dipakai mudik, sebenarnya orisinil, asal penggunanya bertanggungjawab. Bagi keluarga PNS jelas lebih hemat, mudah, dan tidak ikut menyemak di transportasi umum. Porsi tempat duduk untuk pemudik umum dengan demikian akan lebih banyak tersedia.

Tradisi mudik itu hanya sekali setahun dan bisa pula dimaknai memberi penguatan pada semangat kebersamaan dalam masyarakat. Kebijakan Menteri Yuddy tersebut mungkin tidak betul semua, tapi pasti tak salah semua. Jauhkan saja iri hati dan dengki.

kolom - Riau Pos 6 Juli 2015
Tulisan ini sudah di baca 364 kali
sejak tanggal 06-07-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat