drh. Chaidir, MM | Menggapai Hati | ENTAH mengapa, puasa Ramadan selalu menghadirkan chemistry yang beda dalam perasaan: bahagia ramai-ramai berbuka puasa bareng keluarga, rindu orang-orang tercinta nun jauh di mata, rindu orangtua dan sanak famili yang sudah tiada, rindu suasana kampung halaman, rindu handai taulan. Pokoknya beda, da
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menggapai Hati

Oleh : drh.chaidir, MM

ENTAH mengapa, puasa Ramadan selalu menghadirkan chemistry yang beda dalam perasaan: bahagia ramai-ramai berbuka puasa bareng keluarga, rindu orang-orang tercinta nun jauh di mata, rindu orangtua dan sanak famili yang sudah tiada, rindu suasana kampung halaman, rindu handai taulan. Pokoknya beda, dan tak semua perasaan itu bisa diungkap dengan kata-kata.

Di samping kerinduan seputih kapas selembut embun yang diam-diam datang menyelimuti, Ramadan juga diam-diam menghadirkan suasana hati yang dipenuhi dorongan untuk melakukan kontemplasi dan introspeksi. Ada saat jeda untuk menghitung kata-kata bahkan juga dosa dalam masa sebelas bulan yang telah dilalui. Sebelas bulan yang sibuk yang tak memberi ruang komunikasi intrapersonal, melainkan ingin semuanya serba instan langsung ke sasaran, lebih cepat dan lebih cepat.

Komunikasi intrapersonal atau komunikasi intrapribadi adalah dialog internal dengan diri kita sendiri, diam-diam tanpa diketahui oleh orang lain. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Melalui komunikasi intrapersonal, kita akan mengenal atau memahami diri kita sendiri, apa kekuatan dan kelemahan kita. Dengan demikian bisa melakukan positioning dan tidak salah langkah dalam melakukan komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi dengan pihak lain.

Aktivitas komunikasi intrapersonal yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Dan jujur, bagi umat Islam, bulan puasa Ramadan adalah waktu yang paling tepat dalam melakukan komunikasi intrapersonal untuk membangunkan kesadaran (awareness) dalam diri.

Dalam bulan Ramadan, sebagai salah satu bentuk amalan, banyak sekali pengajian Ramadan yang diisi dengan ceramah-ceramah agama yang dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran ilahiah. Semua ingin menggapai hati umat Islam, karena di sanalah kunci kesadaran ilahiah itu. Kata-kata yang berhamburan, yang sedang-sedang saja tentu mengandung makna yang sedang-sedang pula; kata-kata mulia tentu mengandung makna indah. Frasa demi frasa yang disampaikan bisa menggelorakan, bisa pula menyejukkan hati.

Hati yang terbuka akan menumbuhkan kesadaran memaknai. Seperti disebut oleh penulis Islam terkenal pada abad-abad pertama setelah turunnya risalah Islam, Al-Jahizh (255/868), makna tersembunyi dalam kesadaran. Di sana makna berada dalam keadaan terendam tidak terkenali. Bila diberikan ungkapan yang tepat makna menjadi hidup. Makna akan bangkit dan mengerahkan kekuatannya yang menggetarkan. Makna akan membuat yang jauh menjadi dekat, yang tiada menjadi ada, yang rumit menjadi mudah, yang asing menjadi akrab. Makna menjadi hidup dan berpengaruh secara proporsional pada kepantasan ungkapannya.

Jika kata-kata dan makna, keduanya sesuai satu sama lain, biarpun saling mendahului, saling menyusul dan disusul, berlomba menggapai hati pendengar, maka tausyiah akan sampai bagai hujan membasahi tanah yang subur. Selamat berpuasa.

kolom - Riau Pos 29 Juni 2015
Tulisan ini sudah di baca 399 kali
sejak tanggal 29-06-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat