drh. Chaidir, MM | Bulan Malam Terang | PUASA itu mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Di negeri kita yang berada di khattulistiwa, puasa umumnya kurang dari 14 jam (mulai dari imsak sekitar pukul 04.30 sampai berbuka sekitar pukul 18.30 menurut waktu setempat).  Baik di kawasan waktu Indonesia Bagian Timur, di kawasan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bulan Malam Terang

Oleh : drh.chaidir, MM

PUASA itu mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Di negeri kita yang berada di khattulistiwa, puasa umumnya kurang dari 14 jam (mulai dari imsak sekitar pukul 04.30 sampai berbuka sekitar pukul 18.30 menurut waktu setempat). Baik di kawasan waktu Indonesia Bagian Timur, di kawasan waktu Indonesia Bagian Tengah, maupun di kawasan waktu Indonesia Bagian Barat, lama siang harinya sama, jadi lama berpuasanya juga sama.

Tapi bagaimana di negeri yang mataharinya tak kunjung tenggelam? Apa ada? Ternyata fenomena alam ini memang ada. Di Kota Saint Petersburg, kota kedua terbesar di Rusia, terletak di tepi Teluk Finlandia Laut Baltik, tahun ini matahari bangun terlalu dini dan seakan enggan untuk tenggelam di ufuk barat. Keyakinan penduduk muslim di St Petersburg benar-benar diuji bila bulan Ramadan jatuh pada musim panas (summer season). Bagaimana tidak, mereka harus berpuasa selama 22 jam setiap harinya (Riau Pos, 19/6).

Penduduk setempat menyebut bulan ini sebagai bulan white night atau bulan dengan malam yang terang. Bila diterjemahkan per kata, white night berarti malam putih, tapi mereka mengartikannya sebagai malam yang terang. Malam yang terang ini biasanya berlangsung mulai akhir Mei hingga awal Juli. Kondisi tergelap malam hari, hanya berupa senja, berlangsung sekitar 2-3 jam saja. Menarik, karena penduduk muslim setempat menyebut puasa yang panjang ini sebagai ujian. Kementerian Dalam Negeri Rusia menyebut, tahun lalu ada 42 ribu muslim yang melakukan Sholat Id di dua masjid besar di St Petersburg. Sebagian besar mereka tentu menikmati ujian puasa tersebut.

Mohamad Agar Kalipke, putra asli Sakai yang sedang mengajar di Hamburg, dan ratusan WNI muslim di Jerman, kendati sama-sama di Eropa Barat, tidak mengalami ujian puasa Ramadan seberat muslim di St Petersburg, mereka menjalani puasa Ramadan tahun ini "hanya" lebih kurang 18 jam sehari. Siang di Jerman tak sepanjang siang di St Petersburg, karena matahari sudah terbenam pukul 21.30 waktu setempat.

Tapi sesungguhnya ada pergeseran waktu jatuhnya bulan Ramadan dalam perhitungan kalender Masehi. Hal ini terjadi karena jumlah hari dalam kalender Masehi (365 hari) yang dihitung berdasarkan siklus matahari, sedikit lebih banyak ketimbang jumlah hari kalender Hijriyah (354 hari) yang dihitung berdasarkan siklus bulan mengelilingi bumi. Secara sederhana, bisa dicatat kalender Masehi setiap tahun lebih panjang 11 hari ketimbang kalender Hijriyah. Dari pergeseran tersebut, diperkirakan dalam tempo sekitar 15 tahun ke depan, bulan Ramadan akan jatuh pada musim dingin (winter season) sekitar akhir Desember atau bulan Januari. Pada masa itu nanti, justru malam yang berlangsung panjang. Matahari seakan malas bangun, dan bila sudah terbit buru-buru pula tenggelam di peraduan. Akibatnya puasa di kawasan yang mengalami musim dingin akan lebih pendek daripada puasa di Tanah Air.

Pada saat ini, umat muslim yang berada di kawasan Melbourne atau Adelaide dan daerah-daerah lebih Selatan di Australia sedang mengalami musim dingin, malam mereka lebih panjang dan secara otomatis siangnya menjadi lebih pendek. Tapi perbedaan siang-malam musim dingin tahun ini tak sedrastis seperti di St Petersburg. Kolega saya Prof Peter Jellinek yang bermukim di Melbourne menulis di inbox saya (21/6) kemarin sore, beberapa hari ini di Melbourne matahari terbit pukul 07.00 pagi dan tenggelam pukul 18.00, "I still have plenty of sun", katanya. Iyalah, saya tak hendak menjelaskan bahwa informasi itu saya perlukan untuk ilustrasi kolom dengan topik ujian berpuasa di bulan malam terang yang dinikmati saudara kita di Eropa.

Penulis antara beruntung dan tidak beruntung. Beruntung karena ketika masa-masa pendidikan dulu sempat berpuasa di musim dingin di Australia (1986) dan Italia (1989/1990). Tidak beruntung karena tidak merasakan ujian berpuasa 18 jam seperti Mohamad Agar Kalipke atau 22 jam seperti muslim di St Petersburg.


kolom - Riau Pos 22 Juni 2015
Tulisan ini sudah di baca 381 kali
sejak tanggal 22-06-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat