drh. Chaidir, MM | Gedung Aspirasi | DEWAN Perwakilan Daerah (DPD) alias senat alias majelis tinggi dalam sebuah negara yang menganut  sistem parlemen dua kamar (bicameral system), akan segera merealisasikan proyek pembangunan gedung di seluruh provinsi. Gedung itu disebut Gedung Aspirasi. Istilah ini barangkali dimaksud agar lebih mem
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gedung Aspirasi

Oleh : drh.chaidir, MM

DEWAN Perwakilan Daerah (DPD) alias senat alias majelis tinggi dalam sebuah negara yang menganut sistem parlemen dua kamar (bicameral system), akan segera merealisasikan proyek pembangunan gedung di seluruh provinsi. Gedung itu disebut Gedung Aspirasi. Istilah ini barangkali dimaksud agar lebih memberi kesan kerakyatan daripada disebut sebagai kantor.

Biayanya? Menurut Ketua DPD Irman Gusman, tidak banyak "Total anggaran Rp 21 miliar untuk satu provinsi. Cuma Rp 21 miliar, kan sesuai kebutuhan," ujarnya seperti dikutip berbagai media, Jumat (12/6/2015). Sang Ketua mengatakan, angka Rp 21 miliar itu untuk fisik bangunan, sementara tanahnya merupakan hibah dari pemerintah daerah. Seperti di Yogyakarta, misalnya, yang sudah peletakan batu pertama, DPD mendapat hibah tanah senilai Rp 45 miliar.

Anggaran tersebut memang belum seberapa dibanding rencana anggaran pembangunan gedung baru DPR yang pernah menjadi kontroversi di era Ketua DPR Marzuki Alie, yang mencapai jumlah Rp 1 trilun lebih. Untuk Gedung Aspirasi, bila dikali-kali, Rp 21 miliar kali 34 provinsi, maka jumlahnya hanya Rp 714 milyar. Tapi, itu belum termasuk biaya pengadaan lahan, yang dibebankan kepada masing-masing pemerintah provinsi. Tak usahlah Yogyakarta sebagai acuan, rata-rata Rp 20 miliar saja untuk penyediaan lahan di setiap provinsi, maka nilai lahan akan menjadi Rp 20 milyar x 34 = Rp 680 miliar. Maka total nilai untuk pembangunan Gedung Aspirasi di seluruh Indonesia, tak kurang dari Rp 714 miliar + Rp 680 miliar = Rp 1, 494 triliun.

Kita boleh saja mengatakan, jumlah itu tak seberapa bila dibanding dengan nilai APBN yang mencapai Rp 1.800 triliun lebih, atau bila disebut untuk harga yang pantas kita bayar demi tegaknya demokrasi di negeri kita. Dengan berbagai alasan, termasuk landasan hukum yang telah diatur oleh undang-undang, pembangunan Gedung Aspirasi tersebut terlihat merupakan sebuah kebutuhan. Namun jujur, pembangunan gedung untuk DPD di seluruh provinsi, kelihatannya bukanlah jawaban yang tepat terhadap permasalahan dinamika legislasi, khususnya terhadap eksistensi DPD dalam format sistem parlemen dua kamar di Indonesia dewasa ini. Rasa-rasanya, koq lain yang gatal lain yang digaruk.

Bangsa Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi baru, sesungguhnya sudah berada pada lintasan yang benar ketika secara konstitusional dalam amandemen ketiga UUD 1945 memberi landasan bagi terbentuknya sistem parlemen dua kamar (bicameral system). Wujudnya adalah terbentuknya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang anggotanya perorangan dan dipilih langsung dalam pemilu legislatif. DPD diharap bisa menjadi penyeimbang bagi DPR yang berisi orang-orang partai politik yang sering sangat sarat kepentingan.

Namun persoalan belum selesai. Terbatasnya peran dan fungsi legislasi DPD menjadi masalah mendasar. Meminjam pendapat Giovanni Sartori, sistem bikameral kita adalah bikameral lemah (weak bicameral). DPD tidak memiliki hak suara (voting right) dalam pembentukan undang-undang. Dengan peran demikian, DPD tak bisa diharap banyak oleh masyarakat daerah di seluruh Indonesia untuk meredam "power" DPR dalam menggunakan pedang kekuasaannya.

Penguatan peran DPD inilah sesungguhnya yang harus didudukkan oleh seluruh stakeholder bangsa ini dengan memperkuat sistem bikameral kita melalui amandemen kelima UUD 1945. DPD perlu diberi hak suara dalam pembentukan undang-undang sehingga ada keseimbangan peran majelis rendah (DPR) dan majelis tinggi (DPD). Tanpa hak suara, semegah apapun Gedung Aspirasi yang dibangun hanya akan dihuni oleh macan ompong.

kolom - Riau Pos 15 Juni 2015
Tulisan ini sudah di baca 373 kali
sejak tanggal 15-06-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat