drh. Chaidir, MM | Pertempuran Tebing Merah | TEBING Merah atau Red Cliff adalah sebuah film epik-perang yang dibuat berdasarkan peristiwa Pertempuran Chibi tahun (208-209 M) yang berlangsung pada penghujung Dinasti Han dalam sejarah Tiongkok kuno. Pertempuran bersejarah ini kemudian dikenal sebagai
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pertempuran Tebing Merah

Oleh : drh.chaidir, MM

TEBING Merah atau Red Cliff adalah sebuah film epik-perang yang dibuat berdasarkan peristiwa Pertempuran Chibi tahun (208-209 M) yang berlangsung pada penghujung Dinasti Han dalam sejarah Tiongkok kuno. Pertempuran bersejarah ini kemudian dikenal sebagai "Pertempuran Tebing Merah".

Film kolosal ini disutradarai oleh John Woo (2009), bersumber pada sejarah Tiongkok kuno. Pertempuran Pertempuran Tebing Merah sangat seru, karena melibatkan berbagai strategi perang yang menakjubkan, termasuk strategi busuk dan curang. Dikisahkan, pasukan Cao-Cao sedang mengepung pasukan Zhou Yu di sebuah teluk dengan tebing menjulang berwarna merah di sekitarnya. Hampir mustahil bagi pasukan Zhou Yu keluar dari kepungan.

Pada saat kedua belah pihak mempersiapkan diri untuk bertempur habis-habisan, ternyata sebagian pasukan Cao-Cao terkena wabah penyakit. Para Jenderal di pihak Zhao Yu menyarankan agar Zhao Yu melakukan serangan. Namun Zhou Yu menolak dengan alasan kemanusiaan. Sebaliknya, Cao-Cao justru mengirimkan mayat-mayat pasukannya yang terkena wabah itu dengan rakit ke markas Zhao Yu dengan maksud agar pasukan Zhao Yu tertular.

Kita bisa menilai siapa dari pemimpin tersebut yang memiliki standar moral yang tinggi, siapa yang bermoral rendah. Sejarah, di negeri mana pun, seringkali mengajarkan moralitas, dan tak soal kendati harus melintasi benua dan samudra.

Strategi persaingan dan moralitas itu, pada skala berbeda, akan dapat kita baca ketika para kandidat bertempur dalam pilkada serentak Desember 2015 tahun ini. Mulai dari sekarang para kandidat tersebut sudah pasang kuda-kuda adu strategi dengan mengerahkan segenap kemampuan. Kita bisa membaca secara empirik, kandidat yang tak mengindahkan etika moral dalam strateginya, akan cenderung tampil sebagai sosok penguasa, bukan seorang pemimpin.

Strategi menurut filsuf Tiongkok kuno, Sun Tzu (500 SM) seperti air. Di dalam kolam air mengikuti bentuk kolam; di dalam sungai mengikuti liku-liku sungai. Di lautan, air bisa menutupi samudra. Memang tidak ada strategi yang baku. Strategi yang tepat di satu situasi belum tentu tepat untuk situasi yang lain. Tapi tidak berarti boleh menghalalkan segala cara.

Strategi mengandung unsur seni. Kita bisa menilai apakah suatu strategi merupakan strategi yang baik atau buruk. Paling tidak ada tiga kriteria yang dapat digunakan untuk menilai sebuah strategi, yaitu moral, hasil dan sumber daya. Strategi yang baik adalah strategi yang bermoral dalam pengertian sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku alias tidak main curang. Strategi yang baik juga tentunya strategi yang membawa hasil yang diinginkan. Sebaik apapun sebuah strategi, tidak ada gunanya bila tidak memberikan hasil yang diinginkan atau memberi kemenangan. Selain itu strategi yang baik haruslah menggunakan sumber daya sehemat mungkin. Meskipun hasil yang diinginkan bisa diperoleh, tapi bila pengorbanan sumber daya terlalu besar, maka strategi tersebut merupakan strategi yang buruk.

Menang dengan menghalalkan segala cara adalah strategi yang paling buruk bahkan bar-bar, strategi ini adalah strategi yang paling rendah. Termasuk di sini adalah praktik-praktik curang dengan menciptakan kerugian di pihak lawan tanpa mempertimbangkan aspek moralitas, atau dengan memanfaatkan kesulitan yang sedang dialami pihak lawan untuk melancarkan serangan yang mematikan. Siapapun yang menang kelak, menanglah secara terhormat, yang kalah pun tidak dipermalukan. Itu baru pemimpin.

kolom - Riau Pos 8 Juni 2015
Tulisan ini sudah di baca 781 kali
sejak tanggal 08-06-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat