drh. Chaidir, MM | Mengangkat Sauh | PERAHU kandidat kepala daerah segera berlayar. Semua sudah mengangkat sauh. Kalau tidak ada perubahan, empat perahu dari Dumai, empat dari Inhu, lima dari Bengkalis dan kemungkinan lima dari Kepulauan Meranti. Tapi itu belum final, tergantung hasil verifikasi. Bila ada yang tak laik laut, perahu ten
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengangkat Sauh

Oleh : drh.chaidir, MM

PERAHU kandidat kepala daerah segera berlayar. Semua sudah mengangkat sauh. Kalau tidak ada perubahan, empat perahu dari Dumai, empat dari Inhu, lima dari Bengkalis dan kemungkinan lima dari Kepulauan Meranti. Tapi itu belum final, tergantung hasil verifikasi. Bila ada yang tak laik laut, perahu tentu tak bisa berlayar, dan terpaksa kembali lego sauh.

Bagi yang tak bisa berlayar jangan berkecil hati, jangan gundah gulana. Semua itu pasti ada hikmahnya. Sekurang-kurangnya, risiko yang akan dihadapi lebih kecil tak jadi berlayar daripada berlayar tapi perahu kemudian karam, atau kalah cepat sampai ke pantai tujuan. Ingat, dalam perlombaan pemilukada, hanya ada satu perahu yang akan sampai lebih dulu dengan selamat dan tampil sebagai pememang, selebihnya pecundang. Pemilukada ini tak ubahnya laksana mortal combat game (pertandingan hidup-mati). Tak ada cerita seri, pasti ada pemenang dan pasti ada yang kalah. Sang pemenang bergembira-ria, pihak yang kalah tamat riwayatnya, tenggelam dalam lara. Tapi duka lara, bagaimanapun, lebih baik ketimbang menjadi langganan rumah sakit jiwa.

Di atas langit sana, dalam perspektif transendental, sebenarnya sudah tertulis perahu mana yang akan tampil sebagai pemenang. Siapa nakhoda yang paling piawai melayarkan perahunya. Tapi itu semua rahasia ilahi. Dinamika dan romantika pemilihan akan hilang bila rahasia itu bocor. Proses pembelajaran akan sirna, proses pendewasaan akan hilang. Tak ada contoh baik-buruk. Kehidupan akan terasa monoton dan menjemukan. Bukankah agama juga mengajarkan kepada kita untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan? Tak ada satu pun kandidat yang tak ingin berbuat kebajikan, yang membedakan hanya cara dan gayanya. Kemaruk atau tidak itu lumrah. Berapi-api, biasa-biasa saja, atau low-profile, itu pembawaan, atau mungkin itu hanya bagian dari taktik memancing simpati untuk menangguk suara.

Janji-jani politik adalah satu bagian, serunya proses sosialisasi dan perebutan perahu untuk memenuhi kuota dukungan di antara para kandidat dengan segala peristiwa yang mengiringi, adalah masalah lain. Tak ada satu pun kita manusia yang penuh, tak ada seorang pun yang sempurna. Ketidaksempurnaan itulah yang mengukuhkan manusianya manusia. Penonton boleh tak puas, menyoraki, dan berkomentar tak sedap dari bangkunya, tapi yang bermain di lapangan tetaplah parpol. Mereka bebas menerapkan taktik apa yang dikehendaki untuk meraih kemenangan, yang tidak boleh, ibarat pertandingan sepakbola, adalah "main sore" atau "main kayu."

Pemilukada mengajarkan banyak hal kepada pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung, bahkan juga kepada masyarakat umum. Semua yang tersurat, yang tersirat, bahasa tubuh, mengisyaratkan sikap dan perilaku sang kandidat baik sebagai pribadi, sebagai anggota kelompok, maupun sebagai tokoh. Kadang, ada yang rasanya pantas ada pula yang terasa kurang pantas. Tapi itulah podium. "Pernah ada yang mengatakan," tulis Goenawan Muhamad, "politikus di podium tak boleh dinilai dari apa yang dikatakannya, melainkan berdasarkan apa yang dilakukannya."

Baiklah, Bagi perahu-perahu yang sudah mengangkat sauh, kita iringi dengan do'a dan harapan, luruskan niat. Jangan gentar samudra terbakar api. Jadilah pemenang secara terhormat, kalah pun secara terhormat.

kolom - Riau Pos 14 Maret 2010
Tulisan ini sudah di baca 1244 kali
sejak tanggal 14-03-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat