drh. Chaidir, MM | Don Kisot dan Monster | PEMBEKUAN PSSI oleh Menpora berbuah sanksi oleh FIFA Ternyata harga muka itu sangat mahal.  Buktinya, daripada kehilangan muka lebih baik mengorbankan kepentingan yang lebih besar, walau itu berakibat fatal bahkan menyerempet hal-hal yang sangat sensitif seperti tercermin dari ekspresi kemarahan Per
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Don Kisot dan Monster

Oleh : drh.chaidir, MM

PEMBEKUAN PSSI oleh Menpora berbuah sanksi oleh FIFA Ternyata harga muka itu sangat mahal. Buktinya, daripada kehilangan muka lebih baik mengorbankan kepentingan yang lebih besar, walau itu berakibat fatal bahkan menyerempet hal-hal yang sangat sensitif seperti tercermin dari ekspresi kemarahan Persipura dan masayarakat pendukungnya. Isu pembekuan PSSI kelihatannya telah menjadi bola salju.

Isu tersebut mengingatkan saya pada kisah Don Kisot (Don Quixote). Bangsawan yang sakit otak ini (karena terlalu banyak membaca novel kepahlawanan abad pertengahan) dihinggapi semacam sindroma penyakit kejiwaan yang dikenal dengan istilah delusi; gejalanya, seseorang memegang dengan kuat keyakinannya terhadap sesuatu namun tidak akurat. Ia memimpikan kejayaan yang tak kunjung didapat.

Don Kisot terobsesi menjadi seorang kesatria yang berkelahi melawan monster demi membela kebenaran dan keadilan bagi mereka yang tertindas, teraniaya, dan tak berdaya. Maka dengan berbaju ketopong besi warisan nenek moyangnya, dan menunggang keledai ditemani pembantu setianya, Sancho Panza, seorang budak yang direkrutnya, Don Kisot mulai mengembara dengan perasaan sebagai seorang kesatria.

Ia mengelilingi negeri, mencari musuh pengganggu, mencari monster untuk ditaklukkan atau putri untuk diselamatkan. Saking menggebu-gebunya "kesatria” ini, ia salah menganggap bangunan kincir angin sebagai monster. Sancho yang dungu saja tahu bahwa itu bukan monster, dan sudah berusaha mengingatkan kekhilafan tuannya, namun apa daya, Don Kisot terlalu keras kepala. Keras batu akik lebih keras lagi hati Don Kisot. Kepalang tanggung, Don Kisot menyerang kincir angin tersebut dan tentu saja dia beserta keledainya membentur dinding beton dan jatuh terguling-guling.

Don Quixote, lengkapnya Don Quixote de la Mancha, adalah novel legendaris Spanyol (terbit 1605), karya pujangga Miguel de Cervantes. Don Quixote menjadi tokoh utama novel satir tersebut.

Cervantes sudah jauh lelap dalam tidurnya yang abadi, namun boleh jadi tersenyum menyaksikan, bahwa imajinasinya yang kuat dalam tokoh Don Quixote, berabad-abad kemudian ternyata tidak meleset. Penyakit delusional itu telah menjadi penyakit keturunan yang melintasi zaman, benua, samudera dan selat. Banyak yang mengingatkan, SK Pembekuan PSSI itu disarankan untuk dicabut, bahkan Wapres JK pun secara terbuka pasang badan, mempertaruhkan mukanya, tapi apa hendak dikata sang "kesatria" kelihatannya sedang mengalami obsesi berat. Maka akan semakin banyak kelihatannya yang bakal kehilangan muka.

Menariknya, dalam novel tersebut, Don Kisot yang babak belur karena menghajar tembok yang dikira monster, masih sempat menghibur Sancho, pembantu dekatnya, jangan bersedih kau Sancho, kata Don Kisot, beginilah risiko pertempuran bagi ksatria kelana. Tak boleh menyerah, lain hari lain peruntungan, Baiklah kalau begitu, tapi jangan sering-sering meleset membedakan, mana monster dan mana bayang-bayang monster.

kolom - Riau Pos 1 Juni 2015
Tulisan ini sudah di baca 554 kali
sejak tanggal 01-06-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat