drh. Chaidir, MM | Gita Cinta Corat-Coret | DALAM dua peristiwa ini, nasihat tak akan pernah di dengar. Pertama, ketika orang yang dinasehati sedang sangat marah; kedua, ketika orang yang dinasehati sedang sangat bahagia atau gembira tak terkira. Dalam kedua momen tersebut, kata-kata nasihat yang diberikan, seindah apapun percuma saja, masuk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gita Cinta Corat-Coret

Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM dua peristiwa ini, nasihat tak akan pernah di dengar. Pertama, ketika orang yang dinasehati sedang sangat marah; kedua, ketika orang yang dinasehati sedang sangat bahagia atau gembira tak terkira. Dalam kedua momen tersebut, kata-kata nasihat yang diberikan, seindah apapun percuma saja, masuk dari telinga kanan keluar di telinga kiri, untuk kemudian terbang melayang. Adakalanya nasihat tersebut bahkan tak sempat masuk melintas dari telinga kanan ke kiri, melainkan memantul ke luar sebelum masuk ke telinga, terpelanting entah kemana.

Begitulah kejadiannya dengan aksi corat-coret baju seragam pelajar kita yang merayakan kelulusannya dalam ujian nasional beberapa hari lalu. Suasana hati mereka sedang gembira tiada tara, sehingga telinga untuk sementara dianggap tak berguna. Mau marah silahkan mau sewot silahkan, mereka tetap melakukan aksi corat-coret bahkan konvoi keliling kota sebagai bentuk selebrasi atas kelulusannya dalam ujian nasional. Mereka melampiaskan kegembiraannya tamat di jenjang SLA, sebentar lagi akan menyandang predikat mahasiswa.

Siapa yang mau disalahkan atau dijadikan kambing hitam? Guru, pemerintah, orangtua, atau lingkungan masyarakat? Semua sudah berbuih-buih mulutnya, berkali-kali memberi nasihat agar tidak melakukan aksi corat-coret apalagi konvoi kendaraan bermotor. Aksi itu tak berguna. Tapi semuanya dianggap angin lalu. Selebrasi itu tetap dilakukan. Oleh karena itu tak perlulah kebakaran janggut, berpikir positif sajalah. Seburuk-buruknya aksi corat-coret selebrasi itu, beribu-ribu kali lebih baik daripada mereka melakukan selebrasi dalam bentuk pesta sex bebas atau narkoba (seperti dulu pernah jadi berita). Anggap saja corat-coret itu romantika ala "gita cinta dari SMA". Barangkali itu ekspresi simbol cut-off terhadap paradigma kehidupan belajar siswa menjadi paradigma baru kuliah di perguruan tinggi yang menuntut keseriusan dan tanggung jawab.

Tak perlu lama, dalam tempo tiga bulan ke depan, homogenitas dan kolektivitas para pelajar itu akan menghadapi tantangan besar yang tak bisa mereka elakkan. Mereka terpaksa berpencar ke berbagai perguruan tinggi di berbagai kota bahkan ke manca Negara. Mereka akan menghadapi realitas, tantangan berat harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, suasana baru, belajar hidup terpisah dari orangtua, dan meninggalkan zona nyaman (comfort zone) yang selama ini mereka nikmati. Mereka harus mengubah mindset, tak bisa lagi bergantung pada kakak-kakak kelas, orangtua dan guru, mereka harus bertanggung jawab terhadap diri masing-masing.

Bulan-bulan pertama di perguruan tinggi, mereka harus berupaya keras menyesuaikan diri dengan budaya baru pembelajaran. Sang mahasiswa baru akan mengalami brain washing alias cuci otak di kampus mereka, harus meninggalkan budaya belajar di SMA yang senantiasa dibimbing guru, menjadi budaya kuliah di perguruan tinggi yang mandiri. Kesuksesan terletak di pundak masing-masing.

Dalam lingkungan baru kehidupan kampus, romantika aksi corat-coret akan tinggal jadi kenangan indah untuk memompa motivasi belajar para pelakunya di bangku kuliah, motivasi untuk menjadi alumni terbaik kelak sebagai bahan cerita dalam acara reuni. Tak bisa dipungkiri, pasti kelak ada perasaan sesal bila masa-masa kuliah tak dimanfaatkan secara optimal.

Kini sang mahasiswa menjadi bagian dari learning community (komunitas pembelajaran), anak-anak muda yang menimba ilmu sebagai modal intelektual. Mau tak mau sang mahasiswa baru harus menyempatkan waktu untuk melakukan komunikasi intrapersonal dengan diri sendiri (diam-diam dalam permenungan). Tanyalah diri baik-baik, seperti apakah nanti masing-masing remaja corat-coret itu setelah 15-20 tahun ke depan. Jadi, seindah apapun romantika gita cinta corat-coret, hari esok tetap lebih berharga dan menuntut untuk diberi makna.

kolom - Riau Pos 18 Mei 2015
Tulisan ini sudah di baca 371 kali
sejak tanggal 18-05-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat