drh. Chaidir, MM | Nyontek Berjemaah | ENTAH setan dari mana yang membagi-bagikan kunci jawaban soal Ujian Nasional pekan lalu. Hampir merata di seluruh Indonesia ditemukan kunci jawaban soal, dicontek oleh pelajar di ruang ujian. Bagi pelajar yang tak percaya diri dan tak mempersiapkan diri, UN menjadi sangat mudah, tinggal contek saja
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Nyontek Berjemaah

Oleh : drh.chaidir, MM

ENTAH setan dari mana yang membagi-bagikan kunci jawaban soal Ujian Nasional pekan lalu. Hampir merata di seluruh Indonesia ditemukan kunci jawaban soal, dicontek oleh pelajar di ruang ujian. Bagi pelajar yang tak percaya diri dan tak mempersiapkan diri, UN menjadi sangat mudah, tinggal contek saja jawaban soalnya sesuai kunci jawaban setan, habis perkara. Persoalan benar atau salah, itu urusan belakang. Kunci jawaban itu memang layak disebut kerjaan setan, karena tidak jelas siapa yang membagikannya. Kunci jawaban tiba-tiba saja beredar luas dan sudah berada di tangan para pelajar peserta UN.

Mengandung kebenarankah kunci jawaban itu? Tak ada yang bisa memberi konfirmasi. Menurut para pejabat yang berkompeten, kunci itu ngawur, tidak bisa dipertanggungjawabkan. Katakanlah kunci jawaban itu asal-asalan, tak bisa dipercaya, lantas gerangan apakah motifnya? Hanya untuk sekedar membuat kekacauankah? Sengaja menjerumuskan pelajar, atau hanya sekedar iseng. Kalau itu hanya iseng pastilah itu iseng tingkat dewa.

Kalau misalnya kunci jawaban itu mengandung kebenaran, maka jelas itu sebuah dosa dan pekerjaan besar; "TSM" (Terstruktur, Sistematis dan Masif), pasti melibatkan banyak pihak. Terutama pihak-pihak yang berhubungan dengan pembuat dan pencetak soal. Mendistribusikan kunci jawaban ke berbagai daerah dalam tempo singkat tentu juga bukan pekerjaan mudah dan tentu harus dilakukan melalui jaringan rahasia, seperti operasi klandestin jaringan mata-mata.

Bila kunci jawaban itu mengandung kebenaran, tentu muncul pula pertanyaan berikut, maksudnya apa? Untuk membantu pelajarkah supaya lulus UN, atau demi gengsi sekolah, atau demi gengsi daerah? Kalau begitu untuk apa diselenggarakan UN? Cukup saja berpedoman pada rapor pelajar untuk menilai prestasi sang pelajar.

Kalau soal UNnya sulit berarti tidak sinkron antara soal-soal dengan materi pelajaran yang diberikan di kelas. Semestinya ujian secara sederhana diartikan sebagai instrumen untuk melihat kemampuan pelajar menerima pelajaran oleh guru. Sepanjang soal-soal tidak keluar dari materi pelajaran yang diberikan di kelas, maka dengan asumsi proses belajar-mengajar berlangsung normal, tak ada alasan pelajar tak bisa menjawab soal. Guru pasti memiliki metoda dan bertanggung jawab terhadap kemampuan rata-rata kelasnya. Tapi kalau soalnya susah karena keluar dari materi pelajaran yang diberikan, maka penyusun soalnya dapat disebut memandai-mandai , sok pintar dan soak idealis.

Apapun motifnya, berita besar-besaran nyontek berjemaah itu mendegradasi dunia pendidikan kita. Perbuatan nyontek berjemaah dan berita-berita itu, sangat memalukan bangsa kita. Nyontek berarti tidak jujur. Berarti sekolah gagal membangun moral anak-anak didik kita, mereka dengan mudahnya berlaku tidak jujur. Harusnya praktik-praktik nyontek berjemaah itu sudah lama ditinggalkan. Seluruh pemangku kepentingan pendidikan harusnya sungguh-sungguh menyadari, bahwa bangsa-bangsa yang maju sekarang sudah memasuki generasi learning community, sebuah masyarakat pembelajar. Generasi pertanian sudah sangat jauh kita tinggalkan, generasi industri juga sudah masa lalu, bahkan generasi ketiga, generasi teknologi informasi dalam skala tertentu hanya menghasilkan generasi muida yang tergila-gila dengan gadget pagi-siang-malam. Generasi teknologi informasi ini dilampaui oleh generasi keempat: learning community. Dalam Learning community ini tenaga kerja tak lagi dilihat sebagai SDM, tetapi lebih maju, yakni sebagai asset berupa Human Capital Investment (HCI). HCI inilah yang akan mampu bersaing di era global, termasuk Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sudah berada di pekarangan kita.

Sayangnya, generasi nyontek berjemaah tak akan mampu menjadi HCI, artinya, surga bonus demokrafi kita akan hilang. Siapa kambing hitamnya? Kambing hitamnya adalah setan. Ampiun..

kolom - Riau Pos 11 Mei 2015
Tulisan ini sudah di baca 367 kali
sejak tanggal 11-05-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat