drh. Chaidir, MM | Sepakbola di Ujung Tanduk | SEPAKBOLA Indonesia berada di ujung tanduk. Tapi sayangnya situasi ini bukan akibat sebuah pertandingan genting hidup-mati yang menentukan tersisih atau tidak tersisihnya timnas kita di sebuah turnamen. Ini sebuah persoalan yang seharusnya tak lagi perlu dipersoalkan, kalau kita tak ingin setiap kal
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sepakbola di Ujung Tanduk

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPAKBOLA Indonesia berada di ujung tanduk. Tapi sayangnya situasi ini bukan akibat sebuah pertandingan genting hidup-mati yang menentukan tersisih atau tidak tersisihnya timnas kita di sebuah turnamen. Ini sebuah persoalan yang seharusnya tak lagi perlu dipersoalkan, kalau kita tak ingin setiap kali berangkat dari kilometer nol. Tapi bila persoalan seperti ini selalu disikapi dengan zero sum game, maka sepakbola kita tak ubah seperti tari poco-poco, maju selangkah mundur selangkah, hanya berputar-putar tak maju-maju.

Ini masalah mindset. Para pemangku kepentingan terlalu naif bila tidak menyadari bahwa sepakbola telah berkembang menjadi ladang industri. Artinya, era sepakbola amatir perserikatan seperti dulu, ketika pernah menghasilkan juara kembar Persija Jakarta dan PSMS Medan sebagai solusi sebuah partai final yang ricuh, sudah lama lewat. Kini sepakbola telah berkembang menjadi industri, telah menjadi portofolio ekonomi. Dalam hamparan industri ini tumbuhlah dengan subur segala macam usaha dengan pertunjukan sepakbola sebagai jantung bisnisnya.

Omset industri sepakbola dunia membuat kita tercengang-cengang. Klub-klub liga di Eropa misalnya, memiliki kekayaan yang fantastik. Transfer pemain profesional mencapai angka ratusan milyar rupiah bahkan angka di atas satu triliun tidak lagi jarang kita dengar. Maknanya, olahraga sepakbola samasekali bukan lagi sekedar olahraga kegemaran rakyat belaka. Sepakbola itu industri, sepakbola itu bisnis tentu dengan segala perangainya.

Karakteristik industri sepakbola ditandai oleh peran klub sepakbola sebagai suatu perusahaan yang berbadan hukum (legal formal). Klub-klub yang sebelumnya bersifat amatir berubah menjadi klub yang bersifat profesional. Dengan kata lain, klub menjadi sebuah unit bisnis yang tujuan utamanya untuk menghasilkan keuntungan (profit). Sebagai sebuah unit bisnis yang berada dan menjadi bagian dalam hamparan yang bernama industri, maka persaingan usaha menjadi tak terelakkan.

Industri sepakbola itu unik. Setiap klub terintegasi secara keseluruhan dengan klub-klub yang ada di berbagai negara (dunia), misalnya dalam keseragaman standar kompetisi liga. Sebagai konsekuensinya, setiap klub patuh dan harus mematuhi aturan main bersama berdasarkan regulasi yang berasal dari induk organisasinya (FIFA) yang dalam hal ini di Indonesia direpresentasikan oleh PSSI.

Dalam industri sepakbola, setiap klub menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni: fungsi kompetisi/liga dan fungsi usaha/bisnis. Dua fungsi ini bersifat komplementer (saling membutuhkan). Kinerja klub diukur dari dua sisi, yakni: level dalam liga (domestik maupun internasional) dan level dalam usaha (bisnis). Inilah yang membedakan industri sepakbola dengan jenis-jenis industri lainnya di dunia ekonomi.

Dalam skema industri tersebut pemerintah mustinya hanya berperan menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan usaha. Sebab, ranah hamparan industri sepakbola lebih banyak masuk wilayah sektor swasta (private). Diganti berapa kali pun pengurus atau operator liga sesuai selera pemerintah, yang namanya belantara industri sepakbola tetap dengan perangainya: penuh persaingan. Industri sebapkbola tak bisa diurus dengan paradigma sepakbola amatir. Sebab, industri sepakbola memiliki kaidah-kaidah tersendiri selama sepakbola kita merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat industri sepakbola dunia. Kecuali bila kita cukup puas dengan sepakbola 'tarkam'. Terserah.

kolom - Riau Pos 4 Mei 2015
Tulisan ini sudah di baca 395 kali
sejak tanggal 04-05-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat