drh. Chaidir, MM | Dirintang Siamang Berbuai | SELAMA dua bulan terakhir, perhatian masyarakat kita yang sadar informasi, habis tersita menyaksikan siaran berita kasus Bank Century (BC). Tak usah seorang profesor, masyarakat awam saja tahu, penyelesaian kasus BC ini sarat dengan agenda politik. Begitu Pansus Hak Angket DPR terbentuk, bola salju
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dirintang Siamang Berbuai

Oleh : drh.chaidir, MM

SELAMA dua bulan terakhir, perhatian masyarakat kita yang sadar informasi, habis tersita menyaksikan siaran berita kasus Bank Century (BC). Tak usah seorang profesor, masyarakat awam saja tahu, penyelesaian kasus BC ini sarat dengan agenda politik. Begitu Pansus Hak Angket DPR terbentuk, bola salju kasus BC itu menggelinding cepat makin lama makin besar.

Kasus BC menyingkap banyak sisi tentang perilaku manusia. Agaknya benar kata Aristoteles, manusia itu zoon politicon. Kecenderungan alamiah dari manusia adalah membentuk kelompok, bertindak dalam kelompok, dan bertindak sebagai kelompok. "Manusia itu hewan yang bermasyarakat." Ujar Aristoteles. Untunglah, naluri manusia yang memerlukan masyarakat, membedakannya dengan hewan biasa.

Aristoteles agaknya berlebihan, tapi menyaksikan rapat-rapat Pansus Hak Angket DPR-RI, dan terakhir berupa rapat paripurna penentuan sikap DPR, ada perasaan gundah seraya bertanya dalam hati, entah pembelajaran kultural apa yang bisa kita peroleh dan dijadikan iktibar dari heboh penanganan kasus BC ini. Rapat-rapat Pansus, apalagi rapat paripurna ditonton oleh jutaan pasang mata, tidak hanya di tanah air tetapi juga sampai di luar negeri. Pembelajaran kultural seperti apa sesungguhnya yang paling sesuai untuk menjawab perubahan drastis yang terjadi di tengah masyarakat?

Tidak ada yang tidak setuju dengan pemberantasan korupsi, apalagi ada dugaan negara telah dirugikan triliunan rupiah. Semua rakyat setuju. Hukum harus ditegakkan walaupun langit runtuh. Namun Pansus Hak Angket BC rupanya tidak hanya sekedar mencari kemana uang yang Rp6,7 T itu dibagi-bagikan, dan siapa yang terindikasi paling bersalah atau bertanggung jawab. Tapi gelombang yang ditimbulkan ibarat tsunami, menyapu semua tak pandang bulu.

Penyelidikan kasus BC ini paling banyak disorot media, melebihi heboh BLBI beberapa waktu silam. Padahal sebenarnya kasus BLBI menimbulkan kerugian negara jauh lebih besar dari kasus BC. Kasus BC, kalau mau disebut sederhana, sebenarnya sederhana. Ada pejabat yang menyetujui bail out (dana talangan) sebesar Rp6,7 T, ada bank penerima. Kemudian uang itu dicairkan. Siapa yang mencairkannya? Mustahil tidak ada catatan. Apalagi kalau uang itu ditransfer. Nah aparat penegak hukum tinggal mempelajari apakah kebijakan bail out itu ada dasar hukumnya? Apakah uang itu didistribusikan secara legal kepada orang yang berhak? Kalau jawabannya "tidak," maka tinggal penjarakan saja pelakunya. Gitu aja koq repot. Tapi kalau jawabannya, "ya, ada dasar hukumnya, dan dicairkan secara legal kepada orang yang berhak," maka tinggal dikaji baik-baik, "ya" sungguhan atau "ya" akal-akalan.

Tapi masalah BC memang tidak lagi sederhana. Terlalu banyak tumpangan kepentingan. Kepentingan partai, kepentingan kelompok, kepentingan pencitraan, kepentingan uang, harga diri, dan sebagainya, semua berkait kelindan. Tidak ada yang mau kehilangan muka. Pada sisi lain, perdebatan bahkan pertengkaran dipertontonkan sejadi-jadinya, vulgar. Agenda-agenda kerakyatan terabaikan, persis seperti peribahasa "Dirintang siamang berbuai," asyik melihat sesuatu yang tidak berguna dengan menghabiskan waktu.

kolom - Riau Pos 7 Maret 2010
Tulisan ini sudah di baca 1281 kali
sejak tanggal 07-03-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat