drh. Chaidir, MM | Selamat Harijadi PSSI | USAH disangsikan, sepakbola adalah olahraga rakyat yang paling populer dan paling digemari di seluruh dunia. Sepakbola bisa menghibur, bisa membangkitkan nasionalisme dan patriotisme, bahkan sepakbola juga bisa sebagai alat perjuangan membangun semangat kebangsaan dan alat pemersatu bangsa. Bangsa k
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Selamat Harijadi PSSI

Oleh : drh.chaidir, MM

USAH disangsikan, sepakbola adalah olahraga rakyat yang paling populer dan paling digemari di seluruh dunia. Sepakbola bisa menghibur, bisa membangkitkan nasionalisme dan patriotisme, bahkan sepakbola juga bisa sebagai alat perjuangan membangun semangat kebangsaan dan alat pemersatu bangsa. Bangsa kita memiliki catatan sejarah tentang itu.

Ada orang yang dengan mudah mengatakan sepakbola tidak hanya PSSI, tapi sejarah berdirinya PSSI yang menjadi induk olahraga sepakbola di Indonesia memberikan gambaran bahwa sepakbola dan PSSI tak bisa dipisahkan. Sepakbola dan PSSI itu ibarat aur dan tebing, laksana mata putih dan mata hitam keduanya bersebati saling membutuhkan.

Pada awal abad ke-20 silam, sepakbola sudah mulai digemari masyarakat di nusantara ini baik pribumi maupun penjajah Belanda dan orang-orang Eropa yang tinggal di kepulauan nusantara. Namun seiring meningkatnya animo masyarakat pribumi terhadap sepakbola, orang-orang Belanda merasa terganggu dan mulai bertingkah, mereka melakukan diskriminasi. NIVB (Netherlandsche Indie Voetbal Bond), yakni persatuan klub yang dibentuk oleh kelompok Eropa, semakin eksklusif. Mereka mulai melarang penggunaan lapangan, mereka juga melarang klub di bawah naungannya bermain melawan klub pribumi.

Sumpah Pemuda pada 1928 disebut sebagai titik balik bagi persepakbolaan kelompok pribumi. Dengan semangat kebangsaan yang tinggi, digagaslah pembentukan sebuah wadah persatuan klub-klub sepakbola pribumi. Semangat kebangsaan dari deklarasi Sumpah Pemuda tersebut menjiwai seluruh kalangan termasuk di kalangan pegiat sepakbola. Puncaknya di Yogyakarta, 19 April 1930, dipelopori oleh tujuh klub yaitu PSIM, PPSM, Voetbal Indonesia Jacarta (VIJ), Soerabajasche Indonesia Voetbal Bond (SIVB), Vorstenlanden Voetbal Bond (VVB), Bandoengsche Voetbal Bond (BVB), dan Madioensche Voetbal Bond (MVB), atas kehendak dan keputusan bersama didirikanlah PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) sebagai wadah persatuan klub sepakbola pribumi. Dan PSSI secara tegas menyatakan bahasa resmi PSSI adalah Bahasa Indonesia.

Terlihat jelas, PSSI berdiri sebagai bentuk perlawanan terhadap NIVB. Kemudian dalam perjalanan sejarah pasca kemerdekaan, seluruh pemangku kepentingan sepakbola di Indonesia tidak pernah lupa akan arti dan tujuan didirikannya PSSI, yakni sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa.

Kini sepakbola telah berkembang pesat menjadi industri. "Pemain" dalam industri itu, tidak hanya 11 vs 11 orang pemain yang berlaga di lapangan hijau, tetapi juga mencakup pelatih, pengurus, sponsor, supporter, pembuat kaos, banner, spanduk, pedagang kaki lima, dan sebagainya. Sepakbola sebagai industri telah tumbuh menjadi profit center. Sayangnya industri sepakbola juga berperangai layaknya unit-unit bisnis lain, penuh dengan persaingan.

Pada tanggal 19 April 2015 kemarin PSSI genap berusia 85 tahun. Ironisnya, PSSI mendapat kado pahit berupa surat keputusan pembekuan dari Menteri Pemuda dan Olahraga. Dalam surat keputusan tersebut Menpora memberi sanksi administratif kepada PSSI, seluruh kegiatan PSSI tidak diakui oleh pemerintah. Keputusan tersebut tentu bisa berubah menjadi bola liar; kalau menjadi palu godam bagi industri sepakbola kita, itu pasti. Ibarat membunuh tikus dengan membakar lumbung. Selamat Harijadi PSSI, janganlah hibernasi.

kolom - Riau Pos 20 April 2015
Tulisan ini sudah di baca 399 kali
sejak tanggal 20-04-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat