drh. Chaidir, MM | Penumpang Gelap | KERAS batu akik lebih keras lagi hati. Mario Steven Ambarita (21) telah memperlihatkannya. Pemuda ini membuat heboh dengan aksi super nekadnya setelah berhasil menjadi penumpang gelap di ruang roda belakang pesawat Boeing 737-800 Garuda Indonesia dalam penerbangan Pekanbaru-Jakarta (7/4) pekan lalu.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Penumpang Gelap

Oleh : drh.chaidir, MM

KERAS batu akik lebih keras lagi hati. Mario Steven Ambarita (21) telah memperlihatkannya. Pemuda ini membuat heboh dengan aksi super nekadnya setelah berhasil menjadi penumpang gelap di ruang roda belakang pesawat Boeing 737-800 Garuda Indonesia dalam penerbangan Pekanbaru-Jakarta (7/4) pekan lalu.

Maka, kalau masalah uji nyali, Mario tak kan terlawan. Barangkali boleh dicatat sebagai salah seorang pria pemberani dan layak disanding dengan Mbah Marijan (alm) sebagai bintang iklan icon pria pemberani seperti yang sampai saat ini sering kita saksikan di televisi itu. Bagi pemilik nyali biasa-biasa saja, jangan coba-coba meniru adegan Mario, bahaya, bisa-bisa hormon adrenalinnya tak terbendung muncrat keluar dari ubun-ubun.

Mario selamat karena nyawa berlebih. Dalam logika biasa, tak akan ada orang yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrim seperti itu. Kolong roda pesawat terbang itu sangat berbahaya. Pada ketinggian terbang 34 ribu kaki di atas permukaan laut suhu udara bisa mencapai minus tigapuluh derajat celcius, dan di atas sana kecuali di cabin tempat penumpang biasa yang nyaman, tekanan udara sangat rendah, bunyi mesin jet sangat keras memekakkan telinga sehingga bisa menyebabkan kuping berdarah, gelap, dan oksigen juga sangat tipis.

Apapun alasannya, tak ada tempat uji nyali di ruang roda pesawat. Sekeras apapun hati seseorang, harus ada batasnya bila diukur melalui common sense. Aksi tersebut tidak hanya membahayakan diri sang penumpang gelap, lebih fatal lagi adalah sangat membahayakan keselamatan penumpang. Kalau sampai sang penumpang gelap kehilangan kesadaran, dia bisa jatuh ketika roda pesawat membuka untuk persiapan mendarat. Atau boleh jadi roda pesawat tak bisa keluar karena terganggu oleh sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh pembuat pesawat. Bila demikian, maka pesawat tak bisa mendarat dan ini tentu membahayakan penumpang resmi.

Pekan kemarin, istilah penumpang gelap menjadi sangat populer. Terinspirasi atau tidak oleh Mario, sang penumpang gelap, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pidato politiknya yang berapi-api saat pembukaan Kongres PDI Perjuangan di Bali Kamis (9/4) pekan lalu, juga menyebut adanya penumpang gelap dalam pemerintahan Presiden Jokowi. Megawati Soekarnoputri, mengingatkan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap penumpang gelap ini. Megawati menyatakan, sebagaimana diberitakan berbagai media, "Penumpang gelap itu dapat menggoyang pemerintahan dan ingin menguasainya secara politik dan ekonomi." Megawati mengkhawatirkan, ada pihak-pihak yang tidak ikut berjuang dalam pemilu presiden, tiba-tiba hadir menjadi penumpang gelap di lingkaran kekuasaan pemerintahan.

Pidato Megawati tentu saja mengundang rasa penasaran publik. Gerangan siapakah yang disebut Megawati sebagai penumpang gelap politik itu? Sebab yang namanya penumpang gelap, berarti penumpang haram, penumpang yang tak sah, penumpang yang naik diam-diam tak bayar ticket, atau penumpang yang menyamar. Kata gelap, umumnya memiliki cap sesuatu yang negatif. Gambaran tentang sesuatu yang tak diinginkan. Kata gelap sering diasosiasikan dengan suatu kejadian illegal atau sesuatu yang melanggar aturan. Di samping frasa penumpang gelap itu, ada ungkapan lain seperti misalnya rapat gelap, selebaran gelap, uang gelap, pasar gelap, barang gelap, kayu gelap, telepon gelap, SMS gelap, imigran gelap, kekasih gelap, dan sebagainya. Semua tak ada yang beres.

Kenakatan Mario kenekatan tingkat dewa, tapi sebaiknya jangan ditiru, begitu pula perangai politik orang-orang yang disebut sebagai penumpang gelap dan merisaukan Megawati Soekarnoputri itu. Banyak gelap perkara gelap, hanya gelap malamlah yang memberi kita peluang memandang bintang di langit.

kolom - Riau Pos 13 April 2015
Tulisan ini sudah di baca 399 kali
sejak tanggal 13-04-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat