drh. Chaidir, MM | Bulan Merah Darah | MENDUNG telah menyamun gerhana bulan di angkasa Riau.  Akibat ulah mendung tersebut banyak yang kecewa karena tak bisa menyaksikan secara langsung gerhana bulan total pada Sabtu malam (4/4) kemarin. Padahal, gerhana ini dinanti-nanti setelah gencar disosialisasikan oleh media konvensional, media onl
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bulan Merah Darah

Oleh : drh.chaidir, MM

MENDUNG telah menyamun gerhana bulan di angkasa Riau. Akibat ulah mendung tersebut banyak yang kecewa karena tak bisa menyaksikan secara langsung gerhana bulan total pada Sabtu malam (4/4) kemarin. Padahal, gerhana ini dinanti-nanti setelah gencar disosialisasikan oleh media konvensional, media online dan media sosial.
Gerhana bulan total yang kerap disebut blood moon alias bulan merah darah, sebenarnya murni fenomena alam, ketika secara sederhana dipahami, sinar matahari tak mengenai bulan karena terhalang bumi. Selama planet bumi masih konsisten beredar pada orbitnya (sambil berputar pada sumbunya) mengelilingi matahari, dan bulan setia mengitari bumi, maka fenomena gerhana tetap akan terjadi. Adakalanya posisi matahari-bumi-bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga bumi menghalangi total sinar matahari, adakalanya sipi karena orbit bumi yang eliptis.

Pada lain kesempatan, bulan pula yang menghalangi matahari menyinari bumi ketika sang bulan tepat berada antara matahari dan bumi, fenomena ini kita kenal sebagai gerhana matahari, ada yang total ada yang sipi. Teorinya, gerhana bisa dilihat kasat mata, tapi seringkali digagalkan oleh awan mendung yang tak bertimbang rasa.

Di era modern sekarang, gerhana tak lagi dikait-kaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistis. Berbeda dalam pandangan kuno. Dahulu kala, ribuan tahun Sebelum Masehi, masyarakat Tiongkok kuno misalnya, percaya bahwa terjadinya gerhana matahari disebabkan oleh adanya seekor naga yang sedang melahap matahari. Menurut legenda, dua astrolog Tiongkok saat itu, Hsi dan Ho, dieksekusi mati karena gagal dalam meramal waktu terjadinya gerhana ini.

Ada juga peradaban kuno yang percaya, terjadinya gerhana adalah karena setan memakan Matahari. Mereka berpikir bahwa cara terbaik untuk menyingkirkan setan tersebut dengan cara mengumpulkan banyak orang dan membuat suara gaduh sebanyak mungkin untuk menakut-nakuti setan tersebut agar segera pergi. Setiap orang akan berteriak-teriak dan sekeras mungkin menabuh drum atau apa saja yang bisa ditabuh.

Orang Yunani Kuno percaya bahwa gerhana adalah pertanda buruk yang datang dari dewa yang sedang marah. Gerhana matahari pada waktu itu bahkan dapat mengubah jalannya sejarah manusia. Pada tahun 585 SM, sejarawan Yunani, Herodotus mencatat, pada puncak sebuah peperangan, kegelapan jatuh di atas tanah. Rupanya. perang itu berkecamuk tepat ketika terjadinya gerhana. Para tentara yang berperang sontak memaknai, ini pertanda mereka harus berhenti berperang dan para pihak pun langsung berdamai.
Di negeri kita pun, di masa lalu, sama saja. Ketika bulan yang begitu sentral layaknya matahari di siang hari menghilang dalam proses gerhana dan warnanya menjadi merah darah, penduduk membunyikan kentongan dan membuat keributan berteriak-teriak untuk mengusir sang raksasa mitologis yang berusaha menelan bulan mereka.

Namun ilmu pengetahuan berkembang. Masyarakat kampung kita tak percaya lagi setiap kampung ada bulannya. Itu dulu sekali. Sekarang bahkan secara ilmiah dipahami, bulan yang berwarna merah darah itu terjadi lantaran cahaya matahari yang dibelokkan oleh atmosfer bumi; bumi membiaskan cahaya merah dari matahari, lalu sampai ke bulan dan menyebabkan warna merah darah. Menurut para ahli, lebih mudah dijelaskan bila manusia berdiri di bulan; manusia bakal melihat bumi dikelilingi oleh cahaya merah yang dibiaskan atmosfernya. Ciyus.

kolom - Riau Pos 6 April 2015
Tulisan ini sudah di baca 376 kali
sejak tanggal 06-04-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat