drh. Chaidir, MM | Serigala Bukan Manusia | SIAPA bilang serigala itu manusia? Tidak ada. Dalam dunia nyata, bahkan dalam ilmu biologi sekali pun, serigala ya serigala, manusia ya manusia. Tapi filsuf Inggris Thomas Hobbes (1588-1679) kelihatannya curiga, sebenarnya manusia itulah yang serigala. Sembarangan filsuf satu ini, bikin orang-orang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Serigala Bukan Manusia

Oleh : drh.chaidir, MM

SIAPA bilang serigala itu manusia? Tidak ada. Dalam dunia nyata, bahkan dalam ilmu biologi sekali pun, serigala ya serigala, manusia ya manusia. Tapi filsuf Inggris Thomas Hobbes (1588-1679) kelihatannya curiga, sebenarnya manusia itulah yang serigala. Sembarangan filsuf satu ini, bikin orang-orang sok moralis naik pitam saja. Tapi bukan filsuf namanya kalau dia tak punya argumentasi. Thomas Hobbes punya alasan, sekurang-kurangnya dalam diri manusia itu ada insting atau naluri yang sangat kuat seekor serigala.

Hobbes mungkin tidak mau menyebut dengan kasar, manusia itu bentuknya saja manusia tapi hatinya serigala. Kenapa? Karena "bellum omnium contra omnes" manusia itu suka bertempur dengan manusia lainnya demi kepentingan. Kira-kira, lebih kurang, orang kita zaman orla dan orba dulu menyebutnya demi "dua ta" yaitu harta dan tahta. Bagi penguasa lelaki hidung belang, "dua ta" menjadi "tiga ta" ("ta" yang ketiga adalah wanita).

Tidak hanya naluri primitive suka bertempur itu, manusia menurut Hobbes bahkan rela menjadi "homo homini lupus", manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya. Thomas Hobbes tidak main-main dengan hipotesisnya. Harap dicatat baik-baik, kecurigaan sang filsuf tak ada kaitannya sama sekali dengan manusia jadi-jadian seperti manusia serigala dalam sinteron "Ganteng Ganteng Serigala" atau film Twilight yang digandrungi remaja itu. Tidak, tidak ada kaitannya, ciyus.

Thomas Hobbes serius. Pemikiran yang menjadi dasar kecurigaannya adalah, Negara (memang) punya pedang kekuasaan untuk menakut-nakuti bahkan menebas manusia-manusia yang berhati serigala. Kata hatinya itu dituangkannya dalam sebuah karya yang diberi nama Leviathan (1651). Negara oleh Hobbes dipahami sebagai sebuah lembaga yang mirip, dengan apa yang disebutnya sebagai "Leviathan", sejenis monster (makhluk raksasa) yang ganas menakutkan, dan bengis. Leviathan tak hanya ditakuti tapi juga dipatuhi perintahnya.

Bagi Hobbes keberadaan Negara itu memiliki kekuatan memaksa, menghukum, dan membuat orang harus patuh padanya. Oleh karenanya, Negara harus kuat, tak boleh lemah. Jika Negara lemah , akan timbul konflik dan guncangan, anarki, bahkan perang sipil. Bila Negara lemah, Negara tak akan mampu mengendalikan pertengkaran antara warganya yang memiliki agenda kepentingan. Sebab, dalam pandangan filsufis tentang watak dasar (state of nature) manusia yang kuat, manusia cenderung memiliki insting (naluri) hewani yang kuat; untuk mencapai tujuannya, manusia juga cenderung menggunakan naluri hewaniahnya, bahkan tak segan saling bunuh.

Untunglah bukan serigala yang memiliki akal seperti manusia, tapi manusialah yang memiliki insting seperti serigala. Andai serigala memiliki akal, habislah kita, serigala yang berpikir akan lebih berbahaya dan kejam daripada begal yang paling berbahaya sekalipun. Sebab dalam berbagai segi serigala memiliki keunggulan bila harus duel (tanpa senjata) satu lawan satu dengan manusia.

Sebab serigala memiliki taring yang sangat tajam dan juga memiliki rahang yang sangat kuat. Para ahli menyebut, kekuatan tekanan rahang serigala lebih dari 250 kilogram per inci, jauh melebihi kekuatan rahang manusia. Mana ada manusia punya taring yang bisa merobek-robek mangsanya. Indera pendengaran serigala dua puluh kali lebih awas dibanding manusia. Dalam indera penciuman, serigala seratus kali lebih tajam daripada manusia. Oleh karena itu tidak heran, dalam jarak puluhan kilometer serigala bisa mencium bau badan manusia, apalagi ditolong oleh arah angin.

Penglihatan serigala juga sangat tajam. Serigala memiliki retina reflektif yang dapat meningkatkan kemampuan penglihatan di malam hari sehingga memudahkan mereka untuk berburu. Jangan cari lawan serigala dalam gelap, itu sama dengan mengantar nyawa. Jangan juga adu lari dengan serigala, sebab serigala punya stamina yang bagus, mereka mampu berlari 40 mil per jam atau kira-kira 70 km/jam. Dengan stamina yang bagus, senjata yang mematikan, dan perlengkapan indera yang lebih canggih, serigala tentu akan menjadi amat sangat berbahaya bila seandainya sedikit memiliki akal seperti manusia.

Se serigala-serigalanya manusia, manusia punya nalar untuk berdamai, manusia masih punya akal budi, dan masih punya lubuk hati. Manusia masih menyisakan ruang kompromi untuk membuat kontrak sosial seperti dicontohkan moyang-moyang kita dulu. Bila ruang itu sudah tidak ada, berarti manusia itu sungguh sama dengan serigala. Kunci pintu, siapkan bedil.

kolom - Koran Riau 31 Maret 2015
Tulisan ini sudah di baca 590 kali
sejak tanggal 31-03-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat