drh. Chaidir, MM | Sensasi Baru Partai Golkar | KAMIS 25 Februari malam, beberapa hari lalu, Ketua Umum DPP Partai Golkar (PG), Aburizal Bakrie melantik DR Indra Mukhlis Adnan sebagai ketua DPD I PG Provinsi Riau periode 2010-2015. Secara bersamaan dilantik pula pengurus lengkap PG Provinsi dan DPD II PG Kabupaten/Kota.

Sebenarnya pelantikan i
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sensasi Baru Partai Golkar

Oleh : drh.chaidir, MM

KAMIS 25 Februari malam, beberapa hari lalu, Ketua Umum DPP Partai Golkar (PG), Aburizal Bakrie melantik DR Indra Mukhlis Adnan sebagai ketua DPD I PG Provinsi Riau periode 2010-2015. Secara bersamaan dilantik pula pengurus lengkap PG Provinsi dan DPD II PG Kabupaten/Kota.

Sebenarnya pelantikan itu adalah peristiwa biasa. Namun bagi Provinsi Riau pelantikan pengurus PG selalu memiliki makna khusus. Sensasinya selalu dikaitkan dengan suksesi kepemimpinan daerah baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota. Tidak hanya itu. Pengurus teras PG juga memberikan bayangan para politisi yang kelak akan duduk di lembaga legislatif di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Keberadaan para politisi PG di eksekutif dan legislatif memunculkan pula gambaran arah pembangunan daerah ini ke depan. Politisi PG lebih cenderung melakukan perubahan secara konservatif dan gradual. Bertahap, aman dan terkendali.

Tercatat dalam bilik sejarah, PG Riau belum pernah mengalami kekalahan dalam setiap kali pemilu legislatif dilaksanakan. Tiga kali pemilu legislatif multi partai pasca reformasi (1999, 2004 dan 2009), semuanya dimenangkan oleh PG. Padahal secara nasional dalam Pemilu 1999 PG dikalahkan oleh PDI Perjuangan. Pada 2004 PG berhasil menang, namun pada pemilu 2009 kemenangan itu dirampas oleh Partai Demokrat.

Pada Pemilu legislatif 2009 banyak pengamat memperkirakan PG akan kalah. Tetapi dengan adanya perubahan peraturan pemilu, pememang diberikan kepada caleg dengan perolehan suara terbanyak, situasi berubah total. Semua Caleg PG bergerak dengan mobilitas tinggi. Hasilnya luar biasa. PG di Riau memenangkan pemilu legislatif (Partai Golkar 15 kursi, jauh di atas pemenang kedua, Partai Demokrat, 8 kursi).

Secara nasional kemunduran PG pada pemilu 2009, kelihatannya memperoleh momentum kebangkitan di tangan Ketua Umum "Ical" Aburizal Bakrie. Apalagi kemudian Ical muncul dengan berbagai pemikiran. Dan yang paling hangat untuk konsumsi masyarakat Riau adalah sikap PG yang memberi sensasi khas terhadap pemilukada di Riau.

Sikap PG sebagaimana disampaikan Ketumnya belum pernah terjadi sebelumnya. Sekurang-kurangnya, untuk tiga daerah (Bengkalis, Dumai dan Inhu), Partai Golkar terkesan mengorbankan kader murni partainya, dengan memberikan dukungan resmi terhadap kandidat yang bukan berasal dari kader murni. Di Dumai, PG mendukung Zul As (Ketua Partai Demokrat Riau). Di Bengkalis, PG mendukung Sulaiman Zakaria (Sulaiman Zakaria kemudian dimasukkan dalam jajaran Pengurus DPD PG Riau; hal ini tentu menimbulkan konsekuensi karena yang bersangkutan masih resmi menjabat Sekda Kab Bengkalis). Di Inhu, PG mendukung T Razmara (Sekda Kab Inhu, mungkin T Razmara akan segera direkrut menjadi pengurus Partai Golkar). Menariknya, Ketua Umum memperbolehkan Pengurus Golkar untuk tetap maju mencalonkan diri dalam pemilukada dengan menggunakan perahu lain. Artinya, pengurus PG boleh melawan keputusan partai. Jurus apa sesungguhnya yang dimainkan PG?

Adakah ini pertanda PG sebagai asset bangsa semakin demokratis dengan mengedepankan kepentingan rakyat, sesuai dengan doktrin dan Ikrar Panca Bhakti-nya? Bagaimana pun, sensasi itu sebuah logika tak biasa. Menarik untuk kita saksikan.


Satu Pengantin Satu Pohon - Riau Pos 22 Februari 2010
Oleh drh Chaidir

GERAKAN penanaman pohon mendapat respon sangat positif dari masyarakat. Bentuknya macam-macam, ada kegiatan Indonesia Menanam, ada gerakan Sejuta Pohon, kegiatan Go Green, Save Our Planet, dan sebagainya.

Hari Ahad, kemaren pagi, ada lomba menanam pohon, yang diikuti adik-adik pramuka, dalam bentuk One Man One Tree sempena HUT ke-19 Harian Riau Pos. Kegiatan-kegiatan tersebut kendati masih terkesan sebagai kegiatan yang dimobilisasi, namun tidak bisa dipungkiri kesadaran ekologis telah tumbuh kuat di tengah masyarakat, planet bumi ini perlu diselamatkan.

Seperempat abad terakhir ini, penebangan hutan alam memang luar biasa hebatnya. Kendati aktivis lingkungan hidup selalu berteriak, stop penebangan, tapi kenyataannya penebangan terus saja berlanjut. Satu orang pengusaha kehutanan telah menebang ribuan pohon hutan alam, dengan izin atau tanpa izin. Dampaknya sama saja buruknya, hutan alam habis, lahan menjadi gundul. Akibatnya banjir di musim hujan, air sungai mengering di musim kemarau, asap, kekeringan, udara bertambah panas, oksigen menipis, angin puting beliung, satwa dan plasma nutfah punah, dan sebagainya.

Pada 1969, baru empat puluh tahun lalu, penulis masih mengumpulkan kayu bakar dari hutan, berupa ranting-ranting dan kayu mati, di areal dimana sekarang telah berdiri megah Gedung DPRD Riau, Gedung BPK, Hotel Sahid, Gedung Guru, Gedung Idrus Tintin, dan lain-lain gedung termasuk ruko mewah. Sesungguhnya, sebagian besar kota metropolitan Pekanbaru, masih merupakan kawasan hutan. Bahkan konon, sampai sekarang status Pekanbaru sebagai kawasan hutan berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) belum lagi direvisi. Siapa yang bertanggung jawab?

Hutan dirambah jadi kota. Kota kembali ditanam pohon dijadikan hutan. Inilah arus balik kehidupan. Sebuah kesadaran ekologis yang datang kemudian. Kita memang sudah tersesat jauh, maka langkah yang tepat adalah kembali ke pangkal jalan, dengan menanam kembali sebatang pohon untuk mengganti ribuan pohon yang telah ditebang. Tidak usah malu. Mungkin itu bisa memperlambat proses membaranya planet bumi ini, menipisnya oksigen dan mengeringnya sungai-sungai.

Lomba menanam pohon adalah sebuah kegiatan yang sangat bagus. Andaikan 800 ribu warga Pekanbaru menanam masing-masing satu batang pohon, maka akan ada 800 ribu pohon yang akan tertanam. Alangkah cantiknya bila kesadaran ekologis itu, juga bersemi di sanubari para penebang hutan alam nun di tengah hutan sana, sehingga secara sadar menghentikan penebangan.

Tapi baiklah, kita jadikan saja menanam pohon menjadi tradisi dalam setiap acara seremonial. Bukankah banyak acara seremonial? Pelajar baru SLTP, pelajar baru SLTA, Mahasiswa baru harus menanam sebatang pohon dalam masa orientasi, demikian juga para wisudawan. CPNS, calon pengantin, pengurusan SIM, pengurusan KTP, semua harus menanam pohon. Upacara di halaman kantor diganti dengan acara menanam pohon. Tamu-tamu kehormatan juga diminta menanam pohon. Lokasi diatur Pemda/Pemprov, bibitnya disediakan gratis oleh pengusaha kehutanan. Simbiose mutualistik. Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan kita lihat hasilnya. Amboi hijaunya. Sejuk mata memandang.

kolom - Riau Pos 28 Pebruari 2010
Tulisan ini sudah di baca 1593 kali
sejak tanggal 28-02-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat