drh. Chaidir, MM | Walikota Risma | KEPEMIMPINAN tak pernah usang untuk dibicarakan walau zaman berganti zaman.  Mulai sejak peradaban kuno seperti Babilonia, Mesir, Assiria, Persia, Yunani, Romawi, sampai ke era modern seperti sekarang, kepemimpinan tetap menjadi isu sentral. Kepemimpinan yang kuat selalu didambakan, namun kepemimpin
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Walikota Risma

Oleh : drh.chaidir, MM

KEPEMIMPINAN tak pernah usang untuk dibicarakan walau zaman berganti zaman. Mulai sejak peradaban kuno seperti Babilonia, Mesir, Assiria, Persia, Yunani, Romawi, sampai ke era modern seperti sekarang, kepemimpinan tetap menjadi isu sentral. Kepemimpinan yang kuat selalu didambakan, namun kepemimpinan juga sering dicurigai sebagai penyebab munculnya berbagai masalah dalam penyelenggaraan pemerintahan di sebuah negeri sehingga menyebabkan negeri tersebut berstatus salah urus.

Melalui kepemimpin seorang raja atau penguasa, tak terhitung dinasti yang tumbuh berkembang, mencapai masa keemasan, kemudian mengalami krisis dan akhirnya runtuh. Bahkan ada bangsa yang musnah dari muka bumi akibat kekejaman penguasa penakluk. Sejarah mencatat, kekejaman luar biasa itu misalnya, dilakukan oleh Raja Assiria Tigladpilesar III terhadap bangsa-bangsa yang ditaklukkannya dengan mencampur-adukkan bangsa-bangsa itu satu sama lain dan memusnahkan mereka untuk selama-lamanya.

Akan tetapi, seperti ditulis Abu Bakar Ebyhara (2010), juga ada peradaban yang dipimpin oleh raja-raja yang berbudi-pekerti baik dan arif bijaksana, misalnya Raja Babilonia Hammurrabi (sekitar 1.800 SM), yang setelah menguasai Babilonia Selatan dan menjadi raja pertama dari seluruh Babilonia menghapus pertentangan-pertentangan bangsa itu dengan suatu perundang-undangan. Dia menegakkan persatuan baru, yaitu Babilonia yang tak terbagi-bagi, dengan Babilon sebagai ibukotanya. Raja Hammurrabi dikenal sebagai pembuat undang-undang tertua yang dikenal sejarah.

Kepemimpinan adalah cara atau seni seorang pemimpin atau penguasa memengaruhi dan menggerakkan sumber daya organisasinya atau para pengikutnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metodanya bisa kejam dengan melakukan penindasan, bisa otoriter alias bertangan besi, bisa pula konsultatif akomodatif penuh dengan sentuhan kemanusiaan.

Penyair Yunani Kuno Euripides (480-406 SM) menulis, "Sepuluh serdadu yang dipimpin dengan bijak dapat mengalahkan seratus serdadu musuh yang tidak punya pemimpin." Demikian pentingnya keberadaan pemimpin dengan kepemimpinannya, sehingga ada yang berpendapat secara ekstrim dan agak ngawur keberadaan pemimpin yang zalim masih lebih baik ketimbang masyarakat tanpa pemimpin.

Tema kepemimpinan akan menjadi isu aktual menjelang pemilihan kepala daerah serentak di sembilan kabupaten/kota di Riau bulan Desember tahun ini. Isunya: pilih pemimpin atau penguasa? Isu itu wajar, sebab, setelah lebih dari lima belas tahun pelaksanaan otonomi daerah dan sejak sepuluh tahun terakhir rakyat diberi peluang untuk memilih secara langsung kepala daerahnya masing-masing, ternyata tidak semua daerah beruntung memperoleh kepala daerah yang sungguh-sungguh sehati dengan rakyatnya. Perasaan salah pilih, sesal kemudian, tak jarang kita dengar. Harapan tak sesuai kenyataan.

Setelah terpilih, kepala daerah terperangkap dalam ego kekuasaan, tidak benar-benar fokus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Kepemimpinan tidak efektif dan efisien memanfaatkan sumber daya pembangunan, padahal sumber daya kita melimpah. Mungkin kita perlu studi banding ke Surabaya belajar dari Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang pekan lalu ditetapkan oleh Fortune sebagai "50 pemimpin besar di dunia", sejajar dengan CEO Apple, Tim Cook, Presiden Bank Central Eropa Mario Draghi dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Walikota Risma bahkan ditempatkan setingkat di atas pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Amboi.

kolom - Riau Pos 30 Maret 2015
Tulisan ini sudah di baca 412 kali
sejak tanggal 30-03-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat