drh. Chaidir, MM | Elegi Nenek Asyani | MASIH ingatkah kisah Nenek Minah? Nenek berusia 55 tahun ini pada 19 November 2009 silam  divonis  hukuman 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian. Nenek Minah memetik 3 buah kakao di perkebunan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Elegi Nenek Asyani

Oleh : drh.chaidir, MM

MASIH ingatkah kisah Nenek Minah? Nenek berusia 55 tahun ini pada 19 November 2009 silam divonis hukuman 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian. Nenek Minah memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan di Jawa Tengah.

Diberitakan berbagai media ketika itu, ketua majelis hakim, Muslih Bambang Luqmono SH meneteskan air mata saat membacakan vonis. "Kasus ini kecil, namun sudah melukai banyak orang," ujar Muslih. Tiga buah kakao yang dipetik secara tidak sah oleh Nenek Minah, harganya tidak lebih dari Rp 10.000. Untuk datang ke sidang pengadilan kasusnya, Nenek Minah yang buta huruf dan miskin itu harus meminjam uang Rp 30.000 sebagai biaya transportasi dari rumah ke pengadilan yang memang jaraknya cukup jauh.

Masih ingat pengadilan kasus pencurian sandal jepit (4/1/2012)? AAL (15) pelajar SMK 3, Palu, Sulawesi Tengah, ketika itu diadili di meja hijau dengan tuduhan mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap, anggota Brimob Polda Sulteng. AAL memang dibebaskan dari hukuman dan dikembalikan kepada orangtuanya. Namun, majelis hakim memutus AAL bersalah karena mencuri barang milik orang lain.

Kini dalam sepekan terakhir ini, Nenek Asyani (63) pula yang ramai diperbincangkan. Nenek Arsyani dikurung karena dituduh mencuri kayu di lahan milik perhutani di Situbondo, Jawa Timur. Asyani didakwa mencuri tujuh potong kayu jati. Ia dikenakan Pasal 12 juncto Pasal 83 UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman penjara lima tahun penjara.

Di Yogyakarta, Harso Taruno (65), warga Dusun Bulurejo, Desa Kepek, Saptosari, Gunung Kidul, yang didakwa mencuri kayu di hutan Margasatwa BKSDA Paliyan, beruntung dibebaskan oleh Majelis hakim yang diketuai Yamti Agustina (17/3/2015). Kasus ini bermula pada 26 September 2014, saat itu Harso menyingkirkan kayu yang menutup ladang milik BKSDA yang disewanya. Kayu tersebut melintang dan tidak tahu siapa yang menebang. Karena tidak kuat membawa Harso memotong kayu menjadi tiga bagian dan diletakkan di pinggir ladang. Polisi lantas menangkapnya dan menahan Mbah Harso selama 1,5 bulan.

Mencuri atau mengambil barang orang lain sekecil apa pun tanpa izin tentu saja merupakan perbuatan melanggar hukum. Dan hukum memang harus ditegakkan. Namun, apakah penegakan hukum ini sudah memenuhi rasa keadilan di masyarakat? Inilah persoalannya. Masyarakat sudah terlanjur bercuriga. Lihat saja bagaimana oknum pejabat, koruptor, dan para pelaku illegal logging, mereka yang membegal APBD, APBN, menebang hutan sesuka hati dengan jurus akal-akalan, umumnya diperlakukan istimewa dengan vonis yang ringan. Dengan berbagai fasilitas khusus, mereka pun bisa melenggang ke luar penjara.

Maka menurut Guru Besar Hukum Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, hukum kita tajam ke bawah tumpul ke atas. Prof Hikmahanto agaknya benar. Negara seharusnya peka terhadap rasa ketidakadilan rakyat yang terus menerus dibegal oleh para penyamun hukum yang telah kehilangan kata hati. Kemana sitawar sidingin hendak dicari?

kolom - Riau Pos 23 Maret 2015
Tulisan ini sudah di baca 473 kali
sejak tanggal 23-03-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat