drh. Chaidir, MM | Jagalah Muka | TIDAK ada orang yang mau kehilangan muka. Muka itu eksistensi. Tak ada muka berarti hantu. Atau, harga diri seseorang telah runtuh. Muka memiliki air muka yang mencerminkan sejuta rasa. Air muka terlihat cerah bila hati senang, muram bila sedang dirundung masalah. Air muka bisa pula pucat pasi bila
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jagalah Muka

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada orang yang mau kehilangan muka. Muka itu eksistensi. Tak ada muka berarti hantu. Atau, harga diri seseorang telah runtuh. Muka memiliki air muka yang mencerminkan sejuta rasa. Air muka terlihat cerah bila hati senang, muram bila sedang dirundung masalah. Air muka bisa pula pucat pasi bila sedang takut, atau merah padam bila sedang merasa marah atau malu.

"Mau kuletakkan dimana mukaku", ungkapan seperti itu sering kita dengar bila seseorang merasa malu atau dipermalukan. Kehilangan muka memang jadi masalah yang sangat serius dan bisa jadi runyam. Sayangnya kehilangan muka tak bisa dilaporkan ke polisi. Belum ada preseden polisi bisa menerbitkan surat keterangan kehilangan muka.

Demikian pentingnya menegakkan muka menghindari malu, sampai ada ungkapan, daripada hidup menanggung malu lebih baik mati berkalang tanah. Dalam sejarah Melayu, tokoh Demang Lebar Daun sampai perlu mengingatkan menantunya, Yang Dipertuan Raja Sang Sapurba, bila rakyatmu salah, hukumlah. Bahkan bila mereka patut dihukum mati, hukumlah, tapi jangan sekali-kali dipermalukan. Makna pesan Demang Lebar Daun terang benderang, harga diri tak bisa dipermainkan.

Heboh sengketa APBD antara Gubernur A Hok vs DPRD DKI Jakarta menyiratkan banyak pesan kepada para penyelenggara Negara baik di pusat mau pun di daerah. Sengketa itu kelihatannya sudah sampai pada stadium, banyak pihak yang merasa kehilangan muka (loosing face). Bila demikian posisinya, wajarlah para pihak bertempur habis-habisan, seperti kita saksikan di media massa. Permainannya zero sum game (saling menghancurkan). Pintu kompromi untuk mendapatkan solusi win-win kelihatannya sudah tertutup. Kalau zero sum game, menang jadi arang kalah jadi abu. Rakyat gigit jari.

Biang kerok sengketa yang memalukan dan memilukan tersebut adalah buruknya komunikasi politik antar lembaga. Kepala Daerah dan DPRD sesungguhnya adalah dua lembaga yang berada dalam satu kotak besar yang bernama pemerintahan daerah. Dalam perspektif konstitusi, kedua lembaga ibarat dua sisi koin, bisa dibedakan tapi tak bisa dipisahkan. Kedua lembaga berada di bawah payung Pasal 18 UUD 1945 yang mengatur tentang pemerintahan daerah. Oleh karena itu komunikasi politik yang baik antar kedua lembaga menjadi keniscayaan dan sangat strategis. Komunikasi politik disebut oleh para pakar sebagai urat nadi dalam proses politik pembentukan kebijakan publik.

Perloff, R.M. (2014) dalam bukunya The dynamics of political communication: Media and politics in a digital age, mendefinisikan komunikasi politik sebagai proses ketika pemimpin, media, dan warganegara suatu bangsa bertukar dan menyerap makna pesan yang berhubungan dengan kebijakan publik. Dalam definisi ini, Perloff menjadikan media sebagai pihak yang ikut melakukan komunikasi politik. Dengan kata lain, media memiliki peran penting menciptakan iklim kondusif dalam komunikasi politik kedua lembaga; seharusnya tidak menggunakan bangunan pendekatan yang sama dalam hubungan eksekutif-legislatif di pusat dan di daerah.

Namun bagaimana pun dalam iklim yang cenderung provokatif dewasa ini, di samping pentingnya meningkatkan pemahaman terhadap kedudukan di hadapan konstitusi, yang lebih penting lagi supaya tak kehilangan muka, jangan buat malu lembaga. Itulah sebaik-baik ikhtiar untuk menjaga muka. Bila sudah terlanjur, jangan tegakkan benang basah. Segera saja mengaku salah. Tangan mencincang bahu memikul.

kolom - Riau Pos 9 Maret 2015
Tulisan ini sudah di baca 379 kali
sejak tanggal 09-03-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat