drh. Chaidir, MM | Predator Koruptor | MANUSIA memang imajinatif. Dalam dunia nyata, buaya bukan predator bagi cicak, demikian sebaliknya. Mangsa utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska (semua hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang, seperti berbagai jenis s
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Predator Koruptor

Oleh : drh.chaidir, MM

MANUSIA memang imajinatif. Dalam dunia nyata, buaya bukan predator bagi cicak, demikian sebaliknya. Mangsa utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska (semua hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang, seperti berbagai jenis siput, kerang-kerangan, serta cumi-cumi dan kerabatnya), dan juga krustasea (lobster, kepiting dan udang).

Namun sebagai salah satu binatang terbuas di dunia, buaya sesungguhnya tak pandang bulu dalam memilih mangsa (berbulu atau tak berbulu sama saja). Semua mereka sergap. Itik, burung, kambing, anjing, babi, sapi, kerbau bahkan orang pun tak terkecuali. Bahkan buaya besar tak segan-segan memangsa buaya-buaya kecil atau bangkai temannya sekali pun.

Cicak tak pernah disebut-sebut dalam ilmu hewan dimangsa oleh buaya. Alasannya sederhana. Kedua makhluk ini beda habitat, walau mereka berkerabat dekat, sama-sama termasuk hewan reptil. Cicak adalah reptil kecil yang biasa merayap di dinding-dinding rumah, di tembok, di loteng atau di pepohonan. Sedangkan buaya adalah reptil bertubuh besar, habitatnya perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada pula yang hidup di air payau seperti buaya muara.

Kendati buaya dapat hidup di darat, mereka tak pernah dilaporkan berburu cicak di dinding-dinding rumah, apalagi mengejar cicak yang merayap di loteng rumah. Cicak tak penting sebagai menu pengobat lapar, karena ukurannya terlalu kecil untuk membuat kenyang sang buaya, percuma. Di samping itu buaya juga tak memiliki kemampuan merayap di dinding-dinding vertikal, apalagi menempel terbalik di loteng seperti yang biasa dilakukan cicak.

Namun kini untuk kesekian kalinya episode pertempuran cicak vs buaya kembali dipertontonkan. Hasilnya, menyelesaikan masalah dengan masalah. Ketika seluruh perhatian tertuju pada cicak vs buaya, sang tikus yang diidentikkan sebagai koruptor diam-diam ikut bertepuk tangan dan sebagian lainnya dengan leluasa menggerogoti lumbung padi, luput dari perhatian.

Cicak vs buaya dicetuskan oleh Komjen Pol Susno Duadji (Kabareskrim POLRI) pada 2009 ketika terjadi gesekan hebat yang melibatkan Susno Duadji itu sendiri. KPK dipersonifikasikan sebagai cicak sementara Kepolisian sebagai buaya. "Cicak kok mau melawan buaya", ujar Susno. Sejak saat itu, frasa tersebut menjadi populer. Tiga tahun kemudian pada bulan Juli 2012, perseteruan KPK vs Polri kembali terbuka, kali ini melibatkan Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka kasus korupsi dalam proyek simulator ujian SIM. Tiga tahun berselang, perseteruan kembali terjadi. Komjen Pol Budi Gunawan gagal menjadi Kapolri setelah KPK menetapkannya sebagai tersangka. Polri membalas dengan menetapkan dua Pimpinan KPK sebagai tersangka untuk beberapa kasus. Abraham Samad dan Bambang Wijoyanto pun tumbang.

Presiden Jokowi memang telah menetapkan Komjen Badrodin Haiti sebagai calon tunggal Kapolri pengganti Komjen Budi Gunawan dan menetapkan tiga Plt Pimpinan KPK untuk mengisi Pimpinan KPK yang kosong (satu posisi memang kosong ditinggal pensiun Busyro Moqoddas). Tak ada yang salah dengan kewenangan presiden selaku kepala negara. Kedua lembaga adalah instrumen Negara, keduanya sama-sama predator; Polri mangsanya adalah penjahat, perampok, dan para pelanggar kamtibmas. KPK juga predator , mangsanya adalah koruptor kelas kakap. Kalau kedua predator terlalu akrab, rakyat patut bercuriga, jangan-jangan keduanya saling mengamankan. Oh Tidak!

kolom - Riau Pos 23 Februari 2015
Tulisan ini sudah di baca 396 kali
sejak tanggal 23-02-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat