drh. Chaidir, MM | Rakyat Tak Jelas | LUPAKAN sejenak batu akik yang telah terlalu banyak menyita ruang publik, sampai-sampai bocoran percakapan rahasia antara Presiden Jokowi dan Prabowo pun diplesetkan. Seperti dimuat beberapa media online, Jokowi setelah berbasa-basi, mulai bicara serius:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Rakyat Tak Jelas

Oleh : drh.chaidir, MM

LUPAKAN sejenak batu akik yang telah terlalu banyak menyita ruang publik, sampai-sampai bocoran percakapan rahasia antara Presiden Jokowi dan Prabowo pun diplesetkan. Seperti dimuat beberapa media online, Jokowi setelah berbasa-basi, mulai bicara serius: " ... semua fakta tentang AS, BG dan BW berada di dalam kotak ini Pak Prabowo. Bagaimana menurut pendapat Bapak?"

Pemberitaaan seputar AS (Abraham Samad), BG (Budi Gunawan) dan BW (Bambang Wijoyanto) memang sedang menjadi isu hangat di tengah masyarakat, oleh karena itu wajar pembaca berasosiasi bila akronim tersebut muncul pada awal pembicaran Jokowi-Prabowo. Gerangan apa rahasia yang ada dalam kotak tersebut? Mata pun jalang menatap baris-baris berita berikutnya.

Prabowo, seperti diberitakan, menjawab dengan kalem. "Untuk masalah AS, ini saya bisa memastikan bahwa ini asli Pak. Cuman nampaknya bukan dari kualitas grade A. Sedangkan untuk BG ini umum di pasaran. Warnanya agak kurang cemerlang. Secara bentuk dan warna saya lebih tertarik pada BW...." Ternyata AS yang dimaksud adalah Akik Safir, BG adalah Batu Giok, dan BW adalah Bacan Weda. Kesemuanya nama-nama batuk akik kelas atas.

Pembicaraan imajiner tersebut menggambarkan betapa masyarakat kita sedang terserang demam batu akik akut, sehingga lebay dan cuai terhadap hal-hal lain. Tak masalah. Tapi mari sejenak (sejenak sahaja Tuan), kita diam-diam pasang muka serius di depan cermin, menatap diri kita sendiri, melakukan komunikasi intrapersonal, seperti apa sesungguhnya persepsi kita tentang istilah rakyat, sebuah istilah yang umum dan sering kita dengar dalam berbagai pembicaraan dengan berbagai konteks.

Masalahnya, "rakyat", seperti ramai diberitakan di media massa dalam beberapa pekan terakhir ini, mendapat atribut baru yang tidak nyaman setelah Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopolhukam), Tedjo Edhy Purdijanto menyebut, rakyat yang datang ke KPK untuk mendukung KPK adalah rakyat tidak jelas. "KPK berdiri sendiri dia. Kuat dia. Konstitusi yang akan mendukung, bukan dukungan rakyat enggak jelas itu," ujarnya (24/1) seperti dimuat berbagai media. Ucapan tersebut tentu saja memicu kemarahan masyarakat. Bahkan LSM Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) membuat pengaduan ke Bareskrim Polri.

Maka praktik bully mem-bully pun tak terhindarkan. Secara tatakrama pemerintahan, mungkin masalahnya sudah dianggap selesai ketika Presiden Jokowi dan Wapres JK sudah menasehati Sang Menteri. Tapi ketika situasi sudah agak tenang, kita memiliki kesempatan untuk ambil nafas dan melakukan kontemplasi. Terasa ada sesuatu yang salah. Masalah "rakyat tak jelas" itu menyiratkan banyak hal. Siapa pun pasti tak rela di-bully, rakyat pula tak rela dianggap tak jelas. Mengutip frasa Cita Citata, "Sakitnya tuh di sini". Apa akar masalahnya?

Menteri Tedjo mungkin hanya puncak dari sebuah gunung es permasalahan kapasitas komunikasi (lebih-lebih komunikasi intrapersonal), dan kapasitas verbal masyarakat kita pada umumnya. Nasihat bijak orang-orang tua kita, biar harimau di perut kambing juga yang dikeluarkan. We are judged each day by our speech, kata pakar komunikasi Dale Carnegie. Maksudnya, kita dinilai melalui ucapan kita sehari-hari. Dengan kata lain, mulutmu harimaumu. Nah lu.

kolom - Riau Pos 9 Februari 2015
Tulisan ini sudah di baca 350 kali
sejak tanggal 09-02-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat