drh. Chaidir, MM | Sang Buaya dan Burung Plover | ADAGIUM klasik politik
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sang Buaya dan Burung Plover

Oleh : drh.chaidir, MM

ADAGIUM klasik politik "tak ada lawan dan kawan abadi" tak berlaku dalam persahabatan buaya dan burung plover. Persabatan dua bangsa yang berbeda dan sama sekali tak ada hubungan sanak famili ini, "tak lapuk dek hujan tak lekang dek panas", juga tak tergoyahkan oleh fenomena materialisme, "ada uang abang sayang tak ada uang abang melayang." Persahabatan mereka abadi laksana matahari dan bulan. Padahal dengan panas dan energi dahsyat yang dimiliki matahari, bulan bisa hancur dilumat dalam sekejap mata.

Siapa tak kenal buaya? Hewan ini termasuk sepuluh hewan yang paling ganas di dunia dan paling berbahaya bagi manusia. Dengan kekuatan luar biasa tubuhnya, kekuatan rahang, ketajaman gigi, dan nafsu makan hebat tak puas-puas, buaya bisa menelan mangsanya, dalam menu segar atau bangkai tak jadi masalah. Keganasan itulah yang menjadi simbol kekuasaan buaya, mereka tak memiliki tanduk yang runcing seperti kerbau atau auman yang menggetarkan seperti harimau.

Tapi terhadap burung plover yang kecil tak bertenaga, buaya tak hendak menggunakan kekuasaannya itu. Padahal dalam sekerdip mata dan semudah membalik telapak tangan, kekuasaannya itu bisa digunakannya kapan saja dan dimana saja untuk menyantap burung plover sebagai cemilan. Apalagi burung ploverlah yang dengan sengaja hinggap dan masuk ke mulut buaya. Tak ada yang bisa menggugat bila sang buaya misalnya mengatupkan mulutnya ketika burung plover sedang berada di dalam, tak ada hak asasi yang dilanggar, sebab buaya punya hak prerogatif untuk menyantap apa saja yang berada di dekatnya, apalagi makanan itu sudah berada mulutnya. Siapa suruh masuk mulut buaya? Kenyataannya, burung plover aman dan bahkan nyaman berada dalam mulut buaya yang sedang menganga tersebut.

Jampi-jampi apakah yang dibaca burung plover sehingga buaya tetap tenang membuka mulut dan tak mau mengatupkannya? Tak ada jampi-jampi (bila tak percaya tanyalah burung plover). Kalangan ilmuwan menyebut, itu instink simbiosis mutualistik yang dimiliki buaya dan burung plover, yakni suatu kerjasama yang saling menguntungkan antara dua makhluk hidup. Buaya membuka mulutnya lebar-lebar, yang dipenuhi gigi-gigi tajam itu, dan sang burung masuk ke dalamnya memakan sisa-sisa makanan yang menyelip di gigi sang buaya. Hasilnya, burung plover kenyang, dan gigi sang buaya pun bersih seperti baru selesai sikat gigi. Karena giginya selalu dibersihkan sang burung, maka buaya tak pernah terkena infeksi gigi. Oleh karena itulah buaya tak memerlukan dokter gigi.

Bila burung plover masih merasa belum puas, mereka diizinkan hinggap di punggung buaya untuk tujuan yang sama. Buaya dan burung plover tak sendiri. Persahabatan simbiosis mutualistik juga terjadi antara kerbau dan burung jalak yang selalu hinggap di punggung kerbau. Burung jalak kenyang, punggung kerbau pun jadi bersih.

Di tengah "hattrik" cicak vs buaya yang sekarang banyak menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran, kita seringkali lupa pada substansi, bahwa sesungguhnya, semua institusi Negara yang ada, tujuannya adalah untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan berkeadilan. Korupsi adalah musuh keduanya. Kenapa kita tidak bercermin pada semangat simbiose mutualisme buaya dan burung plover itu? Bukankah manusia itu homo sapiens, si pemikir?

kolom - Riau Pos 26 Januari 2015
Tulisan ini sudah di baca 990 kali
sejak tanggal 26-01-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat