drh. Chaidir, MM | Titian Berakuk | BUAH simalakama. Maju kena mundur kena. Dengan kata lain dilematis. Bahasa gaulnya, galau tingkat dewa. Itulah posisi Presiden Jokowi sejauh yang terlihat secara kasat mata secara awam dalam heboh pengisian jabatan Kapolri dalam beberapa hari terakhir ini. Bila Jenderal Pol Budi Gunawan tetap diangk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Titian Berakuk

Oleh : drh.chaidir, MM

BUAH simalakama. Maju kena mundur kena. Dengan kata lain dilematis. Bahasa gaulnya, galau tingkat dewa. Itulah posisi Presiden Jokowi sejauh yang terlihat secara kasat mata secara awam dalam heboh pengisian jabatan Kapolri dalam beberapa hari terakhir ini. Bila Jenderal Pol Budi Gunawan tetap diangkat, Presiden pasti dicibir menelan ludah sendiri dalam hal komitmen anti korupsi; bila tidak diangkat, bisa dianggap tak menghargai DPR.r/n/r/n/Dalam hal mekanisme pengangkatan Kapolri, tak ada yang salah, semua berjalan normatif. Presiden mengirimkan satu nama calon untuk mendapatkan persetujuan DPR. Komisi III DPR sesuai dengan bidangnya, melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap sang calon. Hasil uji tersebut dibawa ke sidang paripurna DPR untuk mendapatkan persetujuan final DPR. Selanjutnya Presiden mengangkat calon yang telah mendapatkan persetujuan DPR.r/n/r/n/Dalam mekanisme, Presiden boleh mengajukan hanya satu nama calon Kapolri kepada DPR, artinya, juga boleh lebih dari satu nama. Presiden juga boleh mengangkat atau tidak mengangkat calon yang telah mendapatkan persetujuan DPR, dan DPR tidak bisa memaksa Presiden untuk melantik. Itu hak prerogatif Presiden. Masalah kemudian muncul ketika sang calon Kapolri dipersengketakan diduga tersandung masalah hukum. Bahkan KPK menetapkan sang calon sebagai tersangka sebagaimana ramai diberitakan media massa.r/n/r/n/Pertanyaannya, kenapa keterlanjuran ini terjadi? Presiden Jokowi pada awalnya membuat sementara kalangan under estimate (anggap remeh) dengan kemampuannya. Tapi Jokowi mementahkan anggapan itu satu persatu. Pertama, ketika Jokowi dengan cerdik mengimbangi superioritas Prabowo dalam debat capres di televisi; kedua, Jokowi yang dianggap tak bisa berbahasa Inggris, menjawabnya dengan menyampaikan pidato bahasa Inggris tanpa teks dalam forum bergengsi APEC di Beijing yang berkelas dunia; ketiga, Jokowi terbukti piawai memainkan langkah kuda yang sulit dibaca dalam penyusunan kabinetnya, Jokowi dengan cerdas berkelit dari "perangkap" partai politik dengan menggunakan tangan KPK menggugurkan unggulan partai politik yang dikhawatirkan jadi parasit dalam kabinetnya; keempat, fenomena penurunan harga BBM (sampai dua kali dalam waktu singkat) juga merupakan kecerdasan Jokowi, sehingga ke depan, harga BBM kelihatannya tak lagi menarik sebagai "maninan" politik karena harganya akan berfluktuasi.r/n/r/n/Dengan asumsi itu, rasanya mustahil bila Presiden Jokowi tidak bisa sebelumnya mencegah politisasi pengangkatan Kapolri. Rasanya terlalu naf bila Presiden tidak memiliki informasi lengkap dan up to date tentang calon pejabat tinggi Negara. Lantas kenapa disorongkan juga? Kekuatan mayoritas di DPR tidak kalah cerdik, sehingga bola panas yang diumpan ke DPR segera dioper kembali ke Presiden.r/n/r/n/Siapa sesungguhnya yang "membangun titian berakuk"? Titian adalah jembatan untuk menuju ke seberang, harus utuh dan kuat. Namun bila titian tersebut ada rakuknya di sebelah bawah, titian bisa patah bila dilewati. Runyamnya rakuk tak kelihatan dari atas. Peribahasa "membuat titian berakuk," bermakna jurus tipu muslihat untuk mencelakakan orang lain. Semoga titian berakuk itu hanya igau orang galau.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 406 kali
sejak tanggal 20-01-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat