drh. Chaidir, MM | Guruku Sayang Guruku Malang | ENGKU Solat (semoga arwahnya mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT), hanya tamat Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), tapi dalam usia yang masih sangat belia, dia menjadi guru Sekolah Rakyat di kampungku, di Pemandang dan di Tanjung Medan, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu, se
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Guruku Sayang Guruku Malang

Oleh : drh.chaidir, MM

ENGKU Solat (semoga arwahnya mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT), hanya tamat Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), tapi dalam usia yang masih sangat belia, dia menjadi guru Sekolah Rakyat di kampungku, di Pemandang dan di Tanjung Medan, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu, secara amat mengesankan. Dia dicintai murid dan disegani wali murid.

Engku Solat tentu saja tidak pernah belajar didaktik metodik - kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Tapi apa yang dilakukannya di depan kelas dalam proses belajar-mengajar, secara alamiah memenuhi kaidah standar pendidikan dan memenuhi ekspektasi masyarakat pada masanya. Anak-anak muridnya cepat belajar tulis-baca dan pandai berhitung, serta memiliki adab. Sehari-hari di luar sekolah, remaja Engku Solat dihormati oleh masyarakat.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1963, remaja itu harus berhenti mengajar. Engku Solat terdepak oleh Guru-guru Negeri yang memiliki ijazah formal KPG (Kursus Pendidikan Guru) dan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), dan tentu saja memiliki "bisluit" alias SK kepegawaian sebagai tanda guru pemerintah. Engku Solat tidak memiliki semua itu. Dia tidak punya "brevet" untuk berdiri di depan kelas. Dia hanya mendapatkan beras tiga kilogram sepekan, hasil iuran wali murid segenggam-demi-segenggam yang dikumpulkan setiap hari pekan oleh petugas sukarela.

Engku Solat kembali masuk hutan menyadap karet. Masyarakat kampungku merasakan kemudian, persyaratan formalitas tidak selamanya seiring sejalan dengan kualitas. Masyarakat kehilangan sosok seorang guru yang memiliki kompetensi alami sebagai seorang pendidik yang ada dalam diri Engku Solat. Tapi apa boleh buat era formalitas telah dimulai dan sampai sekarang semakin menjadi-jadi.

Tentu tidak semua guru Negeri kualitasnya pas-pasan. Tidak. Banyak guru yang punya ijazah formal memiliki kualitas yang bagus sebagai pendidik. Tetapi sayangnya sistem kita juga mendorong guru-guru terbaik ini naik pangkat secara teratur kemudian sampai pada pangkat tertentu, mereka tidak lagi bisa berdiri di depan kelas, mereka harus diberi jabatan struktural di Dinas Pendidikan. Guru-guru terbaik ini kehilangan kelas, tapi mereka dapat jabatan dengan berbagai fasilitas, termasuk menangani sejumlah proyek yang nilainya jutaan atau bahkan milyaran rupiah. Gaya hidup pun berubah.

Kita sedih mendengar 1.820 orang guru di daerah kita ini terkena sanksi diturunkan pangkatnya dan harus pula mengembalikan tunjangan yang sudah diterima akibat Penetapan Angka Kredit (PAK) bermasalah. Angka kredit itu diperoleh melalui karya ilmiah yang terindikasi palsu. Siapa yang salah, guru, calo, atau regulator? Kalau kita mau merenung secara jernih, sistem kitalah yang harus diperbaiki. Peraturan tak boleh disusun dengan perasaan dengki. Guru seyogianya tidak dituntut mempersiapkan karya ilmiah. Guru adalah tenaga pendidik yang profesional, bukan peneliti atau akademisi. Karya ilmiah itu mengada-ada.

Sayangnya, palu godam sanksi terlalu cepat dijatuhkan, tanpa keberpihakan, pembelaan, dan empati. Guru-guru tersebut mestinya bisa diminta menulis ulang karya ilmiahnya (bila masih perlu karya ilmiah juga). Atau diberi "PR" lain. Tidak dengan langsung menurunkan pangkat dan harus mengembalikan tunjangan yang sudah dimakan anak istri. Tapi apa hendak dikata, nasi sudah jadi bubur. Guruku sayang guruku malang. Aduhai....

kolom - Riau Pos 8 Pebruari 2010
Tulisan ini sudah di baca 1617 kali
sejak tanggal 08-02-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat