drh. Chaidir, MM | Belanda Tiga Suku | SETELAH Hanafi menjadi Belanda Tiga Suku dapatlah dia mengawini Corrie du Bussee. Kalimat itu bukan cuplikan dari novel percintaan, tapi ilustrasi dalam buku Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia karya Yus Badudu (2008). Siapa Hanafi dan siapa Corrie tentu menjadi tak penting. Yang menarik adalah Hanafi a
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Belanda Tiga Suku

Oleh : drh.chaidir, MM

SETELAH Hanafi menjadi Belanda Tiga Suku dapatlah dia mengawini Corrie du Bussee. Kalimat itu bukan cuplikan dari novel percintaan, tapi ilustrasi dalam buku Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia karya Yus Badudu (2008). Siapa Hanafi dan siapa Corrie tentu menjadi tak penting. Yang menarik adalah Hanafi adalah orang Pribumi Indonesia asli, sedangkan Corrie adalah seorang noni Belanda. Kalau bukan menjadi Belanda Tiga Suku, haram kan dapat Hanafi mempersunting Corrie.r/n/r/n/Belanda masih jauh tapi Jepang sudah dekat. Itu guyonan usang sebagai bentuk ekpresi "parno" traumatis bangsa Indonesia terhadap penjajah. Kolonialisme, dimana pun di planet ini sama saja, tak manusiawi dan tak adil. Oleh karena itulah bangsa Indonesia secara tegas menyebut dalam konstitusinya, bahwa penjajahan di atas bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.r/n/r/n/Sesungguhnya secara geografis Belanda lebih jauh daripada Jepang, artinya peluang Jepang untuk menjangkau dan kembali menduduki Indonesia akan lebih cepat dari Belanda. Tapi tak usah khawatir, keduanya secara fisik tak akan pernah lagi datang dengan maksud yang sama seperti dulu ketika Indonesia belum merdeka. Bangsa Indonesia sekarang tidak lagi bodoh.r/n/r/n/Dewasa ini umum dipahami, penjajahan di era modern tidak lagi "exploitation de l'homme par l'homme" (penghisapan manusia atas manusia lainnya), penjajahan konvensional seperti zaman VOC dulu. Penjajahan di era modern adalah penjajahan ekonomi, penjajahan teknologi atau penjajahan kebudayaan. Ada ketergantungan si lemah kepada si kuat. Tapi daya rusak penjajahan paradigma lama dan penjajahan dalam paradigma baru, sepertinya "setali tiga uang" alias sama saja, idem dito: pembodohan, pemiskinan, pelemahan, penghancur kemandirian, dan pembunuhan karakter.r/n/r/n/Neo kolonialisme alias penjajahan gaya baru itu merusak alam pikiran bawah sadar masyarakat, sehingga ada anggota masyarakat yang rela mengorbankan dirinya sendiri, keluarga dan bangsanya untuk sebuah loyalitas atau kebanggaan baru yang aneh, yang tak jelas bentuknya. Buaian fanatisme ekstrim dalam suatu aliran agama, politik, ekonomi, budaya dam teknologi misalnya, merupakan candu yang memabukkan.r/n/r/n/Dulu Belanda sangat pandai memainkan sentimen eksklusivisme masyarakat Indonesia, sehingga suatu ketika menyebut ada suku di Indonesia yang bukan termasuk bagian dari suku bangsa Melayu-Polinesia, mereka dianggap bukan orang Indonesia, tapi bagian dari provinsi Negeri Belanda. Bujuk rayu ini tentu saja memabukkan bahkan sangat memabukkan.r/n/r/n/Dalam keadaan sempoyongan tersebut, Belanda kemudian memainkan jurus yang paling mematikan, orang-orang Indonesia itu diberi pula hak untuk memperoleh kewarganegaraan Belanda dengan membayar formulir seharga seratus lima puluh sen atau seharga tiga suku (lima puluh sen = satu suku). Mereka yang membeli formulir hanya seharga tiga suku itu sertamerta disamakan haknya dengan orang Belanda asli. Mereka inilah yang dikenal dengan istilah Belanda Tiga Suku dan lebih loyal kepada negeri Belanda daripada orang Belanda itu sendiri.r/n/r/n/Hanafi tentulah sedikit dari orang Indonesia yang menjadi warga negara Belanda setelah membeli formulir seharga tiga suku itu. Tentu, hanya segelintir orang Indonesia yang mau "diracun" oleh Belanda untuk menjadi Belanda Tiga Suku.r/n/r/n/Belanda Tiga Suku sekarang mungkin sudah tidak ada lagi, sudah masuk bilik sejarah. Tapi sebagai mentalitas, Belanda Tiga Suku itu sekarang masih tetap hidup dalam berbagai rupa dan manifestasi, bahkan terkesan justru semakin membiak terutama dengan semakin menggilanya syahwat aktualisasi diri. Jangan-jangan kita pun Belanda Tiga Suku. Alamaaak...

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 429 kali
sejak tanggal 12-01-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat