drh. Chaidir, MM | Salam Pisang Rebus | RAPAT bersama Wamenkeu Prof Mardiasmo di Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat siang (12/12/2014) pekan lalu, bagi saya adalah
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Salam Pisang Rebus

Oleh : drh.chaidir, MM

RAPAT bersama Wamenkeu Prof Mardiasmo di Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat siang (12/12/2014) pekan lalu, bagi saya adalah "sesuatu" dan meninggalkan kesan. Kesederhanaan dan kerendahan hati sang Profesor sebagai cerminan budaya Jawa "kampus desa" Bulaksumur UGM yang terasa kental melekat, itu biasa. Yang tidak biasa itu adalah hidangan konsumsi rapatnya.r/n/r/n/Ada gado-gado yang dihidangkan dalam bungkus biasa, ada pisang rebus, ada ubi jalar dan kacang tanah rebus. Dalam piring lain ada irisan semangka, pepaya dan mangga lokal. Jujur, hidangan rakyat yang dikemas rapi itu terasa alami, nikmat dan lezat. Entah karena saya sudah lama tak pernah mengikuti rapat di Kementerian Keuangan, terakhir ketika mendampingi Gubernur Rusli Zainal rapat bersama Menteri Keuangan DR Sri Mulyani tujuh tahun lalu, atau karena sekarang di era Presiden Jokowi memang ada perubahan suasana dan cita rasa.r/n/r/n/Sabtu pagi (13/12) sehari pasca rapat bersama Wamenkeu tersebut, di salah satu restoran hotel berbintang lima di kawasan Jalan Thamrin Jakarta Pusat, saya menemukan kejutan lain ketika sarapan pagi. Ada menu lain dari biasanya, yakni hidangan rakyat pisang rebus sebagai dessert (makanan cemilan penutup). Padahal lazimnya, di hotel-hotel seperti itu hidangan tetapnya berstandar internasional seperti American breakfast, Japanese food, Indian food, roti gandum import, corn flake import, keju impor dari Belanda dan Italia, buah zaitun, dan sebagainya yang serba import.r/n/r/n/Menu kampung di hotel berbintang di Jakarta itu serta merta membawa ingatan saya ketika berada di Bangkok, Thailand, dalam sebuah kunjungan pada 2001 silam. Suatu hari ketika sarapan pagi di restoran hotel dengan kelas yang sama, saya menemukan menu ubi singkong rebus yang diseduh dengan gula merah cair kental dalam deretan hidangan dessert menu internasionalnya. Ubi seperti itu penganan yang biasa di kampung kita.r/n/r/n/Masih di Thailand, dalam beberapa pertemuan di instansi pemerintah yang saya ikuti ketika itu, hidangan konsumsinya adalah irisan buah-buahan lokal (jambu bangkok, mangga bangkok, semangka bangkok, lengkeng bangkok, dan sebagainya). Tentu saja semua serba Bangkok, karena buah-buahan lokal tersebut adalah produk domestik Thailand kualitas ekspor yang sangat populer dengan merek dagang buah-buahan Bangkok, dan digemari di Indonesia.r/n/r/n/Hasil pertanian rakyat yang dikemas dan dihidangkan secara "rancak" di instansi pemerintah dan di hotel-hotel berbintang, dan menjadi konsumsi dalam berbagai rapat, tidak hanya akan menaikkan gengsi produk pertanian lokal dan meningkatkan permintaan terhadap hasil pertanian rakyat kita, serta menggerakkan ekonomi rakyat kita, tapi mengandung pesan sekaligus. Pertama, secara nyata merupakankan manifestasi budaya hidup hemat dan sederhana; kedua, makanan rakyat rebus-rebusan itu sehat; dan ketiga, akan menjadikan hasil pertanian rakyat kita menjadi tuan di negeri sendiri. r/n/r/n/Apa yang mulai kita lakukan sekarang sebagai konsekuensi sebuah negeri agraris, Thailand sudah lama melakukannya. Tidak sulit sesungguhnya, hanya perlu great commitment (komitmen yang hebat) agar pemerintah dan seluruh stakeholder pertanian serius bekerja keras meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian rakyat kita untuk memenuhi permintaan. Dan tentu, melawan godaan hidup bermewah-mewah dengan hasil pertanian dan buah-buahan impor. Salam pisang rebus!

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 414 kali
sejak tanggal 15-12-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat