drh. Chaidir, MM | Belanda Sawo Matang | FRASA
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Belanda Sawo Matang

Oleh : drh.chaidir, MM

FRASA "Devide et impera" mungkin tak populer di kalangan generasi gadget sekarang. Tapi istilah itu umum ditemukan dalam sejarah masa silam negeri nusantara ini ketika berada di bawah penjajahan Belanda. Selanjutnya istilah tersebut banyak ditemukan dalam buku-buku sejarah nasional Indonesia. "Devide et impera" artinya politik adu domba alias politik pecah belah.r/n/r/n/Divide et impera adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil sehingga lebih mudah ditaklukkan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.r/n/r/n/Lihatlah catatan sejarah perlawanan terhadap penjajah di berbagai daerah di nusantara ini, seperti misalnya, Perang Saparua, Maluku (1817) di bawah pimpinan Pattimura dan Perang Padri (1821 1837) di Sumatera Barat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Di Jawa muncul pula Perang Diponegoro (18251830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, didukung oleh Kyai Maja, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, dan Pangeran Mangkubumi. Di Aceh ada Perang Aceh (1873 1904) yang melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Teuku Ibrahim, dan Teuku Umar. Tokoh perlawanan dalam Perang Banjar, Kalimantan (1858 1866) adalah Pangeran Prabu Anom, Pangeran Hidayat, dan Pangeran Antasari. Perlawanan para pejuang ini umumnya disiasati oleh Belanda dengan siasat devide et impera sehingga satu persatu mereka tundukkan.r/n/r/n/Siasat adu domba ini sesungguhnya berasal dari tradisi adu domba sungguhan. Tradisi mengadu atau melaga dua ekor domba merupakan salah satu kesenian khas rakyat jawa barat yang sudah berurat berakar dan banyak digemari, terutama di kalangan tradisional. Kesenian ini merupakan peninggalan leluhur yang masih bertahan eksistensinya hingga saat ini. Pada intinya, adu domba adalah ajang pamer ketangkasan hewan ternak domba yang pada akhirnya akan menaikkan gengsi pemilik atau perkumpulan ternak tersebut.r/n/r/n/Hadiah pertandingan adu domba yang diperebutkan juga tidak sembarangan, bisa berupa mobil, sepeda motor, atau sejumlah uang yang cukup besar. Oleh karena itu tidak mengherankan bila harga seekor domba aduan bisa mencapai puluhan juta rupiah, apalagi domba yang memiliki reputasi bagus dalam adu ketangkasan.r/n/r/n/Adu ketangkasan seperti ini lazimnya diiringi dengan perjudian yang meliputi nilai yang jumlahnya tidak dapat dibilang kecil. Kenyataan ini membuat Raja dangdut Rhoma Irama galau, dan kegalauan itu diekspresikannya dengan mencipta lirik lagu Adu Domba.

kolom - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 434 kali
sejak tanggal 02-12-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat