drh. Chaidir, MM | Salam Gigit Jari | SALAM satu atau dua jari sudah umum. Salam tiga jari juga biasa, bahkan salam lima jari pun tak mengapa. Salam dengan simbol jari seperti itu mudah dipahami tua muda dan tak pula sulit diperagakan, anak kecil juga bisa.  Tapi salam gigit jari? Luka di jari tertusuk duri, obatnya mudah dicari, tapi l
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Salam Gigit Jari

Oleh : drh.chaidir, MM

SALAM satu atau dua jari sudah umum. Salam tiga jari juga biasa, bahkan salam lima jari pun tak mengapa. Salam dengan simbol jari seperti itu mudah dipahami tua muda dan tak pula sulit diperagakan, anak kecil juga bisa. Tapi salam gigit jari? Luka di jari tertusuk duri, obatnya mudah dicari, tapi luka dalam dada, susah diduga.r/n/r/n/Begitulah kira-kira perasaan pencinta tim nasional sepakbola Indonesia melihat penampilan timnas PSSI dalam babak penyisihan Piala AFF 2014 di Vietnam pekan lalu. Marah, jengkel, kecewa, campur aduk jadi satu. Masalahnya, timnas di bawah pelatih Alfred Riedl ini memasang target tinggi: Juara Piala AFF 2014. Ekspektasi penggemar sepakbola di tanah air pun melambung tinggi, seiring optimisme Riedl.r/n/r/n/Riedl dianggap bertuah karena pernah membawa timnas Indonesia ke babak final Piala AFF 2010 setelah tidak terkalahkan dalam tiga pertandingan babak penyisihan dan dua pertandingan babak semifinal. Dalam pertandingan akhir babak final (leg kedua, 29/12/2010) di Jakarta, timnas Indonesia menang 2-1 melawan musuh bebuyutannya, Malaysia, namun gagal meraih mahkota juara karena dalam pertandingan tandang sebelumnya (leg pertama, 26/12/2010) di Kuala Lumpur, Indonesia kalah 0-3. Kambing hitam kekalahan di Kuala Lumpur ketika itu adalah sinar laser yang menyilaukan mata kiper Markus Horison. r/n/r/n/Hasil Piala AFF 2014? Apa hendak dikata, maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Jangankan juara, masuk babak semifinal pun tidak. Timnas Indonesia bahkan dipermalukan 0-4 oleh Filipina, sebuah tim yang seumur-umur belum pernah menang lawan Indonesia.r/n/r/n/Sebenarnya, dilihat dari skor pertandingan, capaian timnas PSSI tidaklah buruk amat. Indonesia bisa menahan tuan rumah Vietnam 2-2 dalam pertandingan pembuka, kemudian kalah 0-4 dari Filipina dan melibas Laos 5-1 dalam pertandingan penutup. Tapi melihat penampilan timnas PSSI melawan Vietnam dan Filipina, siapapun akan mengatakan, Indonesia bermain tanpa pola, kecuali pola "jadul" dan pertandingan "tarkam".r/n/r/n/Pola yang diterapkan timnas PSSI terasa katinggalan zaman, begitu dapat bola langsung umpan lambung ke depan, demikian berulang-ulang dilakukan. Umpan-umpan antar pemain buruk, selalu salah umpan, dan itu kesalahan-kesalahan elementer yang sebenarnya tak boleh dilakukan oleh seorang pemain nasional. Untung ada sitawar sidingin Evan Dimas dalam pertandingan terakhir melawan Laos.r/n/r/n/Dilihat dari pola permainan, timnas Indonesia U-19 kendati gagal di Myanmar Oktober lalu, lebih baik dan lebih menjanjikan daripada timnas senior. Penguasaan bola timnas U-19 dengan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki mengalir lebih hidup, kelemahannya Timnas U-19 tidak memiliki goal-getter.r/n/r/n/Namun selalu ada hikmah. Piala AFF 2014 memberi sinyal, ISL sebagai kasta tertinggi sepakbola Indonesia belum memberi dampak pada peningkatan prestasi timnas. Ke depan, pemain asing nampaknya harus lebih selektif. Pemain naturalisasi belum tentu handal. Kita harus memiliki banyak pelatih hebat di semua level kompetisi yang tidak hanya mampu melatih secara teknik dan strategi, tetapi juga mampu membina mental para pemain. Atau selamanya pencinta sepakbola kita akan saling menyapa dengan salam gigit jari. Sakitnya tuh di sini.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 398 kali
sejak tanggal 01-12-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat