drh. Chaidir, MM | Don Quixote | TUAN yang satu ini, Don Quixote namanya, baca saja Don Kisot daripada repot, sangat terobsesi menjadi seorang kesatria seperti Amadis dalam cerita kepahlawanan abad pertengahan, Amadis de Gaul, yang sudah berulangkali dibacanya dan sangat menyita perhatian serta memengaruhi alam pikirannya.r/n/r/n/D
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Don Quixote

Oleh : drh.chaidir, MM

TUAN yang satu ini, Don Quixote namanya, baca saja Don Kisot daripada repot, sangat terobsesi menjadi seorang kesatria seperti Amadis dalam cerita kepahlawanan abad pertengahan, Amadis de Gaul, yang sudah berulangkali dibacanya dan sangat menyita perhatian serta memengaruhi alam pikirannya.r/n/r/n/Don Quixote adalah seorang bangsawan tua jomblo yang jatuh miskin, akibat gemar mengoleksi buku-buku roman kesatria abad pertengahan, dengan menjual tanah-tanah warisannya. Buku-buku roman itu, yang memenuhi seluruh ruang pustaka pribadinya, telah membuat Quixote sakit otak. Tubuhnya benar ada di tanah pertaniannya di La Mancha, Spanyol, tetapi pikirannya berada jauh di masa lampau di abad pertengahan.Kegilaan Quixote itu menyebabkan dia dihinggapi sindroma penyakit kejiwaan yang dikenal dengan istilah delusi; gejalanya, seseorang memegang dengan kuat keyakinannya terhadap sesuatu namun tidak akurat, tidak memiliki dasar dalam realitas. Ia memimpikan kejayaan yang tak kunjung didapat sampai ia tua renta. Cerita heroik mengenai kesatria berbaju ketopong besi (baju zirah, baju perang), menyelamatkan putri, dan mengalahkan monster tiba-tiba menjadi obsesinya. Ia pun terobsesi menjadi seorang kesatria. Dalam sakit otaknya, namun didasari hatinya bersih dan murni, Quixote bertekad untuk membela kebenaran dan keadilan bagi mereka yang tertindas, teraniaya, dan tak berdaya.r/n/r/n/Maka dengan berbaju ketopong besi warisan nenek moyangnya, dan menunggangi keledai ditemani pembantu setianya, Sancho Panza, seorang budak yang direkrutnya, Quixote mulai mengembara dengan perasaan sebagai seorang kesatria. Ia mengelilingi negeri, mencari musuh pengganggu, mencari monster untuk ditaklukkan atau putri untuk diselamatkan. Saking menggebu-gebunya "kesatria" ini, ia salah menganggap bangunan kincir angin sebagai monster. Sancho yang dungu saja tahu bahwa itu bukan monster, dan sudah berusaha mengingatkan kekhilafan tuannya, namun apa daya, Quixote terlalu keras kepala. Quixote menyerang kincir angin tersebut dan tentu saja dia beserta keledainya membentur dinding beton dan jatuh terguling-guling.r/n/r/n/Don Quixote, lengkapnya Don Quixote de la Mancha, adalah novel legendaris Spanyol (terbit 1605), karya pujangga Miguel de Cervantes. Don Quixote menjadi tokoh utama novel satir tersebut.r/n/r/n/Cervantes sudah jauh lelap dalam tidurnya yang abadi, namun boleh jadi tersenyum menyaksikan, bahwa imajinasinya yang kuat dalam tokoh Don Quixote, berabad-abad kemudian ternyata tidak meleset. Penyakit delusional itu telah menjadi penyakit keturunan yang melintasi zaman, benua, samudera dan selat. Dan itu terasa ketika rahim Bumi Lancang Kuning banyak melahirkan Don Quixote Don Quixote modern yang juga memiliki obsesi menjadi seorang kesatria.r/n/r/n/Tapi tak mengapa, tak perlu bersedih, kata Don Quixote menghibur Sancho, beginilah risiko pertempuran bagi ksatria kelana. Tak boleh menyerah. Lain hari lain peruntungan, maka jangan luntur terhadap cita-cita. Dan jangan meleset membedakan, mana monster dan mana bayang-bayang monster.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 408 kali
sejak tanggal 24-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat