drh. Chaidir, MM | Retorika Blak-blakan | PIDATO Presiden Jokowi dalam forum KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), di China National Convention Center, Beijing, ibukota Tiongkok, Senin (10/11) pekan lalu, menjadi topik hangat di dalam dan di luar negeri.  Presiden Jokowi tampil percaya diri berpidato tanpa teks menggunakan bahasa In
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Retorika Blak-blakan

Oleh : drh.chaidir, MM

PIDATO Presiden Jokowi dalam forum KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), di China National Convention Center, Beijing, ibukota Tiongkok, Senin (10/11) pekan lalu, menjadi topik hangat di dalam dan di luar negeri. Presiden Jokowi tampil percaya diri berpidato tanpa teks menggunakan bahasa Inggeris di depan 1500 peserta konferensi yang terdiri dari pimpinan Negara-negara anggota APEC, top pimpinan perusahaan (CEO) dan para diplomat dunia.r/n/r/n/Sebanyak 21 Kepala negara dari Asia-Pasifik hadir di Forum APEC tersebut. Termasuk, Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Presiden Tiongkok Xi Jianping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abee, Perdana Menteri Australia Tony Abbott, dan Presiden Vietnam Truong Tan Sang.r/n/r/n/Dari penampilannya, Jokowi tak terlihat dihinggapi kecemasan komunikasi alias demam panggung (communication apprehension), padahal ini untuk pertama kalinya Jokowi tampil berpidato di forum internasional dengan audien yang tidak tanggung-tanggung seperti di KTT tersebut. Demam panggung itu manusiawi. Sebab sang pembicara menyadari, ia dinilai oleh khalayak. Selalu ada perasaan takut salah, takut tak memenuhi harapan, khawatir khalayak tidak bersahabat, dan sebagainya. Penilaian dapat mengangkat dan menjatuhkan harga diri seorang pembicara. Bila seorang pembicara dihinggapi demam panggung, kepercayaan dirinya akan hilang, dan dia akan kehilangan pengaruh dan kredibilitas.r/n/r/n/Jokowi, kendati dicibir oleh beberapa kalangan di tanah air, forum KTT APEC dan pemimpin dunia memberikan apresiasi terhadapnya. Artinya, Jokowi tidak dihinggapi demam panggung, bahkan Jokowi disebut telah menguasai forum KTT. Jokowi dinilai piawai menyampaikan pokok-pokok pikirannya secara lugas. Pidato Jokowi dianggap menarik karena langsung menyentuh pokok persoalan dan tidak bertele-tele.r/n/r/n/Presiden Jokowi menggunakan strategi retorika blak-blakan, dan ini membuat sejumlah kepala Negara yang hadir dalam forum tercengang. Sebab, selama ini pidato seorang kepala Negara sarat dengan formalitas, seremonial, banyak basa-basi, tetapi tidak menjawab kebutuhan. Jokowi justru langsung ke pokok persoalan, sekaligus menjawab kebutuhan Forum KTT tersebut.r/n/r/n/Retorika adalah seni menggunakan bahasa secara efektif. Mengelaborasi YB Mangunwijaya, Jalaluddin Rakhmat (2008) menulis, bahwa retorika membebaskan Anda dari posisi budak; mengangkat Anda menjadi tuan dan puan. Dengan senjata, para tuan dapat menguasai tanah dan Negara. Dengan retorika, para pemimpin dapat menaklukkan hati dan jiwa.r/n/r/n/Kekuatan pidato Jokowi terletak pada dua hal seperti dinasihatkan John F. Kennedy, Presiden ke-35 AS, orator ulung teman seangkatan Bung Karno. Pertama, ambillah sebuah gaya yang cocok dengan Anda dan gunakanlah kata-kata yang biasa Anda pakai. Nasihat kedua, ingatlah pidato Anda mencerminkan diri Anda. Dan Jokowi kelihatannya menyadari, retorika blak-balakan itu memerlukan kejujuran dan kesederhanaan.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 391 kali
sejak tanggal 17-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat