drh. Chaidir, MM | Melayu Kopi Daun | SERIKAT dagang Belanda VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 di Amsterdam untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi di kepulauan nusantara, mencemooh orang-orang pribumi dengan julukan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Melayu Kopi Daun

Oleh : drh.chaidir, MM

SERIKAT dagang Belanda VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 di Amsterdam untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi di kepulauan nusantara, mencemooh orang-orang pribumi dengan julukan "Melayu Kopi Daun". Konon, orang-orang bule kompeni kerap menghardik, "Ya tuhan bodohnya kamu, dasar Melayu Kopi Daun".

Orang pribumi, yang ketika itu belum berpendidikan sama sekali, disuruh menanam kopi, hasil panen berupa biji kopi semuanya dimonopoli oleh kompeni, dibawa ke negeri Belanda untuk diperdagangkan di Eropa dengan laba berlipat ganda. Apa yang didapat oleh petani pribumi? Mereka hanya bisa menikmati daun kopi. Inilah yang kemudian ditertawakan oleh kompeni.

Kopi daun, yang kemudian dikenal di pedalaman Sumatera sebagai "Kopi Kawa" adalah minuman yang berasal dari seduhan daun kopi. Daun kopi ditusuk seperti sate, kemudian disinggang pada api tungku, setelah kering diremukkan dan direbus dalam cerek, dan kopi kawa itu siap dihidangkan. Rasanya aneh, jauh dari kenikmatan biji kopi.

Berabad-abad kemudian, cemoohan orang-orang VOC itu terasa mengena. Bangsa kita dihadapkan pada kenyataan, negeri kaya zamrud khattulistiwa ini, tanah yang subur untuk bercocok tanam, dan perut buminya kaya akan sumber daya alam bahan tambang, emas, tembaga, minyak, gas bumi, mineral, demikian pula potensi bahari yang sangat besar, tidak memberi kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Kekayaan sumber daya alam di atas tanah seperti kayu dan kebun, dikuasai dan dikelola oleh konglomerasi. Kekayaan bahan tambang di perut bumi, dikuasai dan dikelola oleh perusahaan multinasional asing berbekal keunggulan modal dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta jaringan bisnis. Hasil kekayaan alam yang berlimpah tersebut sebagian besar terbang ke luar negeri persis seperti fenomena "Melayu Kopi Daun" itu.

Bukankah di negeri ini banyak orang pintar? Pakar manajemen Peter Drucker menjawab, negeri ini salah urus, bukan karena tidak ada orang pintar. Itulah fenomenanya. Tak ada negeri yang tertinggal, melainkan negeri yang salah urus, begitu dalil Drucker. Indikasinya, setiap kali ganti pemerintahan, progam-progam pun berganti, kita selalu kembali ke kilometer nol. Budaya panjat pinang, politik belah bambu masih terjadi dimana-mana.

Pakar politik Huntington mendiagnosa, budaya organisasilah kambing hitamnya. Perilaku organisasi sangat menentukan kemajuan sebuah negeri. Itulah yang menjadi masalah utama kita; budaya berpikir, bersikap, berperilaku, budaya kerja, jauh dari memadai untuk dapat disebut produktif.

Kini, pemerintahan baru Presiden Jokowi-Wapres JK diberitakan mulai giat cari investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia (Riau Pos, Ahad 9/11/2014). Tapi bila transformasi budaya untuk mengubah perilaku masyarakat dan seluruh stakeholder hanya sekadar penghias bibir, selamanya kita tetap akan jadi penonton dan harus rela dijuluki Melayu Kopi Daun. Alamaaak..

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 492 kali
sejak tanggal 10-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat