drh. Chaidir, MM | Ronggeng Politik | PANGGUNG politik di tanah air yang heboh alang kepalang dalam beberapa hari terakhir ini, tak ubahnya seperti panggung ronggeng. Menghibur namun memberi kesan pinggiran. Suasana panggung meriah seperti layaknya pertunjukan rombongan ronggeng yang menampilkan berbagai adegan hiburan musik rebab, gend
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ronggeng Politik

Oleh : drh.chaidir, MM

PANGGUNG politik di tanah air yang heboh alang kepalang dalam beberapa hari terakhir ini, tak ubahnya seperti panggung ronggeng. Menghibur namun memberi kesan pinggiran. Suasana panggung meriah seperti layaknya pertunjukan rombongan ronggeng yang menampilkan berbagai adegan hiburan musik rebab, gendang dan gong, dengan beberapa penari perempuan profesional yang bergincu tebal.

Di panggung ronggeng, para penari profesional perempuan ini diharapkan mengundang beberapa penonton laki-laki untuk menari dengan mereka sebagai pasangan dengan memberi uang tips (saweran) untuk sang penari perempuan. Saweran diberikan selama atau setelah tarian. Para penari perempuan biasanya tampil dengan gerakan-gerakan erotis lengkap dengan kerlingan profesional memabukkan.

Panggung ronggeng itu kini susah dicari. Tapi jangan kecewa, ada panggung politik sebagai ganti. Dalam segi kualitas tontonan, panggung ronggeng atau panggung politik kita terkini, sama saja, kesannya pinggiran atau low context, namun dari segi perangai politik tentu saja menarik untuk ditinjau dari kajian sosiologis. Pemain panggung parlemen itu adalah para politikus kita di DPR. Mereka “menari-nari” dengan profesional mempertontonkan kebolehannya bermain politik; terampil bermanuver dan bersilat lidah. Mereka umumnya politikus profesional, dalam arti, mereka memang orang-orang yang berkeringat politik dan dibesarkan oleh bau apak panggung politik, merangkak berjenjang dari bawah.

Dengan demikian para politikus kita yang eksis di panggung politik DPR itu adalah politikus yang sudah terpola pemikirannya, right or wrong is my party (mau salah mau bener pokoke partaiku). Dalam bangunan berpikir demikian para politikus partai tentu saja berbicara kepentingan. Mereka tak lagi berpikir common sense (logika umum). Maka jangan heran, bila lembaga legislatif tersebut seringkali mengambil keputusan yang menabrak logika umum,

Siapapun akan geleng-geleng kepala menyaksikan apa yang terjadi di DPR kita dewasa ini. Belum pernah terjadi seumur-umur dalam sejarah kancah perpolitikan negeri ini, ada DPR tandingan di luar sistem ketatanegaraan. Pertanyaannya, elit politik kita semakin dewasakah berpolitik atau barangkali benar seperti tudingan Presiden Gus Dur di awal reformasi lima belas tahun silam, DPR itu seperti taman kanak-kanak.

Jujur, rasanya negeri ini memerlukan educated politician – politikus terpelajar (tidak hanya yang bersekolah tinggi). Politikus terpelajar tentulah ia politikus intelektual. Politikus intelektual selalu menjaga integritasnya. Atau memang tidak ada intelektual di panggung politik, karena mereka takut dituduh berkhianat seperti disebut filsuf dan novelis kritis Prancis, Julien Benda (1927), seorang intelektual yang bercampur atau menjadi bagian dari politik atau kekuasaan, ia telah berkhianat. Pantaslah panggung parlemen kita mirip panggung ronggeng.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 450 kali
sejak tanggal 03-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat