drh. Chaidir, MM | Awal Revolusi Mental | REVOLUSI mental dimulai dengan terbentuknya Kabinet Kerja 2014-2019. Kalau ada yang berpikir para Menteri tersebut akan memasuki wilayah nyaman (comfort zone) setelah diangkat jadi Menteri Kabinet, konstruksi berpikir seperti itu agaknya perlu dievaluasi, atau disarankan lebih banyak lagi melakukan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Awal Revolusi Mental

Oleh : drh.chaidir, MM

REVOLUSI mental dimulai dengan terbentuknya Kabinet Kerja 2014-2019. Kalau ada yang berpikir para Menteri tersebut akan memasuki wilayah nyaman (comfort zone) setelah diangkat jadi Menteri Kabinet, konstruksi berpikir seperti itu agaknya perlu dievaluasi, atau disarankan lebih banyak lagi melakukan kominukasi intrapersonal.

Sebab, para Menteri anggota Kabinet Kerja ini sesungguhnya akan memasuki wilayah tidak nyaman. Secara ekstrim para Menteri anggota Kabinet Kerja ini, bolehlah disebut akan memasuki "ladang pembantaian" (killing field). Betapa tidak. Para Menteri akan menghadapi sekurang-kurangnya tiga medan pertempuran. Pertama, rakyat Indonesia menaruh ekspektasi besar terhadap Kabinet Kerja ini untuk membantu mereka keluar dari berbagai tekanan kehidupan. Rakyat kini sudah cerdas untuk memiliki sebuah kesadaran, bahwa harusnya mereka memperoleh lebih baik lagi dari apa yang telah meraka dapatkan selama ini. Kabinet yang dibentuk dengan semangat idealisme tinggi Presiden Jokowi akan merasakan tekanan beban yang sangat berat.

Kedua, Kabinet ini harus mengeluarkan segenap kemampuan komunikasi politik untuk menggolkan anggaran bagi mendukung program kerjanya di DPR. Sebab mereka akan berhadapan dengan Koalisi Merah Putih yang mendominasi parlemen, yang secara terbuka telah mengambil posisi beroposisi. Memang para petinggi KMP sudah memberikan semacam garansi dalam berbagai komentar di berbagai kesempatan, bahwa KMP akan mendukung bila program yang disusun berpihak untuk kepentingan rakyat. Sebaliknya, bila dianggap tidak berpihak kepada kepentingan umum, maka "pisau" pemangkas anggaran akan bekerja cepat. Tapi, sikap KMP tersebut bukan berarti Kabinet Kerja akan mudah meyakinkan DPR. Sebab, menyamakan persepsi terhadap tujuan sebuah program sesungguhnya gampang-gampang sulit.

Ketiga, Anggota Kabinet Kerja tentu harus sungguh-sungguh memahami dan memaknai revolusi mental yang sejak awal telah digaungkan oleh Presiden Jokowi. Apa yang dilakukan Presiden Jokowi dengan meminta konfirmasi ke KPK misalnya, memberi indikasi perubahan sikap mental yang diharapkan oleh Presiden Jokowi tidak hanya sekedar political will, tetapi dimaksudkan sebagai political power sang Presiden. Para Menteri tidak hanya berhadapan dengan DPR dan rakyat yang setiap hari menuntut percepatan dan keadilan pembangunan, lebih dari itu, selain program yang menyejahterakan rakyat, para Menteri harus terdepan pula dalam memberikan keteladanan.

Para Menteri dituntut untuk menjadi pemimpin perubahan (change leader), yakni pemimpin yang meninggalkan sikap berleha-leha, nyaman (enjoy) dengan kedudukan dan fasilitasnya, dan bekerja apa adanya saja (business as usual). Para Menteri dituntut untuk berpikir dinamis, kreatif dan kemudian menjadi inovatif. Ada perubahan mindset yang jelas, dari sebelum-sebelumnya inbox thinking, menjadi sekarang outbox thinking. Revolusi mental tersebut secara sederhana harus tercermin dalam kesederhanaan namun memiliki etos kerja yang tinggi, semangat kerja yang tinggi, kerjasama yang kuat (cohesiveness), dan koordinasi yang kuat. Manifestasinya terlihat pada tatakelola yang baik pada sisi pemerintahan, di sektor swasta dan di masyarakat itu sendiri, serta menurunnya angka korupsi. Selamat bertugas Pak Menteri.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 460 kali
sejak tanggal 27-10-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat