drh. Chaidir, MM | Salam Dua Matahari | TANPA kokok ayam jantan sekalipun, hari  ini Jokowi-JK dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Pasangan Capres-Cawapres yang mengusung jargon
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Salam Dua Matahari

Oleh : drh.chaidir, MM

TANPA kokok ayam jantan sekalipun, hari ini Jokowi-JK dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Pasangan Capres-Cawapres yang mengusung jargon "Salam Dua Jari" ini secara resmi menjadi nakhoda baru "kapal induk" Indonesia selama lima tahun ke depan. Pengucapan sumpah/janji Jokowi-JK tidak bisa dimungkiri, menjadi titik kulminasi berbagai kontroversi peristiwa politik selama "tahun politik 2014" yang hingar bingar dan sarat dengan isu liar.

Tapi yang lalu biarlah berlalu. Bahkan Perang Dunia pun ada akhirnya. "Oblivione sempiterna delendam" ujar filsuf Cicero setelah kaisar Julius Caesar menaklukkan Roma. "Biarlah masa silam yang kelam itu tenggelam dalam tidurnya yang abadi." Apalagi, kompetisi pemilihan presiden dalam era demokratisasi sekarang, taklah layak dibandingkan dengan peristiwa sejarah seperti Perang Dunia dan penaklukan Romawi itu. Pilpres adalah sebuah peristiwa yang biasa saja dalam sebuah negeri yang berdemokrasi. Bangsa Indonesia baru tiga kali melakukan pilpres secara langsung (2004, 2009 dan 2014).

Oleh karena itu, bila dalam pilpres 2014 terdapat kekurangan, hal itu harus dimahfumi. Dari berbagai pemberitaan yang kita ikuti, pilpres 2014 mendapat apresiasi dari berbagai Negara maju. Pilpres langsung Indonesia dipahami memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi. Sebab, Indonesia merupakan Negara dengan penduduk kedua terbesar di dunia, setelah AS, yang melakukan pilpres langsung dalam pemerintahan presidensil. Dengan populasi penduduk yang tersebar di ribuan pulau dan secara heterogen terdiri dari aneka macam etnis dan agama, dengan jaringan infrastruktur transportasi belum merata, Indonesia jauh lebih sulit dibanding AS. Disparitas (kesenjangan) sosial ekonomi dan pendidikan yang menganga lebar antara sebagian penduduk terdidik di perkotaan dengan penduduk lainnya di pedalaman, adalah kesulitan lain yang tidak kalah pentingnya. Kesenjangan sosial tersebut tak terdapat di AS.

Namun demikian bukan berarti kita permissive terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Kemenangan Jokowi-JK bukanlah berarti menutup semua kasus yang berhubungan dengan pelanggaran pilpres 2014 (dari kedua belah pihak). Pelanggaran yang memiliki dalil-dalil pidana tentu harus tetap diproses dengan menjunjung tinggi supremasi hukum.

Betapa pun kita memasuki sebuah era baru. Harapan tinggi digantungkan pada dwi-tunggal Jokowi-JK. Ada asa, ada perasaan harap-harap cemas. Sebab kiprah Jokowi sebagai pemimpin, secara nyata baru dirasakan oleh warga Solo dan DKI Jakarta, selebihnya baru sampai pada tahap terpesona dan jatuh hati dengan gaya kerakyatan Jokowi. Sebagai Presiden terpilih, Jokowi tentu saja menjadi matahari bagi bangsa Indonesia. Pada sisi lain, sedikit banyak bangsa Indonesia sudah mengenal kelincahan dan kecepatan sang Wapres JK. JK telah mempertontonkan semasa menjadi Wapres bagi Presiden SBY (2004-2009), JK adalah juga matahari. Tentu menarik menanti kiprah Wapres JK di era Presiden Jokowi.

Namun tentu saja tidak adil bila secara dini kita menghakimi dan mendikotomikan kemungkinan ada dua matahari di pucuk pimpinan: Presiden Jokowi dan Wapres JK. Dua matahari tak buruk bila dipandang secara positif. Bukankah dua matahari akan lebih terang sinarnya daripada satu matahari? Selamat berbakti Presiden Jokowi Wapres JK. Salam dua matahari. Syabas.

kolom - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 478 kali
sejak tanggal 20-10-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat